MALELANG DAN MADION, LEGENDA, TARI PHO HINGGA TRADISI MANO PUCOK DI ACEH BARAT DAYA



Latar Belakang
Aceh Barat Daya terletak di bagian tenggara provinsi Aceh yang berjarak 394 km dari Banda Aceh. Pada masa Kerajaan Aceh Darussalam, daerah ini terdiri atas beberapa kerajaan kecil di pesisir Barat-Selatan seperti; Susoh, Kuala Batu, Pulau Kayu, Kuta Batee, dan Manggeng. Ketika masa penjajahan Belanda daerah ini diintegrasikan dalam kabupaten Aceh Barat atau disebut Westkoest van Atjeh. Setelah era kemerdekaan tahun 1956,[1] kabupaten ini tergabung dalam kabupaten Aceh Selatan. Sejak tahun 2002, kabupaten ini resmi memandirikan diri ketika Presiden Megawati Sukarno Putri menjadi pemimpin tertinggi Republik Indonesia.[2]
Seperti daerah lainnya di Indonesia, di daerah ini juga terdapat folklor berbentuk legenda, mitos, dan cerita rakyat. Masih tersimpan di dalam memori kolektif khususnya di kalangan generasi tua di Aceh Barat Daya, di antaranya; legenda Putro Aloh-Malem Dewa, Asal Mula Ujong Serangga, Batu Demam, Kuala Batu, Raja Janan, Raja Pinto, Sayed Puteh dan Teungku Di Kila, dan lain sebagainya. Namun belum semuanya diinventarisasi, baik dalam hard copy maupun soft copy. Pendokumentasian folklor seperti legenda atau cerita rakyat sangat penting dilakukan, mengingat akan semakin sulit untuk mereaktualisasi dan merekontruksi hal-hal tersebut pada masa yang akan datang dikarenakan semakin langkanya narasumber di masyarakat.
Seiring dengan perubahan zaman, folklor perlu diimbangi dengan pemahaman baru.[3] Pemahaman dari sisi struktural sebelumnya tidak mampu mewadahi kondisi folklor. Interpretasi terhadap pemahaman modern yang kaku agaknya tidak memberi porsi yang memadai. Selama ini folklor telah berubah sejalan dengan perkembangan teknologi, perubahan pemikiran radikal ekonomi era industri, berkutat di seputar produksi barang dan jasa menuju ekonomi pascaindustri yang diorganisasikan seputar konsumsi budaya, permainan media massa, dan perkembangan teknologi informasi, bahkan penelitian pun perlu disesuaikan. Pemikiran radikal dalam folklor harus selalu ada. Permainan bahasa konyol, gaul, saat ini telah merambah dunia folklor kita. Arus perjalanan folklor yang pesat ini baru bisa dimaknai apabila paradigma yang dibangun saat ini dan masa yang akan datang dapat sinergi.
Sampai saat ini banyak legenda dan cerita folklor lainnya yang telah diproses ke dalam industri perfilman, baik sinema maupun layar kaca.  Namun hal ini belum dilakukan sepenuhnya terhadap legenda-legenda lokal di berbagai daerah di Indonesia seperti Malelang-Madion. Padahal legenda ini pernah berjaya di Aceh Barat Daya sehingga menjadi syair-syair dalam tarian Pho pada masa lalu. Saat ini, legenda ini terus mengalami pendangkalan sehingga hanya bertahan di dalam tradisi Mano Pucok saja. Itupun syairnya sudah mengalami gubahan dan dikreasikan dengan syair yang populer sesuai pesanan pihak penyelenggara sehingga yang bertahan dari legenda itu hanyalah unsur ”peubae” dan ”meuratok” atau peratapannya saja. 
A.    Legenda Malelang dan Madion
Legenda Malelang dan Madion diduga telah sangat lama berkembang dan mempengaruhi kehidupan masyarakat di pesisir Barat Aceh, khususnya di Aceh Barat Daya. Legenda tersebut mengisahkan kehidupan dua anak manusia yang nasibnya harus berakhir di usia muda karena hasutan Perdana Menteri yang pernah ditolak pinangannya oleh Madion. Mereka dituduh telah menodai kesucian kerajaan dengan perbuatan asusila sehingga dijatuhi hukuman rajam sampai mati oleh pihak kerajaan.
