MEUREUHOM DAYA, DALAM CATATAN SEJARAH LOKAL

Pendahuluan
Dalam filsafat sejarah yang ingin ditelusuri adalah jawaban atas pertanyaan mengenai makna dari proses sejarah. Tradisi manusia yang tidak pernah puas dengan pengetahuan sejarah sehingga berusaha mencari makna di balik peristiwa sejarah. Di samping itu juga berusaha dicari simpul-simpul dari suatu fakta sejarah untuk sampai kepada asal dan tujuannya.
Suatu peristiwa sejarah baru akan memiliki makna apabila ditinjau dengan pandangan jauh ke depan atau dengan ekspektasi terwujudnya masa depan. Pengungkapan sejarah seperti ini adalah pengungkapan sejarah dalam konteks sejarah sebagai tradisi lisan dan tulisan (naskah). Dengan demikian peran penting yang dimiliki oleh kedua tradisi dalam masyarakat ini dapat menjadi dasar dalam pengungkapan aspek kesejarahan maupun pengungkapan dari suatu fakta sejarah.
H.P.R Finberg, seorang sejarawan dan dikenal sebagai pendiri Mazhab Leicester mengatakan, tujuan sejarah lokal adalah pengungkapan asal-usul, pertumbuhan, kemunduran, dan kejatuhan dari suatu kelompok masyarakat lokal. Berangkat dari pemahaman ilmu sejarah sebagai ilmu dari suatu “kemungkinan-kemungkinan”, seperti yang dikatakan oleh sejarawan Vansina. Maka belum ada suatu finalisasi mengenai pengungkapan negeri Daya selama masih diperoleh sumber-sumber baru yang dapat diungkapkan dan dipertanggungjawabkan secara akademik. Namun sejauh ini baru diperoleh sumber yang tercatat, seperti tulisan Arab Jawi yang terpahat pada prasasti batu nisan Putri Hur dan catatan-catatan lokal sejarawan lokal yang dapat membantu trek penelusuran ini.
Penelusuran ini dilakukan untuk pengungkapan fakta-fakta mengenai negeri Daya yang merujuk kepada sumber-sumber yang tersedia, antara lain; Hikayat Aceh, Bustanussalatin, Nagara Kertagama, Meureuhom Daya, dan inskripsi pada nisan Siti Hur yang sedikit tidak dapat menjelaskan “Daya”.
Gle Kandang dan Kandang Poteumeureuhom
Menelusuri jejak sejarah lokal negeri Daya, seperti belum lengkap rasanya jika tidak menjejakkan kaki terlebih dulu di Kompleks Makam Poteumereuhom yang disebut Gle Kandang. Gle Kandang terletak di atas sebuah bukit berundak dengan tatakan 99 anak tangga di Gampong Gle Jong, Kemukiman Kuala Daya, Kecamatan Jaya, Kabupaten Aceh Jaya, Provinsi Aceh. Kompleks makam ini juga disebut juga oleh masyarakat dengan nama Kandang Poteumeureuhom. “Kandang” di dalam konteks keacehan merupakan suatu kompleks pemakaman, seperti juga yang dikenal di kerajaan Aceh Darussalam yaitu “Kandang Aceh”, “Kandang Meuh”, “Kandang Duabelas”, ataupun “Kandang Pirak” di kompleks pemakaman raja-raja di Aceh.
