TOPONIM PULO WEH, SABANG
Pendahuluan
Toponim adalah istilah
yang berarti “geographical names” atau “nama geografis”, atau secara
harafiah berarti “place names” atau “nama tempat”. Nama suatu lokasi
atau tempat tidak harus diartikan sebagai nama perkampungan (nama gampong,
huta, desa, dan lurah) saja, tetapi juga nama unsur geografi, seperti;
sungai, bukit, gunung, pulau, tanjung, rawa, dan lain sebagainya. Singkatnya
unsur-unsur bentang alam tersebut sering disebut sebagai unsur topografi.[1]
Sedangkan menurut KBBI, ada dua makna dari toponimi. Pertama, toponimi
sebagai cabang onomastika yang menyelidiki nama tempat untuk menjelaskan
asal-usul, bentuk, dan makna nama diri, terutama nama orang atau tempat. Kedua,
toponimi bermakna sebagai nama tempat yang menjelaskan aspek geografis yang
tidak terbatas pada nama daerah.[2]
Secara
historis, istilah toponimi mulai dikenal bersamaan dengan adanya peta yang
berkaitan dengan kartografi. Paling tidak hal ini dimulai sejak peradaban
manusia berkembang di Mesir kuno. Sebagai pemberian keterangan “nama” pada
unsur yang digambarkan pada peta, diperlukan suatu upaya untuk merekam bahasa
verbal (lisan) ke dalam bentuk tulisan atau simbol. Beberapa ilmuwan, seperti
Comtey de Volney (1820), Alexander John Ellis (1849), dan Theodore W. Erersky
(1913) yang terus berusaha untuk membakukan proses penamaan unsur geografis
pada peta melalui berbagai metode. Akhirnya United Nations (UN) atau Perserikatan
Bangsa-Bangsa (PBB) membentuk Uniteds Nations Group of Expert on
Geographical Names (UNGEGN) yang bernaung di bawah struktur Economic and
Social Commite (ECOSOC) atau Dewan Ekonomi
dan Sosial PBB. Sedangkan di Indonesia, lembaga yang mendapat wewenang terkait
toponimi adalah Badan Koordinasi Survei dan Tanah Nasional (Bakorsurtanal). Lembaga
inilah yang mengkoordinasikan berkaitan toponimi yang bekerjasama dengan instansi-instansi terkait lainnya.
Penamaan atau
toponim sebagai identitas dan jatidiri dari suatu pulau, tanjung, dan gunung, biasanya
melekat erat sebagai identitas tunggalnya, meskipun misalnya sudah terkubur di
dalam atau tergenang air laut atau sebab lainnya, seperti; toponim Atlantik, Indrapurwa,
dan Lamuri. Nama pulau sebagai identitas dari suatu obyek seperti, “Puloweh”
yang dijadikan sebagai unsur penandanya. Nama itu akan melekat erat sebagai
identitas tunggal obyek dari pulau tersebut. Identitas itu akan terus melekat,
meskipun obyeknya kadangkala telah lenyap untuk selamanya, baik karena
peristiwa alam, maupun perubahan iklim.
Puloweh
Jejak nama “Puloweh”
nama sebuah pulau terbesar dengan kota Sabangnya menarik untuk dilihat dari
sudut pandang sejarah toponiminya. Nama ini juga merupakan bagian yang tidak
terpisahkan dari kisah keberadaan sebuah kota dari masa lalu, bisa sejak
ratusan bahkan ribuan tahun yang lalu. Keberadaan nama suatu daerah atau pulau menyadarkan
kita bahwa toponimi bukanlah sesuatu yang terjadi begitu saja atau dibuat serta-merta.