Madion merupakan seorang anak perempuan piatu yang sangat rupawan. Sejak kecil ia sudah ditinggal mati oleh ibunya sehingga dipelihara oleh kakak ibunya yang memiliki anak laki-laki yang bernama Malelang. Setelah mereka menginjak dewasa orangtua Malelang menginginkan keduanya dijodohkan dalam suatu ikatan perkawinan. Ibu Malelang sudah menyiapkan sejak dini untuk perkawinan kedua remaja bersaudara tersebut pada saat akan memasuki usia dewasa, antara lain penanaman pohon inai (bak gaca), pohon pinang (bak pineung), dan lain-lain di sekeliling rumahnya. Ia juga telah menyiapkan perlengkapan bagi kedua “calon mempelai” menurut adat istiadat setempat yang berlaku saat itu.
            Dikisahkan, suatu hari Malelang disuruh ibunya memanjat pohon pinang yang berada di depan rumah mereka. Madion melihat sepupunya itu sedang memanjat pohon pinang, lalu ia membantu dengan menghampiri untuk meminta buah pinang tersebut. Tidak disadarinya, saat memanjat pagar untuk meraih buah pinang yang sedang diturunkan Malelang celana Madion tersangkut di pagar berduri dan robek sehingga pahanya berdarah.
            Meski terluka ia masih menyempatkan diri mengambil pinang dari tangan Malelang, lalu ia kembali ke rumah. Kejadian itu dilihat oleh Perdana Menteri kerajaan Kuala Batu yang pernah ditolak pinangannya oleh Madion. Muncul niat jahat memfitnah kedua anak remaja tersebut. Dengan hati riang, ia menuju istana raja melaporkan Madion dan Malelang yang disebutnya telah menodai kesucian wilayah mereka karena telah berzina di bawah pohon pinang dengan barang bukti celana Madion robek dan pahanya berdarah. Mendengar laporan tersebut, raja murka, marah, dan sangat malu. Ia mendatangi rumah keluarga tersebut dan memberikan vonis berat kepada kedua remaja tersebut dengan hukuman rajam sampai mati karena dianggap telah melakukan perbuatan zina di wilayah kekuasaannya. Ibunda Malelang sangat terharu dan memohon agar diberi tenggat waktu eksekusi hukuman tersebut. Raja mengizinkan waktu sela selama seminggu. Eksekusi hukuman tersebut dilakukan pada hari ketujuh setelah vonis ditetapkan. Melewati hari menjelang eksekusi, keduanya dirias layaknya pengantin baru dengan memberikan inai berukir (gaca meu ukhee) di jari kedua tangan dan kakinya.
Pada hari eksekusi datang utusan raja yang terdiri rombongan panglima dan pengawalnya. Kedua terpidana rajam tersebut ditandu di dalam peti kaca dan digiring ke suatu tanah lapang untuk menjalani eksekusi. Akhirnya eksekusi pun dilaksanakan, mereka dirajam sampai meninggal. Setelah eksekusi selesai sesuai perintah raja, jasad keduanya diletakkan di suatu tempat di sekitar lokasi eksekusi. Setelah diizinkan untuk dibawa pulang, ibunda Malelang dan masyarakat membawa kedua jenazah untuk dikebumikan.Sesampainya di rumah, jasad kedua anak itu diratapi sejadi-jadinya oleh ibunya Malelang.
Di tengah ratapan tersebut, para pengunjung berkerumun sehingga terbentuk suatu lingkaran tanpa disengaja dan posisi jenazah berada di tengah-tengah kerumunan. Sesekali ibu Malelang berpantun dan bersyair lirih yang diikuti oleh tangisan dari orang-orang yang menyaksikan di sekitarnya.
A.    Malelang – Madion dalam Tarian Pho
Menurut beberapa sumber, seni pertunjukan tari Pho[4] telah ada sejak dahulu. Namun pastinya belum diketahui secara pasti. Seni pertunjukan ini diperkirakan berkembang pada masa penjajahan Belanda atau pada sekitar awal abad ke-20 jika menilik dari lirik yang ada pada saat Tum Beude yang menyebutkan tentang kewafatan pahlawan nasional Teuku Umar. Perkataan “pho” berasal dari kata “peuba-e po”.Peuba-e” artinya sama dengan “Meuratoh” dan “Meuratok”, atau kira-kira hampir sama dengan meratap namun disampaikan dalam kisah yang mengandung unsur tragedi. Kata “pho” dalam bahasa Aceh adalah sebagai suatu sebutan untuk panggilan kehormatan dari masyarakat kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atau pun penguasa. Kata  ini diasumsikan dengan kata “po” yang lazim disandangkan dengan kata sifat lainnya, seperti “Po Teu Allah”, “Allah Hai Po”, “Ee Po”, sebagai sebutan untuk menghormati Allah SWT yang memiliki segala makhluknya.
