Tari Pho, Rateb Meuseukat, dan Rapai Geleng di Aceh Barat Daya

Pendahuluan
Kabupaten Aceh Barat Daya terletak di bagian Tenggara Provinsi Aceh yang berjarak sekitar 394 km dari Banda Aceh. Wilayah ini dikelilingi oleh laut dan gugusan pegunungan Bukit Barisan. Secara geografis, kabupaten ini terletak pada koordinat 96º 23'03" dan 96º 23'03" BU dan 3º 05' dan 3º 80' LU dengan batas-batas wilayah sebagai berikut : di Utara berbatasan dengan kabupaten Gayo Lues; di Selatan berbatasan dengan kabupaten Aceh Selatan dan Samudera Indonesia; di Barat berbatasan dengan kabupaten Nagan Raya, dan di Timur berbatasan dengan kabupaten Gayo Lues.[1]
Pada masa Kerajaan Aceh Darussalam, daerah ini terdiri atas beberapa kerajaan kecil di pesisir Barat Aceh seperti; Susoh, Kuala Batu, Pulau Kayu, Kuta Batee, dan Manggeng. Masa kesultanan daerah ini di bawah kontrol Raja Bujang dari Trumon. Masa penjajahan Belanda daerah ini diintegrasikan ke kabupaten Aceh Barat yang disebut Westkust van Atjeh. Setelah kemerdekaan Republik Indonesia, tepatnya tahun 1956,[2] kabupaten ini resmi tergabung ke Kabupaten Aceh Selatan. Kabupaten Aceh Barat Daya resmi dimandirikan pada masa pemerintahan Megawati Sukarno Putri sebagai pemimpin tertinggi Indonesia pada tahun 2002.[3]
Dari jejak historis, kesenian di Aceh Barat Daya tampaknya sangat dipengaruhi oleh adanya kedatangan orang Aceh dari Pidie dan Aceh Besar, ketika maraknya pembukaan lahan pertanian padi dan lada pada abad ke-17 hingga 18. Sebelumnya, di kawasan ini sudah terlebih dulu diduduki oleh orang Gayo (sebelum menganut Islam, “dalam istilah lokal” mereka disebut “Batak 27”). Kemudian datang pula Urang Jamu atau Aneuk Jamee dari Sumatera Barat. Mereka berdiam di sekitar muara sungai atau pun pinggiran pantai. Akibatnya orang “Batak 27” semakin terdesak oleh kedatangan orang Aceh dan orang Aneuk Jamee. Hal ini menyebabkan mereka semakin menjauh ke pedalaman Aceh barat Daya yang disebut daerah “guhabatak”. Lama-kelamaan setelah Islam tersebar ke dataran tinggi Gayo, mereka yang disebut “Batak 27” dikenal sebagai Belah Bebesan di Aceh Tengah dan sebagian penduduk Kabupaten Gayo Lues sekarang.
Saling pengaruh-mempengaruhi antarbudaya dari beberapa subetnis yang hidup di daerah ini terlihat dari perkembangan beberapa kesenian yang masih bertahan sampai saat ini, di antaranya; Tari Pho, Rapa’i Geleng, Rateeb Meuseukat, Silek dan Geulumbang.
A.    Tari Pho
Menurut beberapa sumber, seni pertunjukan Pho[4] telah ada sejak zaman dahulu di Kabupaten Aceh Barat Daya dan mempengaruhi daerah di sekitarnya.[5] Seni pertunjukan ini diperkirakan masih berkembang pada masa penjajahan Belanda atau pada sekitar awal abad ke-20 hingga perlawanan pejuang Aceh semakin melemah, dan hanya menyisakan serangan-serangan sporadis saja hingga tahun 1926.
Jika ditelisik dari lirik syair pada segmenTum Beude” yang menyebutkan syair tentang kewafatan pahlawan nasional “Teuku Umar” seni ini masih berkembang pada awal abad ke-20. Namun ditelusuri lebih jauh, bisa saja kesenian ini sudah lama berkembang sebelumnya, yaitu masa Kerajaan Kuala Batu pada akhir abad ke-18 dan awal abad 19. Hal ini bisa saja terjadi, karena terus mengalami dinamika dan pembaruan juga inovasi dari lirik syair saja dari masa ke masa. Sedangkan jika diteliti dari setting kisah “Malelang dan Madion” yang terkandung di dalam tari Pho, sangat memungkinkan kesenian ini telah berkembang pada masa tidak lama setelah periode Kerajaan Kuala Batu tersebut.