Toponim memiliki alur kisah dengan proses pembentukannya yang dapat dilacak
dari folklore atau legenda yang berkembang pada masyarakat yang mendiami
suatu tempat. Begitu juga dengan keberadaan kota Sabang di “Puloweh”.[3]
Pulau yang terletak di ujung paling utara provinsi Aceh atau gerbang selat
Malaka ini berada di utara pulau Sumatera yang terkenal sebagai jalur
lalulintas maritim dunia dari “barat ke timur” dan sebaliknya yang ramai pada
masa lalu. Belanda adalah negara Eropa yang berhasil
menguasai Kota Sabang di Puloweh mendirikan kolen station (stasiun
pengisian batu bara) pada tahun 1881. Selanjutnya melalui Firma De Lange
pada tahun 1887 membangun sarana penunjang fasilitas pelabuhan, dan pada tahun
1895 Pemerintah Belanda membuka Sabang sebagai Pelabuhan Bebas untuk
internasional yang dikelola oleh Sabang Maatscappij, dan sejak saat itu
aktivitas lalulintas di teluk Sabang sangat penting dari hari ke hari.
Dinamika Kota Sabang
di Puloweh dimulai sejak kolonial Belanda menggunakan pulau ini sebagai
pusat pengisian batu bara di wilayah barat Hindia Belanda dan berakhir tahun
1942. Pascakemerdekaan Indonesia, yaitu sekitar masa agresi Belanda I dan II
pulau ini sempat “dikuasai” Belanda kembali, dan berakhir ketika pengakuan
kedaulatan Republik Indonesia Serikat (RIS) di paruh akhir tahun 1949 saat pemerintahan
Orde Lama. Selanjutnya, pada masa pemerintahan Orde Baru sekitar tahun 1970-an,
pulau ini pernah ramai dengan hiruk-pikuk Pelabuhan Bebas yang diramaikan
dengan perdagangan “jangek-nya”. Kemudian mulai terpuruk kembali ketika
kota ini resmi ditutup sebagai Pelabuhan Bebas pada tahun 1980-an. Sejak saat
itu, “denyut nadi” atau pertumbuhan pembangunan Kota Sabang di Puloweh diibaratkan
“seperti kerakap di atas batu, hidup segan mati tak mau”, kota Sabang menjadi
“mati suri”.
Setelah
reformasi dan otonomi daerah (1998), konflik vertikal-horizontal (1999-2005),
pascatsunami (26 Desember 2004), dan perdamaian RI dan GAM (MoU 15
Agustus 2005), Kota Sabang di Puloweh yang telah dicanangkan oleh
pemerintah Indonesia sebagai Kawasan Pelabuhan Terpadu (KAPET) mulai “ramai kembali”, terutama dari aktivitas
pariwisata. Namun kebijakan tersebut sampai saat ini, eksesnya belum terlihat
signifikan, kecuali dikenal sebagai “perdagangan” mobil eks Singapura dan
tujuan pariwisata. Belum meningkatnya aktivitas perdagangan dan perekonomian
serta pariwisata sebagai turning point dari kebijakan tersebut
sepertinya belum menampakkan geliat kebangkitan Sabang sebagai kota terdepan di
gerbang bagian barat Indonesia.
Saat ini, Kota
Sabang di Puloweh dijuluki penduduknya sebagai “kota kelelawar”, karena
siang hari terlihat sepi, malam hari baru mulai terlihat aktivitas dan sedikit
keramaian. Pulau ini juga masih bergantung dalam matarantai suplai makanan dan
minuman dari daratan Sumatera melalui pelabuhan Uleelhee Banda Aceh yang
“dijembatani” dengan kapal Angkutan Sungai dan Penyeberangan (ASDP) Badan
Rekontruksi dan Rehabilitasi (BRR) Aceh-Nias, dan 2 (dua) unit kapal cepat.
Melirik fenomenalnya keradaan Puloweh pada masa lalu, perlu untuk
mendalami toponim nama pulau ini mengapa disebut “Puloweh” dari sudut
pandang folklore dari penduduknya. Toponim ini bisa jadi mengandung
unsur-unsur historis jika dianalisis secara mendalam dengan cermat dan teliti
mengenai makna di balik penamaan dan peristiwa apa yang melatarbelakangi
pemberian nama tersebut. Dari kacamata historis dengan pendekatan geografis
yang melingkupinya perlu diretas asal-usul nama atau toponim “Puloweh”
yang sering dihubungkan dengan nama suatu tempat “Uleelheueh” yang
berarti “kepala/ujung yang terlepas” di daratan Sumatera yang kini sering
disebut Uleelhee berdasarkan folklore yang berkembang dalam
masyarakat.