Selain itu juga, kata “Po Teu Meureuhom” sebagai sebutan untuk menghormati Sultan-Sultan yang sudah mangkat. Sebutan lainnya seperti “Teuku Po”digunakan sebagai sebutan untuk menghormati golongan bangsawan/uleebalang, “Ureung Po Rumoh”sebagai sebutan untuk menghormati istri yang dianggap sebagai pemilik atau pewaris dari rumah di dalam pemahaman kebudayaan dan sejarah di Aceh. Sedangkan sebagai wujud seni tradisi pertunjukan tari Pho dapat dilakukan beriringan antara tarian sekaligus nyanyian yang berisi syair-syair tragedi.
Pertunjukan tari ini dulunya dimainkan oleh para perempuan di daerah Westkust van Atjeh atau wilayah Kabupaten Aceh Barat.[5] Pertunjukan tarian ini biasanya dilakukan pada acara kematian tokoh kerajaan, pembesar, atau keluarga raja dengan melantunkan pantun-pantun dan syair-syair tragedi sebagai ratapan yang lazim digunakan pada masa lalu.[6] Tari Pho bermula dari legenda berupa tragedi atas terhukum pidana matinya sepasang remaja yang bernama Malelang dan Madion karena difitnah oleh Perdana Menteri di kerajaan Kuala Batu. Tarian ini dalam pertunjukannya dilakukan beberapa sesi, antara lain; saleum (salam), bineuh (ratapan), troun tajak mano (turun memandikan), jak kutimang (mari ditimang), ayen aneuk (ayunan anak), dan lanie (peulet manok/adu ayam), bungong rawatu (bunga rawatu), tum beude (dentuman senapan), dan sebagainya.
Pertunjukan didahului dengan saleum, di mana dua orang memasuki arena pertunjukan dengan melantunkan kata-kata saleum. Kedua tangan dalam posisi sembah setengah dada. Diikuti oleh penari lainnya yang keluar secara berbaris sambil menyahuti kata-kata yang diucapkan oleh syahi (pemimpin syair). Selanjutnya barisan ini mengambil posisi berdiri secara berbanjar menghadap ke arah penonton. Memasuki sesi bineuh, di mana syahi memulai nyanyian dengan pembukaan dan para penari mengikuti irama bineuh tersebut sambil membentuk lingkaran untuk mengisahkan legenda Malelang dan Madion. Sedangkan pada sesi troun tajak mano, gerakan tarian menggambarkan kebiasaan bagaimana ibu memandikan anaknya. Komposisi pada saat gerakan ini adalah empat penari di depan. Dua pengantin duduk di atas kursi, sedangkan dua penari berdiri di depan serta empat penari lainnya berdiri di bagian belakang yang membentuk setengah lingkaran.
Pada saat jak kutimang, gerakan tarian menggambarkan cara si ibu mendendang-sayangkan anaknya dengan penuh cinta kasih. Pada komposisi gerak ini, empat penari membentuk lingkaran dan empat penari membentuk lingkaran yang sama pula. Ketika sesi ayoun aneuk, gerak tarian menggambarkan cara si ibu membuai anaknya di dalam ayunan. Komposisi gerak tarian pada sesi ini adalah enam orang, tiga penari membentuk setengah lingkaran, dua penari lainnya berdiri di samping masing-masing sisi dari setengah lingkaran tersebut. Pada sesi lani, gerak tarian bernuansa hiburan, nasihat, cerita, dan lain sebagainya. Di antaranya berisi peuleut manok, alah hai ti, tum beude, grum itek mano, dan lain-lain. Pada sesi akhir pertunjukan ini diakhiri dengan saleum (salam) sekaligus menandai akhir pertunjukan.
Pertunjukan tari ini menggunakan pakaian tradisional Aceh dengan kostum baju kuning, celana panjang hitam berkasab, kain pinggang sungket berwarna merah hati atau hijau tua,  dan selendang warna merah hati atau biru tua. Para penari memakai aksesori gelang kaki (gleueng gaki) dan gelang tangan (boh ru). Selain itu, juga menggunakan sanggul Aceh (sanggoi) dengan posisi agak tegak ke atas sedikit miring ke kanan. Selain itu, penari juga menggunakan sapu tangan berwarna merah, kuning, dan hijau.