Jika diamati di Kompleks Makam Raja Negeri Daya di Gle Kandang, selain makam Poteumeureuhom juga terdapat beberapa batu nisan dengan Batee Aceh yang kemungkinannya terdiri dari raja, permaisuri, anak, serta kerabat Dalam. Di antaranya Sultan Alaidin Riayatsyah, Uzir, Siti Hur serta beberapa makam lainnya. Di Batu Aceh di kompleks pemakaman Poteumeureuhom Daya, terdapat prasasti pada nisan Siti Hur yang paling indah dan masih dapat dibaca karena berhuruf arab jawi. Dari sana diketahui bahwa Siti Hur adalah anak perempuan dari raja Daya Sultan Alaiddin Riayatsyah. Ia adalah permaisuri dari Sultan Ali Mughayatsyah penguasa pertama yang menyatukan Kesultanan Aceh Darussalam
Di Gle Kandang saat ini, selain nisan Batu Aceh dan sebuah guci tempat air wudhuk juga terdapat dua buah tempat peristirahatan para penzirah. Di tatakan tangganya terdapat dua buah “jambo peuniyoh” sebagai tempat istirahat para penziarah yang sudah berusia lanjut. Selain itu, di pelataran bawah terdapat sebuah bangunan balairung berbentuk rangkang. Selain itu tidak banyak lagi tersisa tinggalan arkeologis lainnya. Hal itu terjadi setelah daerah ini diluluhlantakkan gempa dan tsunami pada 26 Desember 2004.
Panorama bekas negeri Daya dari atas bukit Gle Kandang sangat indah. Terlihat hamparan luas menghijau persawahan dengan bukit-bukit kecil dan pegunungan di Utara negeri ini. Sedangkan di bagian Baratnya, menghampar biru Samudera Indonesia dengan pulau-pulau kecil di sekitarnya. Tempat ini sepertinya benar-benar merepresentasikan “persinggahan terakhir” sang raja yang luar biasa. Sekitar 500 meter dari kompleks Gle Kandang terdapat suatu daerah secara toponim bernama Kuta Dalam. Kuta Dalam identik dengan kompleks istana Kerajaan Daya. “Kuta” identik dengan “Benteng” atau “Perkampungan”, sedangkan “Dalam” adalah “Istana”,“Kompleks Kerajaan” ataupun “Keraton”. Namun tidak ada sedikit pun tinggalan arkeologis yang dapat menjelaskan secara faktual tentang hal tersebut. Bukti lain yang bersifat intangible sebagai tinggalan budaya masa lalu yang bertahan dan sangat unik dalam masyarakat Daya adalah upacara Peumeunap dan Seumuleueng.
Bentangan Geografis Negeri Daya
Secara geografis wilayah bekas kerajaan Daya terletak di suatu teluk yang dilindungi oleh beberapa pulau kecil di suatu dataran sempit yang dikelilingi oleh pegunungan. Pegunungan di daerah ini memiliki beberapa puncak, antara lain di bagian Utara terdapat Gle Geurute, Gle Manyang, Gle Teungoh, Gle Meuseugit, Gle Cuplek, Gle Cot Eumpee. Sedangkan di bagian Timur terdapat Gle Peulanteng, Gle Tului, Gle Macan dan di bagian Selatan terdapat Gle Seumadom, Gle Pangah, dan Gle Gunong Sa.
Bekas wilayah Kerajaan Daya temasuk lembah yang sangat subur karena merupakan hilir dari daerah aliran beberapa sungai, antara lain Krueng Lambeuso, Krueng Keuluang dan Krueng Unga. Daerah bagian Utara berbatasan dengan Kecamatan Lhoong dan Kecamatan Indrapuri Kabupaten Aceh Besar. Sedangkan di bagian Timur dan Selatannya berbatasan dengan Kecamatan Sampoiniet Kabupaten Aceh Jaya. Sedangkan di bagian Barat merupakan Samudera Indonesia dengan beberapa pulau kecil di mana sepertiga wilayahnya merupakan perbukitan.
Daerah ini merupakan dataran sempit dan berawa-rawa. Di mana sebagian besar daerahnya merupakan pegunungan. Mayoritas penduduknya bermatapencaharian di bidang pertanian, selebihnya mengusahakan perdagangan, sedangkan sisanya bergerak di bidang perikanan laut dan rawa (tambak). Sampai saat ini, mereka secara kultural terintegrasi ke dalam empat wilayah Kerajaan Daya, yaitu; Lamno, Kuala Daya, Kuala Unga dan Keuluang.