Belanda yang menguasai
pulau ini juga menjadikannya sebagai pelabuhan karantina bagi calon haji nusantara
(Indonesia). Selain itu, di pulau ini juga pernah dijadikan lokasi “penanganan”
pelaku “Atjehmoorden” atau orang yang dianggap menderita “gangguan jiwa”
di Aceh, terutama pada paruh akhir episode perang Aceh dengan membangun rumah
sakit jiwa pada paruh akhir abad ke-19.
Kota Sabang di Puloweh
saat ini salah-satu tujuan destinasi bagi wisatawan, baik domestik maupun
mancanegara. Selain itu, di pulau ini juga terdapat Kota Sabang yang juga dikenal
dalam lagu nasional dari “Sabang Sampai Merauke” dan juga lokasi “Tugu Nol
Kilometer Indonesia” di wilayah paling barat. Puloweh juga memiliki banyak
deposit tinggalan sejarah masa lalu, seperti; benteng Jepang, meriam berbagai
ukuran, dan sisa bangunan bercorak indies, seperti bekas bangunan Asrama
Haji dan Rumah Sakit Jiwa Latumenten. Selain itu, Puloweh
terkenal di mancanegara sebagai salah-satu surga wisata snorkeling dan
diving yang sangat mempesona, terutama di sekitar Pulorubiah (Pulaurubiah).
Inkonsistensi Toponim Puloweh
Inkonsistensi
penulisan nama pulau masih terjadi dalam penulisan peta di Indonesia, seperti
nama tempat; Bandaaceh (Banda Aceh), Kruengaceh (Krueng Aceh), Blangpidie
(Blang Pidie), Tapaktuan (Tapak Tuan), termasuk penulisan “Puloweh”
yang di peta Indonesia sering juga ditulis dengan Pulau Weh atau Pulau
We. Namun yang pasti Puloweh adalah nama sebuah pulau, yang di sana berada
Kota Sabang sebagai salah satu ibukota dari kota/kabupaten di Provinsi Aceh dengan
posisi geografis di ujung paling utara atau bagian barat pulau Sumatera.
Puloweh secara harfiah bermakna “pulaupindah”, dan untuk menelusuri
sejarah toponimnya sebagai jejak sejarah nama sesuatu obyek pada masa lampau.
Keberadaan nama ini merupakan salah satu “penanda” yang bermanfaat bagi
penghuninya untuk memahami filosofi terhadap pulau tersebut yang tentu saja telah
dicanangkan sejak masa lalu dengan segala dinamika yang melingkupinya, yaitu;
sejarah, politik, ekonomi dan budaya masyarakatnya dari waktu ke waktu.
Folklore Sekitar Toponim Puloweh
Cerita tentang Puloweh pernah
dihubungkan dengan berita pada tahun 301 SM, di mana seorang ahli geografi Yunani,
Ptolomacus pernah berlayar ke arah timur dan berlabuh di sebuah pulau yang tak dikenal
di gerbang selat Malaka. Kemudian dia menyebutkan dan memperkenalkan pulau
tersebut dengan nama “Pulau Emas” di dalam peta para pelaut saat itu.
Selanjutnya, pada abad ke-12, Sinbad mengadakan pelayaran dari Sohar, Oman, bahkan
ia lebih jauh mengarungi samudera ke timur melalui rute Maladewa (Maldives),
Kalkuta (India), Srilanka, Andaman, Puloweh, Nias (melalui Samudera Indonesia?),
Penang (Malaysia), dan Canton (China). Sinbad berlabuh di sebuah pulau dan
menamainya sebagai “Pulau Emas”, pulau itu disebut-sebut sebagai yang
dikenal sekarang sebagai Puloweh.