Berikut syair dalam pertunjukan Malelang-Madion, yaitu;
-          Syair ratapan dalam Pho;
Ade-ade si Malelang...bukon sayang Madion ma
Si Malelang ngon Madion...yang aneuk phon Malelang ma
Si Malelang jak ek pineung...meuteumeung dua-meudua
Teuma leumah dek peudana meuntro...narit geupeuwo geuba bak raja
Wahee raja neudeungo kamo...Nanggroe kakuto dipeubut zina
Oh ban deungo narit peudana meuntro...geuyu tueng reujang jino nyan makwa
Laju makwa geubeudoh reujang...sajan-sajan geujak bak raja
Oh saree troh makwa nyan keunan...teumanyong reujang laju di raja
Teuma geu meutanggoh tujoh uroe...bah len puwoe Malelang ma
Kareuna wasiet masa uro jeeh...Jino peukawen aneuk bandua
Tacok gaca meutujoh on...boh gaca phon Malelang ma
Tacok gaca tujoh boh tangke...gaca meu ukee Madion ma
Tasi keubeue putoh ta lhak...geuboh gumbak Malelang ma
Geusi keubeue di teungoh blang...geukoh andam Madion ma
Si Malelang kaleh meukawen...puteh licen geuba bak raja
-        Syair dalam Tarian Pho:
a.      Syair saat saleum, yaitu:
Assalamulaikum teungku di sino...nyo pat kamo katroh meuteuka
Jaroe siplouh lon beuot lapan...meuah lon tuan beuraya-raya
Ranub neupajoh bungkoh neupulang...bek jeut keu utang singoh ngon lusa
Ranub kuneng on, tawoe bak ara...ranub kamo ba neu ujo rasa
b.      Syair saat Bineuh, yaitu:
O bineuh lon balek laen...puteh licen seuot beurata
Bungong meulu cut keumang cot uro...paso dalam glah keu ubat mata
c.      Syair saat tron tajak mano, yaitu:
Tron tajak mano...dara baro tron...tajak mano
Oh leh mano lake seunalen...ija san dusen seunalen mano
Geuboh gaca bak paleut jaro...gaca meu uke tujoh boh tangke
Dara baro geuboh ngon andam...ceudah hana ban takalon rupa
Daro baro laju geupeuduek...ateuh tilam duk bineh nun suja
d.     Syair saat jak kutimang, yaitu:
Jak kutimang hai aneuk...jak kutimang...
bungong kumang hai aneuk...meuboh hate ma
Jak ku dodo do do da idi...meurapati po ka patah teu ot
e.      Syair saat peulot manok, yaitu:
Peulot manok dalam geulanggang...tuak kelantan si rajawali
Peulot manok bak jambo madat...sisek ji ilat meble meucahya
Manok jalak ngon manok bireng...sabee tat lagak takalon rupa
Menyo talo manok lon tuan...lon ganto lalu yang sabee teuga
f.       Syair saat bineuh bungong rawatu, yaitu:
Oh bineuh bungong rawatu...meutalue lam laot raya
O bineuh sinyak dong dirat...tapot bungong rat paso lam ija
Bungong mancang keumang cot uro...luroh lam karang keunong uro
g.      Syair saat tum beude, yaitu:
Tum beude…tum beude...tum beude bila nanggro…tum beude bila nanggro
Teuku Uma Johan Pahlawan...syahid digobnya di Ujong Kalak
Di Ujong Kalak tugu pahlawan...tanda di sinan syahid panglima
B.     Malelang – Madion dalam Tradisi Mano Pucok
Tradisi Mano Pucok merupakan suatu tradisi di dalam rangkaian ritual perkawinan di Aceh Barat Daya. Tradisi ini dilakukan sehari menjelang acara peresmian di kediaman pengantin perempuan. Mano Pucok memuat unsur-unsur yang ada di dalam folklor Malelang-Madion sama seperti kisah tragedi Malelang-Madion dalam tarian Pho. Tradisi ini direaktualisasi di dalam syair-syairnya, sehingga berbeda dari syair yang ada dalam tari Pho yang asli, namun esensi peubae atau meratap tetap dipertahankan dalam tradisi Mano Pucok.