Daya Dari Catatan Lokal
Tezet Abidin membagi dua periodisasi di negeri Daya; pertama masa pra-Islam, dan kedua masa Islam. Masa pra-Islam dimulai sekitar abad ke-5. Menurut beliau, pada masa itu di sana telah dikenal suatu negeri yang bernama Indra Jaya. Beliau mengatakan asal-usul Indra Jaya adalah migrasi dari keturunan raja di Aceh Besar yang menyingkir ke sana akibat serbuan armada laut Cina ke Panton Bie di negeri Seudu. Letak pusat negeri Indra Jaya diprediksi di antara Kuala Unga dan Pante Ceureumen sekarang. Daerah tersebut kini termasuk ke dalam Kemukiman di Kecamatan Jaya.
Marco Polo menyebutkan nama beberapa negeri yang ditemuinya ketika perjalanan kembali dari negeri Cina, di antaranya Lamuri, Pedir, Dagroian, Pasai, dan lain-lain. Ia berasumsi bahwa Dagroian identik sebagai Indra Jaya berdasarkan konteks pelafalan linguistik. Namun sepertinya ia agak menyangsikan karena setelah itu tidak ditemukan kontinuitas apalagi referensi tentang negeri tersebut pada periode selanjutnya hingga abad ke-7. Negeri ini seakan tenggelam dan tidak diketahui lagi dinamika pasang surutnya.
Di dalam urutan nama-nama negeri yang takluk kepada Majapahit seperti Nagarakertagama (1365) disebutkan toponim Tamiang, Perlak, Lamuri, dan Barat. Daerah-daerah tersebut terletak di provinsi Aceh sekarang. Barat disebutkan terletak di sebelah pesisir Barat Aceh yang dikenal dengan kerajaan Daya. Pada periode selanjutnya, Snouck Hurgronje menyebutkan batas Aceh Inti atau Aceh Lhee Sago menurut anggapan “ureung Aceh” bahwa adalah batas di pesisir Barat yang terletak di Keuluang. Sedangkan di Utara terletak di Krueng Raya. Daerah-daerah tersebut yang jika dihubungkan dengan garis imajiner akan bertemu di suatu titik segitiga di antara Rueng-Rueng (Grong-Grong), Panca dan Jantho. Keuluang adalah salah satu negeri yang saat ini berada dalam bekas Kerajaan Daya. Jika merunut anggapan Snouck, maka dengan begitu Daya kemudian juga merupakan bagian dari integritas “inti Aceh” di tapal batas paling Barat wilayahnya.
Kawom Paghu Sebagai Penguasa Baru Indra Jaya
Menurut riwayat pada sekitar abad ke-15, di bekas negeri Indra Jaya bermigrasi kawom (trah) keluarga bangsawan dari Samudera Pasai. Mereka merupakan keturunan langsung dari Maharaja Bakoy Ahmad Permala Syah yang memerintah di Samudera Pasai pada tahun 1400-1428 M. Merekalah yang pertama membuka daerah ini dari hutan belantara. Salah seorang dari keturunan tersebut bergelar Datu Paghu yang memiliki tiga orang putera.
Ketika ketiga puteranya telah berusia dewasa, dia memerintah dan membagikan wilayah kepada masing-masing anaknya, yaitu; Pertama negeri Lamno langsung diperintahnya bersama putera bungsunya yang bernama Muda Perkasa. Kedua, negeri Kuala Daya termasuk Lambeuso diperintah oleh puteranya yang tertua Johan Pahlawan atau Syeh Johan. Ketiga, negeri Keuluang diberikan kepada Datu Pahlawan Syah. Datu Pahlawan Syah memiliki keberanian luar biasa dibandingkan ketiga anaknya yang lain. Di bawah kendali mereka, negeri-negeri ini berkembang dan menjadi terkenal setelah dua dasawarsa kepemerintahan mereka di sana. Negeri-negeri tersebut kemudian terkenal sebagai penghasil hutan, padi, dan Keuluang terkenal dengan hasil ladanya.