Pada awal abad ke-15, penjelajah
asal China, Cheng Ho singgah di sana pada tahun 1413-1415. Menurut catatan Ma
Huan, seorang translater Cheng Ho, menjelaskan bahwa di sebelah barat
laut Aceh terdapat sebuah pulau dengan gunung yang menjulang, diberi nama gunung
Mao. Di sana terdapat sekitar 30 kepala keluarga. Ahli sejarah menegaskan bahwa
yang dimaksud gunung Mao itu adalah Puloweh. Dalam buku Ying Yai
Sheng Lan yang kemudian diterjemahkan menjadi The Overall Survey of The
Ocean’s Shores, Ma Huan juga menceritakan bahwa pulau itu menjadi salah
satu tempat persinggahan para pedagang (saudagar) dari berbagai negara. Gunung
Mao tampak menjulang dari lautan tersebut sehingga menjadi suar bagi para pedagang/saudagar
yang berlayar dari barat ke timur dan sebaliknya. Puloweh juga dikenal
sebagai penghasil kayu laka terbaik serta penghasil bunga teratai. Selain
itu, ada juga yang menduga bahwa Puloweh saat itu menjadi salah satu
bagian dari jaringan perdagangan maritim yang membentang dari Teluk Persia
sampai China Selatan pada abad ke-12 sampai ke-15, di mana Thailand, Srilanka,
dan India termasuk di dalamnya. Selanjutnya pada abad ke-16, 17, dan 18 pulau
ini tidak banyak diungkap sejarawan. Baru pada paruh akhir abad ke-19 hingga
20, pulau ini dikenal ketika sudah dikuasai oleh Belanda hingga tahun 1940-an.
Pada masa awal kemerdekaan
Indonesia, Kota Sabang di Puloweh menjadi pusat pertahanan Angkatan Laut
Republik Indonesia Serikat (RIS) dengan wewenang penuh dari pemerintah melalui
Keputusan Menteri Pertahanan RIS Nomor 9/MP/50. Semua aset pelabuhan yang
berada di Puloweh yang dinamakan Sabang Maatschappij dibeli oleh pemerintah
Indonesia. Pada tahun 1965 dibentuk pemerintahan Kotapraja Sabang berdasarkan U.U.
No.10/1965, dan dirintis gagasan awal untuk membuka kembali sebagai Pelabuhan
Bebas dan Kawasan Perdagangan Bebas. Gagasan itu kemudian diwujudkan dan
diperkuat dengan ditetapkan U.U. No 3/1970, tentang Perdagangan Bebas Sabang
dan U.U. No.4/1970 tentang penetapan Sabang Daerah Perdagangan Bebas dan
Pelabuhan Bebas.
Pembukaan Batam sebagai Kawasan
Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas, mengakibatkan Sabang ditutup berdasarkan
U.U. No 10/1985. Pada tahun 1993 dibentuk kerjasama ekonomi regional yaitu; Indonesia-Malaysia-Thailand
Growth Triangle (IMT-GT) yang membuat posisi pulau ini sangat strategis
dalam pengembangan ekonomi di kawasan Asia Selatan. Pada tahun 1997 di pantai
Gapang, berlangsung Jambore Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang diprakarsai
BPPT dengan fokus kajian pengembangan kembali Sabang. Kemudian pada tahun 1998,
Kota Sabang dan kecamatan Puloaceh di Kabupaten Aceh Besar dijadikan
sebagai Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET) yang bersama-sama KAPET
lainnya diresmikan oleh Presiden B.J.Habibie dengan Keppes No. 171 tanggal 28
September 1998.
Era baru Puloweh, terjadi pada
tahun 2000 ketika dicanangkan Sabang sebagai Kawasan Perdagangan Bebas dan
Pelabuhan Bebas oleh Presiden K.H. Abdurrahman Wahid di Sabang dengan
diterbitkan Inpres No. 2 Tahun 2000 pada tanggal 22 Januari 2000. Terbitnya Peraturan
Pemerintah pengganti U.U. No. 2 tahun 2000 tanggal 1 September 2000 yang selanjutnya
disahkan menjadi U.U. No. 37 Tahun 2000 tentang Kawasan Perdagangan Bebas dan
Pelabuhan Bebas Sabang. Aktivitas Pelabuhan Bebas dan Perdagangan Bebas Sabang
pada tahun 2002 mulai berdenyut dengan masuknya barang-barang dari luar negeri
ke sana. Namun, pada tahun 2004, aktivitas ini terhenti karena seluruh Aceh
ditetapkan sebagai Daerah Darurat Militer.