Tradisi ini dilaksanakan oleh seorang syahi perempuan mengisahkan bagaimana kesedihan orangtua, dan kerabat dekat untuk melepaskan dengan sangat berat masa lajang anaknya untuk berhasil mengantarkannya ke jenjang pernikahan. Semua orang yang melayat terlarut dalam kesedihan yang haru-biru seperti dalam kisah Malelang-Madion yang ada di dalam tari Pho. Pada bagian akhir Mano Pucok dilantunkan Troun Tajak Mano yang juga merupakan salah satu unsur dari tarian Pho. Pada prosesi terakhir Mano Pucok, kedua pengantin dimandikan dengan pucuk nyiur yang sudah dihias sedemikian rupa menyerupai janur yang disebut boh luluk dan air mandi yang telah disediakan di dalam bejana-bejana kuningan yang disebut peuluman.
Prosesi Mano Pucok ini dilakukan oleh penari-penari perempuan yang membentuk lingkaran sambil terus melantunkan syair tron tajak mano sambil  mengguyurkan air ke badan pengantin sampai prosesi ini selesai. Syahi terus mengisahkan syair-syair kesedihan sampai berakhir dengan saleum peunutoh dan seulaweut. Selanjutnya pengantin diberi pakaian baru yang disebut seunalen mano yang merupakan pemberian kerabat dari pihak pengantin perempuan yang menandai prosesi telah berakhir, dan keesokan harinya adalah persandingan di pelaminan (duek sandeng).
Penutup
            Legenda Malelang-Madion merupakan folklor yang telah banyak mempengaruhi pola kehidupan masyarakat Aceh Barat Daya. Pengaruhnya terus  hidup dan berdinamika dari waktu ke waktu hingga saat ini. Meskipun legenda dan tari pho sudah berkembang pada masa lalu, namun kini sudah hampir dilupakan. Legenda ini hanya tersisa dalam tradisi Mano Pucok sebagai salah satu rangkaian ritual dalam perkawinan adat setempat.
            Sebagai folklor, legenda saat ini sudah dikembangkan sebagai potensi yang besar pemasukan devisa negara. Pemanfaatan legenda ke dalam industri perfilman maupun seni pertunjukan profesional harus disesuaikan dengan perkembangan zaman dan keinginan pasar. Legenda masa lalu merupakan sumber kekayaan yang tidak akan terhabiskan, tinggal bagaimana kemampuan daerah, ketersediaan modal, dan sumber daya manusia yang profesional di bidang tersebut.
            Legenda Malelang-Madion sebagai folklor patut dilestarikan, didokumentasikan untuk kemudian diproyeksikan ke sinematografi, seperti; film, seni pertunjukan profesional dengan packaging (kemasan) yang menarik, sehingga dapat komersial, dan tidak hanya tertinggal sepenggal-sepenggal di dalam tradisi Mano Pucok saja, itu pun dengan pemahaman yang semakin absurd pada masyarakat Aceh Barat Daya saat ini.


[1]Berdasarkan Undang-Undang Darurat, No. 7 Tahun 1956, tanggal 4 November 1956.
[2] Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 tahun 2002 tanggal 10 April 2002. Di mana Aceh Selatan dipecahkan menjadi Aceh Selatan, Aceh Barat Daya dan Aceh Singkil
[3]Baudrillard dalam Suwardi Endraswara, Metodologi Penelitian Folklor; Konsep, Teori dan Aplikasi , (Yogyakarta: Media Pressindo), 2009. hlm.165-167
[4]Lihat juga Lailisma Sofyani dan H.Ikhsan, Tari-Tarian di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam;  Suatu Dokumentasi, (Banda Aceh: STCND Meuligo NAD, 2004).
[5]Tarian ini sudah dikenal ketika Belanda memasuki awal abad ke-20, dan kemudian berhasil menduduki daerah ini sejak tahun 1890-an hingga tahun 1942 dalam rangka mengejar pasukan muslimin Aceh hingga masuknya Jepang ke sana. Saat ini daerah ini sudah terintegrasi dalam Kabupaten Aceh Barat Daya sejak tahun 2002. Sebelumnya juga sejak kemerdekaan sudah tergabung dalam Kabupaten Aceh Selatan.
[6]Tarian ini dipengaruhi oleh budaya zaman pra-Islam. Setelah Islam berkembang dan mulai dipahami dengan baik oleh masyarakat di sana, tari ini tidak dipertahankan sebagai pertunjukan ritual di kematian lagi karena dalam Islam tidak membenarkan untuk meratapi sampai meraung-raung orang yang sudah meninggal, karena kematian adalah suatu sunnatullah sehingga dibutuhkan kesabaran setiap orang untuk menghadapi musibah yang menimpa diri dan keluarga, serta kerabat dekat lainnya sehingga kemudian tarian ini hanya berfungsi sebagai seni pertunjukan semata.

Komentar

Postingan Populer