Pada masa pertengahan abad ke-15, negeri Keuluang telah mengadakan hubungan dengan Portugis, sehingga produk lada hitamnya dimonopoli oleh negeri Peringgi tersebut. Namun Portugis juga mulai menanamkan pengaruh dalam bidang politik di negeri tersebut, sehingga Datu Pahlawan Syah sendiri dianggap mengikuti kebudayaan mereka.
Siapa Sultan Shalatin Alaiddin Riayat Syah?
Meureuhom Daya merupakan gelaran lain yang diberikan oleh masyarakat lokal kepada Sultan Shalatin Alaiddin Riayat Syah. Selain itu, adapula yang menyebutkan dengan gelaran Chik Po Kandang. Asal-usul dari keturunannya yang dirunut pada prasasti batu nisan seorang putri. Prasasti itu berukir indah dan bertuliskan, “Siti Hur binti Sultan Alaiddin Riayatsyah ibni Raja Madat ibni Abdullah al Malik al Mubin”.
Berdasarkan prasasti batu nisan ini menjelaskan bahwa Sultan Alaidin Riayat Syah atau Meureuhom Daya adalah putera Raja Madat atau yang dikenal sebagai Sultan Inayat Syah. Sultan Inayat Syah adalah putera dari raja Malikul Mubin. Menurut sejarah, Sultan Inayat Syah pernah menjabat raja di Pidie dan kemudian menaklukkan Darul Kamal dan Kuta Alam. Kedua negeri ini terletak di Aceh Besar dan Banda Aceh sekarang. Sultan Inayat Syah disebutkan memiliki tiga orang putera, yaitu Sultan Muzaffar Syah yang mewarisi Darul Kamal. Selanjutnya Sultan Munawarsyah yang mewarisi Kuta Alam dan Sultan Alaiddin Riayatsyah yang menjadi raja di negeri Daya. Sedangkan nama dari dua orang puterinya tidak disebutkan. Ketiga raja tersebut tidak dijelaskan tahun kelahirannya dan siapa yang tertua di antara mereka. Hikayat Aceh menyebutkan bahwa Sultan Alaiddin Riayat Syah juga pernah menjadi raja di Kuta Madat, yang termasuk ke dalam teritorial negeri Pidie.
Raja Abdullah bin Malikul Mubin yang bergelar Sultan Inayat Syah yang mengetahui bahwa Portugis telah mulai menanamkan pengaruhnya di pantai Barat Aceh, khususnya di Daya merasa kuatir akan eksistensi hegemoninya. Pada masa raja inilah dilakukan ekspansi hegemoni ke negeri Daya yang kala itu masih bernama Indra Jaya untuk ditaklukkan. Setelah ditaklukkan oleh Sultan Abdullah bin Malikul Mubin, ia meninggalkan bekas negeri Indra Jaya kembali ke pusat pemerintahan. Selain itu ia juga mengkuatirkan Pidie dari pengaruh Portugis di bagian Utara Aceh di selat Malaka sehingga untuk menggantikan posisinya di sana, ditugaskan puteranya Sultan Alaiddin Riayatsyah yang saat itu sedang berada di Kuta Madat, Pidie. Ekspedisi kontrol hegemoni ke pesisir Barat Aceh tersebut untuk menjalankan misi; Pertama, mengintegrasikan kembali raja-raja kecil di bekas Indra Jaya yang sedang berseteru akibat adanya agitasi dari Portugis, dan mengusir bangsa Peringgi itu dari sana. Kedua, memperkuat kerajaan di pesisir Barat yang dinilai sudah melemah karena pengaruh dari kebudayaan asing sekaligus memperkuat kembali pengaruh Islam di sana.