Pada tanggal 26 Desember 2004, Puloweh mengalami
gempa bumi yang disusul tsunami, namun karena palung laut di teluk Sabang
sangat dalam sehingga pulau ini selamat dari tsunami. Ketika masa tanggap
darurat di Aceh, pulau ini dijadikan tempat transit udara dan laut yang membawa
bantuan untuk korban tsunami ke pulau Sumatera, di daratan Aceh. Selanjutnya, Badan
Rekontruksi dan Rehabilitasi (BRR) Aceh-Nias juga menetapkan pulau ini sebagai lokasi
transit untuk pengiriman material konstruksi dan lainnya yang akan dipergunakan
di seluruh daratan Aceh.[4]
Kisah Perpisahan
“Puloweh” dan “Uleelhee”
Kisah dari toponim “Puloweh” juga
diikuti oleh folklore mengenai ibukota pulau ini, yaitu; kota Sabang yang
oleh masyarakatnya sering dihubungkan dengan kosakata dari bahasa Aceh ”Saban”,
yang berarti “sama” atau bisa juga diartikan “nondiskriminasi”. Kata tersebut
boleh jadi karena dilihat dari komposisi penduduknya yang beragam (multikultur)
dan karakter masyarakatnya yang cenderung mudah menerima tamu (pendatang).
Karakter ini agak sedikit berbeda dengan karakter orang Aceh yang cenderung “selektif”
terhadap orang yang baru dikenal, seperti filosofi orang Aceh “meunyo kon
ie, leuhob, meunyoe kon droe, gob”.[5]
Versi lainnya, menyebutkan bahwa nama “Sabang” berasal dari bahasa arab “shabag”,
yang berarti gunung meletus. Dalam folklore itu disebutkan, dahulu di
daerah tersebut terdapat gunung berapi. Hal ini ternyata sesuai dengan fakta
dengan adanya keberadaan gunung berapi di Jaboi dan gunung berapi bawah
laut yang dinamakan Prialaot.[6]
“Puloweh” berasal dari dua sukukata dalam
bahasa Aceh, “pulo” dan “weh”. “Pulo” berarti pulau, dan “weh”
yang berarti pindah. Menurut folklore, Puloweh mulanya menyatu
dengan daratan pulau Sumatera di sekitar Uleelheue. Nama Uleelheue
(Uleelheueh) saat ini adalah nama pelabuhan yang berada di kota Bandaaceh
(lazim ditulis dengan nama Banda Aceh) sebagai akses untuk menyeberang ke Puloweh
(Kota Sabang).[7] Uleelheueh
berasal dari dua sukukata “ulee” dan “lheueh”. Kata “ulee”
berarti kepala/ujung, dan “lheueh” berarti lepas atau terpisah. Folklore
juga mengisahkan, peristiwa erupsi gunung api bawah laut Prialaot purba yang menyebabkan
kawasan ini menjadi “terpisah” sehingga saat ini berjarak sekitar 18 mil setelah
sebagian daratannya tergenangi air laut. Hal ini mungkin saja terjadi seperti
ketika pulau Jawa dan Sumatera yang terpisah akibat letusan gunung api Krakatau
purba.[8]
Penutup
Toponimi adalah nama
unsur dari geografi. Toponimi yang ada di suatu tempat (daerah), seperti;
sungai, bukit, gunung, pulau, tanjung, rawa, dan lain sebagainya biasanya juga
mengandung folklore di dalamnya, seperti; toponimi Puloweh di
kota Sabang Provinsi Aceh. Namun sampai saat ini masih saja terjadi
inkonsistensi penulisan nama terhadap Puloweh, seperti penulisan nama di
peta sebagai; Pulau Weh, Pulo Weh, Pulo We, dan Pulau We sehingga
perlu pengkajian kembali oleh Bakorsurtanal, Pusat Bahasa dan Balai Bahasa Banda
Aceh dan juga instansi terkait lainnya di daerah menyangkut pedoman penamaan nama
suatu daerah yang menggunakan dua kata, seperti; “Pulo” (pulau) dan “Weh”
(pindah), atau Puloweh (Pulaupindah), misalnya.
Toponimi
pulau Puloweh di kota Sabang menggambarkan adanya suatu peristiwa erupsi
vulkanik gunung api purba sehingga menyebabkan terpisahnya sebagian daratan pulau
Sumatera. Hal itu diperkuat dengan adanya nama tempat di daratan Sumatera yang bernama
Uleelheu (Uleelheuh/Ulee Lheuh) yang berarti kepala/ujung yang
terlepas di kota Bandaaceh (Banda Aceh?). Hal itu diperkuat lagi dengan
keberadaan dua buah gunung api di kota Sabang, yaitu; gunung api Jaboi dan
Prialaot hingga saat ini.
Toponim
sebagai bagian dari folklore sering digunakan di dalam penamaan secara geografis
suatu daerah sebagai bagian yang tak terpisahkan dengan seni sastra lisan
masyarakatnya, seperti; yang terdapat dalam haba jameuen (folklore)
masyarakat yang mendiami Aceh Besar, Kota Banda Aceh dan Kota Sabang tentang toponim
Puloweh.
[1]Oxford Advances Learner’s Dictionary, the physical features
on an area land, such as rivers, mountain, islands, seas, etc.2000 dalam http://yustradome.blogspot.com/2013/05/toponimi-arti-penting-dan-dilema-sebuah.html, diakses tanggal 23 Juli 2013
[2]Kamus Besar Bahasa Indonesia Jilid III, lihat juga dalam ibid.
[3]Kota Sabang, secara geografis, terletak di
antara 95° 13' 02" dan 95° 22' 36" Bujur Timur, dan antara 05° 46'
28" dan 05° 54' 28" Lintang Utara. Dari segi geografis Indonesia,
wilayah Kota Sabang merupakan wilayah administratif paling barat, dan
berbatasan langsung dengan negara tetangga, yaitu:
Malaysia, Thailand dan India.
[4]Lihat
juga http://yarjohan.blogspot.com/, Potensi Sumberdaya Pesisir dan Lautan
di Kota Sabang, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam diakses
tanggal 19 Agustus 2013.
[5]Mungkin filososi Aceh ini kontradiktif dengan filosofi lainnya,
seperti ungkapan “Peumulia jamee adat geutanyoe” (memuliakan tamu adalah
adat kita).
[6]Lihat juga Iskandar Norman, Legenda Sabang, dalam
Legenda Aceh, Banda Aceh: Bandar Publishing, 2012, hlm.51-55.
[7]Bakorsurtanal perlu sinkronisasi dalam pengkajiannya
dengan Pusat Bahasa, Balai Bahasa di Indonesia untuk penyeragaman penulisan dan
penamaan nama-nama pulau, tempat, yang memiliki gabungan dari dua unsur kata yang
terdapat di Indonesia karena masih banyak terjadinya inkonsistensi pemberian
nama di peta, seperti; penulisan kota Balik Papan (Balikpapan), Jaya Pura
(Jayapura), dan lain-lain.
[8]Dalam folklore versi
lain yang mengesankan Indonesiasentris, Puloweh juga terkenal dengan nama
“Pulau We” tanpa huruf “h” di akhir katanya. Menurut folklor lain tentang Puloweh menceritakan seorang putri
cantik jelita yang mendiami pulau ini meminta kepada “Sang Pencipta” agar tanah
tandus di pulau-pulau ini bisa untuk ditanami. Untuk itu, dia membuang seluruh
perhiasannya sebagai bukti keseriusannya. Sebagai balasannya, Sang Pencipta
kemudian menurunkan hujan dan gempa bumi di kawasan tersebut sehingga terbentuklah
danau yang diberi nama danau Aneuklaot. Danau seluas sekitar 30 hektar
itu hingga saat ini menjadi sumber air bagi masyarakat Sabang. Setelah
keinginannya terpenuhi, sang putri kemudian menceburkan diri ke dalam laut
sehingga kemudian terciptalah pesona bawah laut Sabang yang sangat kaya dengan
terumbu karang yang indah tersebar di beberapa kawasan di sana terutama di
sekitar pulau Rubiah di lepas pantai Ieboih.
Komentar
Posting Komentar