Ekspedisi Sultan Alaidin Riayatsyah Ke Bekas Negeri Indra Jaya
Ekspedisi sebagai kontrol hegemoni dilakukan oleh Sultan Inayatsyah untuk menjalankan misi penaklukan kembali pesisir Barat Aceh khususnya ke bekas negeri Indra Jaya yang dikuasai keluarga Datu Paghu. Ia menugaskan langsung putranya Sultan Alaiddin Raiyat Syah ke sana. Ekspedisi tersebut tidak menggunakan jalur laut dikarenakan beberapa hal, antara lain untuk menghindari Portugis yang sudah menanamkan pengaruhnya di Keuluang. Akibatnya, rombongan Sultan Alaiddin Riayatsyah memutuskan untuk memotong kompas melalui jalur darat dengan cara merintis jalan menerobos hutan belantara dengan kekuatan sekitar 300 orang pasukan. Sebelumnya diutus dahulu 30 orang untuk merintis jalan dan membuat perlengkapan persenjataan di sana.
Menurut Hado Marjoni, ekspedisi rombongan ini dimulai dari Pasai terus melewati Pidie hingga sampai ke daerah yang bernama Kuta Madat. Setelah beranjak dari Kuta Madat, rombongan Sultan bertemu dengan beberapa orang penjual lada dari bekas negeri Indra Jaya. Mereka sedang memperhitungkan untung-rugi dari hasil perdagangan lada. Ketika ditanya oleh Sultan mereka menjawab sedang “keumire” (menghitung laba-rugi), sehingga tempat itu sekarang bernama Keumire di kabupaten Aceh Besar sekarang. Selanjutnya rombongan melewati gunung yang tinggi yang bernama Cot Eumpee, di sana Sultan meminum air dari dalam ruas bambu (pacouk) karena kehausan. Akhirnya Sultan sampai di pedalaman Indra Jaya di Krueng Inong daerah hulu Beureuha di Gampong Pante Ceureumen sekarang. Ketika sampai di Beureuha mereka berhadapan dengan pemimpin lokal yang bernama Tuan Po Katong. Ia dapat ditaklukkan oleh pasukan Sultan, namun tetap dijadikan sebagai pemimpin lokal di sana. Sultan bersama pasukannya mendiami daerah ini selama tiga kali musim panen untuk konsolidasi dan persiapan pasukan untuk menaklukkan daerah bekas Indra Jaya lainnya.
Setelah kekuatan mereka dianggap cukup, maka ekspedisi ke pesisir negeri Daya dilanjutkan. Mereka menggunakan rakit-rakit bambu menyusuri arus sungai Krueng Lambeuso hingga sampai ke negeri Lamno. Sesampainya di negeri Lamno, rombongan Sultan Alaiddin Riayatsyah sempat berseteru dengan pemimpin lokal yang bernama Datu Paghu dan puteranya Muda Perkasa. Perseturuan ini segera dapat diselesaikan dengan diplomasi yang baik sehingga Datu Paghu berhasil ditaklukkan. Kemudian misi dilanjutkan ke hilir ke muara sungai, di mana rombongan Sultan Alaiddin Riayatsyah akhirnya mendaratkan rakit-rakit bambu di suatu perkampungan yang sampai saat ini dinamakan Gampong Darat di Kuala Daya. Raja Johan Pahlawan atau Syeh Johan sebagai penguasa negeri segera dikonfirmasi oleh rombongan. Lagi-lagi dengan diplomasi yang baik dari Sultan, rombongan ini tidak mengalami kesulitan di dalam penaklukannya.
Misi terakhir dari ekspdesi Sultan Alaiddin Riayat Syah adalah penaklukan negeri Keuluang. Keuluang yang diperintah oleh Datu Pahlawan Syah ternyata telah terikat perjanjian dengan Portugis. Mereka mengetahui adanya ekspedisi ini sehingga terlebih dulu menyiapkan diri menghadapi pasukan Sultan Alaiddin Riayat Syah, dengan dukungan persenjataan dan pasukan Portugis. Setelah diplomasi gagal, akhirnya pasukan Sultan terpaksa menyerang Keuluang. Akibat kehebatan dari serangan pasukan Sultan, akhirnya pasukan Portugis yang membantu pertahanan Keuluang terpaksa mundur ke Kuala Keuluang dan akhirnya angkat jangkar dari sana kembali ke Goa di India. Namun, setelah peristiwa itu Datu Pahlawan Syah masih tetap memberikan perlawanan dan akhirnya negeri ini dapat ditaklukan tanpa syarat oleh rombongan Sultan.
Setelah berhasil menaklukkan seluruh kekuasaan kawom Paghu, bekas negeri Indra Jaya dapat diintegrasikan oleh pasukan Sultan Alaiddin Riayat Syah ke dalam persekutuan baru yang disebut dengan Daya. Sejak saat itu Sultan membentuk Kesultanan Islam dan beliau menjadi raja pertama di kesultanan Daya.
Tinggalan Sultan Alaidin Riayat Syah di Daya
Dalam Hikayat Aceh disebutkan bahwa di penghujung abad ke-15, di lembah Aceh terdapat dua kerajaan, yaitu Meukuta Alam dan Darul Kamal yang kedua kerajaan ini dipisahkan olah Krueng Aceh. Kedua kerajaan ini selalu bermusuhan, namun tidak dapat menaklukkan lawannya. Untuk memperkuat armadanya Kerajaan Meukuta Alam terus memasok persenjataan melalui teluk Lamri. Dalam Hikayat Aceh disebutkan bahwa dengan kelicikan Sultan Syamsu Syah bin Sultan Munawarsyah dari Meukuta Alam meminang putri Kerajaan Darul Kamal untuk dikawinkan dengan Ali Mughayat Syah dan diterima oleh Sultan Muzaffar Syah, putra Inayat Syah yang memerintah Darul Kamal saat itu. Dalam arak-arakan peminangan disisipi persenjataan dan dilakukan serangan dadakan terhadap Darul Kamal sehingga banyak pembesar-pembesar Darul Kamal terbunuh, termasuk Sultan Muzaffar Syah yang merupakan saudara dari Sultan Alaiddin Riayat Syah. Sejak saat itu Sultan Syamsu Syah memerintah kedua kerajaan tersebut. Peristiwa ini terjadi ketika Sultan Alaidin Riayat Syah yang sedang merintis ekspedisi ke Daya tidak kembali lagi ke pusat kerajaan Darul Kamal yang sudah dikuasai oleh Sultan Syamsu Syah dari Meukuta Alam. Sejak saat itu Sultan Alaiddin Riayat Syah menjadi raja di Kerajaan Daya, sedangkan Darul Kamal sudah direbut oleh Sultan Syamsu Syah.
Sultan Alaiddin Riayatsyah diprediksi memerintah di negeri Daya antara tahun 1480-1492 Masehi. Selama pemerintahannya di sana, beliau berhaasil mengintegrasikan empat negeri, yaitu; Keuluang, Kuala Daya, Lamno dan Unga (bekas Negeri Indra Jaya). Pusat pemerintahannya di pusatkan di Kuta Dalam, Lam Kuta Gampong Gle Jong, Kemukiman Kuala Daya sekarang. Dalam menjalankan roda pemerintahannya sultan dibantu oleh seorang Wazir merangkap Katibul Muluk, seorang Hakim Tinggi, seorang Mufti Besar, seorang Panglima, dan beberapa orang Menteri, serta keempat raja dari negeri Daya yang merangkap sebagai staf sultan dalam setiap sidang perkara yang dianggap urgen.
Sultan Alaiddin Riayat Syah meninggal dunia pada 913 H atau 1492 Masehi dan dimakamkan di bukit yang dinamakan Gle Kandang. Sultan meninggalkan dua orang putera, yaitu Uzir dan Siti Hur. Setelah kemangkatan ayahandanya, Sultan Uzir diceritakan hanya memerintah beberapa tahun saja. Sedangkan putrinya yang bernama Siti Hur diriwayatkan menjadi permaisuri Sultan Ali Mughayat Syah, putra Sultan Syamsu Syah dan kembali lagi ke Daya sampai mangkat di sana.
Beberapa tinggalan lain dari masa Sultan Alaiddin Riayatsyah adalah; Pertama, pembangunan di bidang pertanian dengan intensivikasi, seperti pembuatan sarana dan prasarana seperti pembuatan irigasi (neulop) dengan saluran-saluran air (drainase), dan melakukan ekstensivikasi dengan mencetak persawahan baru. Kedua, menumbuhkembangkan solidaritas dan memperkokoh jatidiri dalam beragama pada masyarakat Daya. Ketiga, melakukan pengkaderisasian angkatan muda untuk memperkuat angkatan perang. Keempat, ekstensivikasi perkebunan lada dengan pemberian insentif secukupnya kepada para petani dan pengusaha.
Tinggalan makam keluarga Sultan Alaiddin Riayat Syah masih ramai dikunjungi masyarakat bekas negeri Daya untuk melepaskan nazar atau sekedar mengambil air di dalam guci yang dipercayai dapat menjadi obat yang dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit. Puncak kedatangan masyarakat Daya tersebut terjadi pada 10, 11, dan 12 Dzulhijjah, bersamaan dengan pelaksanaan upacara Peumeunap dan Seumeuleung. Upacara Peumeunap dan Seumuleueng ini pada awalnya diselenggarakan pada setiap Hari Raya Idul Adha bertepatan tanggal 10 Dulhijjah untuk memperingati pengukuhan Sultan Alaidin Riayatsyah sebagai Sultan di Daya. Tradisi ini sempat stagnan setelah Poteumeureuhom mangkat, namun dilanjutkan kembali pada masa Sultan Jamalul Alam Badrul Munir yang memerintah kerajaan Aceh tahun 1711-1735 M. Pada saat itu, ia sering melakukan kontrol hegemoni di wilayah-wilayahnya untuk memperoleh dukungan karena di Bandar Aceh Darussalam kedudukannya mulai terancam secara internal. Ia membenahi dan menghidupkan kembali tradisi kerajaan Daya sambil mengintegrasikan kembali daerah-daerah tersebut dari konflik internal yang sering terjadi di antara keempat raja di sana. Selama 24 tahun ia berkuasa, tradisi ini masih diselenggarakan. Setelah Kabupaten Aceh Barat lahir, bekas negeri Daya terintegrasi ke dalam beberapa kecamatan dalam kabupaten tersebut.
Pada masa ini pelaksanaan tradisi Peumeunap dan Seumeuleung diundur dari 10 Dzulhijjah menjadi 11 Dzulhijjah, mengingat pusat pemerintahan jauh dari lokasi pelaksanaan acara ini. Hal ini dilakukan sebagai wujud sinergis antara pemangku di bekas Kerajaan di Daya dengan petinggi di pusat pemerintahan di Meulaboh pada saat itu. Saat ini, bekas daerah negeri Daya telah berintegrasi ke Kabupaten Aceh Jaya, sehingga ada wacana untuk mengembalikan orisinalitas sesuai aslinya mengingat jarak antara ibukota pemerintahan Aceh Jaya tidak terlalu jauh dengan Kecamatan Jaya.
Selain upacara Peumeunap dan Seumeuleung, antusiasme masyarakat di bekas negeri Daya terhadap Poteumeureuhom sampai saat ini sangat tinggi. Hal ini nampak dari keramaian pengunjung berziarah ke Makam ini untuk melepas nazar atau sekedar mengambil air dari dalam “guci kermat” yang ada di kompleks Makam Gle Kandang, pada tanggal 10, 11, dan 12 Dulhijjah, bahkan pada hari-hari biasa pun masih ada saja masyarakat yang datang ke sana untuk berziarah atau melepas nazar. Selain itu masih banyak tinggalan di sekitar negeri Daya lainnya seperti: Makam Tuan Gle Pande seorang ahli persenjataan dan peralatan perang di gampong Pante Ceureumen, Makam Tuan Beureuha ahli pertanian sawah dan pengairan di Beureuha. Makam Tuan Meuntee asisten pertanian dan pengairan Tuan Beureuha dekat irigasi Beureuha. Makam Tuan Po Katong ahli peperangan di hulu Krueng Gapa. Makam Tuan Pante Ceureumen seorang ahli pemerintahan permukiman, sanitasi, dan kesehatan masyarakat di Pante Ceureumen. Makam Tuan Mareu ahli astronomi pertanian, pembuka kampung Mareu di Gampong Sabet. Makam Tuan Paloih ahli kebijakan pertanian, mulai sejak pembibitan sampai ke penanaman serentak. Makam Tuan Seulatan ahli penjinak binatang buas, ilmu kebal, juga ilmu besi di selatan Pantee Ceureumen. Makam Tuan Bak Awe, seorang pengajar karakter masyarakat di Pante Ceureumen. Makam Tuan Rhang, merupakan anak Tuan Po Katong di hulu Krueng Gapa.
Penutup
Menulis sejarah adalah mementaskan masa lalu ke masa kini dengan bukti-bukti yang dapat dipertanggungjawabkan dalam historiografi. Bukti sejarah lokal negeri Daya, khususnya mengenai kerajaan Daya mengalami keterbatasan sumber referensi, baik lisan maupun tulisan. Namun masih sedikit kejelasan dengan adanya inskripsi pada makam seorang putri dari Sultan Alaidin Riayatsyah, yang bernama Siti Hur. Berdasarkan dari keterangan inilah asal-usul dari negeri Daya sedikit terungkap.
Namun, mementaskan masa lalu memang bukanlah perkara yang mudah seperti membalikkan telapak tangan. Merekontruksi kejadian-kejadian dalam rentang masa yang telah sangat lama dan periodisasi yang panjang untuk menuangkan dalam bentuk penulisan sejarah apa adanya dan sedetail-detailnya. Namun upaya menghadirkan masa lalu ke masa kini untuk mementaskannya dengan benar ke atas panggung sejarah sangat-sangat penting dilakukan paling tidak untuk menggali asal-usul, kebangkitan, kemunduran, bahkan kehancuran dari sebuah kerajaan lokal seperti Kerajaan Daya sehingga dapat diambil pelajaran yang berguna di masa yang akan datang untuk mengenali karakteristik dan jatidiri masyarakat di daerah ini.
Menelusuri kesejarahan Daya dengan berpijak pada petuah Von Ranke, “no document no history” agaknya sedikit terpenuhi dengan ditemukan beberapa sumber yang dapat dipercaya, di antaranya tulisan pada batu nisan dari Siti Hur dan tradisi kerajaan yang masih tersisa yaitu; Peumeunap dan Seumeuleung serta berbagai cerita rakyat yang berhubungan dengan Poteumereuhom Daya serta makam orang-orang yang berkarya di sekitar pemerintahan dan masyarakat di negeri Daya pada masa lalu. Selain itu, di dalam Hikayat Aceh, Bustanussalatin dan Nagarakertagama juga menyinggung sedikit tentang negeri Daya dengan berbagai sebutan. Bukti lain adalah letak geografis negeri Daya yang juga tidak dapat dipisahkan dari matarantai seasystem pada masa lalu, sebagai daerah yang berada tepat pada jalur “kapur barus” dan kemudian “lada hitam” di pesisir Barat Aceh. Letaknya yang sangat strategis di antara sentra produksi di Timur dan pasar dunia di India, Asia Barat dan Eropa di Barat tentunya menjadikan negeri ini sebagai salah satu rendezvous yang penting di masa lalu.

Komentar

Postingan Populer