Perkataan “pho” berasal dari kata “peuba-e po”.peuba-e” artinya sama dengan “meuratoh” dan “meuratok”, atau kira-kira hampir sama dengan meratapi nasib namun disampaikan dalam kisah lirih yang mengandung unsur tragedi. Kata “pho” dalam bahasa Aceh adalah sebagai suatu sebutan untuk panggilan kehormatan dari masyarakat kepada “Tuhan Yang Maha Kuasa” atau pun “penguasa”. Kata  ini diasumsikan dengan kata “Po” yang lazim disandangkan dengan kata sifat lainnya, seperti “Po Teu Allah”, “Allah hai Po”, “Ee Po”, dan lain sebagainya sebagai sebutan penghormatan dan keluh-kesah kepada “Tuhan yang maha kuasa”. Selain itu juga, ada kata “Po Teu Meureuhom” sebagai sebutan untuk menghormati “raja” atau “sultan” yang sudah mangkat, misalnya Po Teu Meureuhom Daya sebagai sebutan untuk almarhum Sultan Salatin Alaidin Riayat Syah. Sebutan lainnya seperti “Po Cut” digunakan sebagai sebutan untuk menghormati putra mahkota dan “Teuku Po” untuk golongan bangsawan/uleebalang. Selain itu, juga ada sebutan “Ureung Po Rumoh”sebagai sebutan untuk istri yang dianggap sebagai “pemilik atau pewaris dari rumah tinggal” dalam konteks budaya dan sejarah di Aceh. Sedangkan sebagai wujud seni tradisi pertunjukan tari Pho dapat dilakukan beriringan antara tarian sekaligus nyanyian yang berisi syair-syair tragedi.
Pertunjukan seni ini dulunya dikhususkan untuk perempuan di daerah Westkust van Atjeh atau wilayah Kabupaten Aceh Barat.[6] Pertunjukannya biasanya dilakukan pada acara kematian tokoh kerajaan, pembesar, atau keluarga raja dengan melantunkan pantun-pantun dan syair-syair tragedi sebagai ratapan yang lazim digunakan pada masa lalu.[7] Tari Pho bermula dari tragedi atas terpidana mati sepasang remaja bernama Malelang dan Madion karena difitnah oleh Perdana Menteri dari Kerajaan Kuala Batu.[8]
Tarian ini dalam pertunjukannya dilakukan beberapa sesi, antara lain; saleum (salam), bineuh (ratapan), troun tajak mano (turun memandikan), jak kutimang (mari ditimang), ayen aneuk (ayunan anak), dan lanie sebagai penutup (peulet manok/adu ayam), bungong rawatu (bunga rawatu), tum beude (dentuman senapan), dan sebagainya.
Pertunjukan Pho diawali dengan saleum (salam). Di mana dua orang penari memasuki arena pertunjukan dengan melantunkan kata-kata Saleum. Kedua tangan dalam posisi sembah setengah dada. Diikuti oleh penari lainnya yang keluar secara berbaris sambil menyahuti kata-kata yang diucapkan oleh Syahi (pemimpin syair). Selanjutnya barisan ini mengambil posisi berdiri secara berbanjar menghadap ke arah penonton. Memasuki “Bineuh”, di mana “Syahi” memulai nyanyian dengan pembukaan dan para penari mengikuti irama bineuh tersebut sambil membentuk lingkaran untuk mengisahkan legenda Malelang dan Madion. Sedangkan pada “Troun Tajak Mano”, gerakan tarian menggambarkan kebiasaan bagaimana ibu memandikan anaknya. Komposisi pada saat gerakan ini adalah empat penari di depan. Dua pengantin duduk di atas kursi, sedangkan dua penari berdiri di depan serta empat penari lainnya berdiri di bagian belakang yang membentuk setengah lingkaran.
Pada bagian “Jak Kutimang”, gerakan tarian menggambarkan cara si ibu “men-doda idi” atau “mendendang-sayangkan” dengan penuh cinta kasih kepada anaknya. Pada komposisi gerak ini, empat penari membentuk lingkaran dan empat penari lagi membentuk lingkaran yang sama pula. Ketika bagian “Ayoun Aneuk”, gerak tarian menggambarkan cara ibu membuai anaknya di dalam ayunan. Komposisi gerak tarian pada sesi ini enam orang, tiga penari membentuk setengah lingkaran, dua penari lainnya berdiri di samping masing-masing sisi dari setengah lingkaran tersebut.
Pada bagian Lanie (penutup), gerak tarian bernuansa hiburan, nasihat, cerita, dan lain sebagainya. Di antaranya berisi Peuleut Manok, Alah Hai Ti, Tum Beudee, Grum Itek Mano, dan lain-lain. Pada akhir pertunjukan ini ditutup dengan Saleum (salam) sekaligus menandai akhir pertunjukan.
Pertunjukan tarian ini menggunakan pakaian tradisional Aceh dengan kostum baju kuning, celana panjang hitam berkasab, kain pinggang (ija sungket) berwarna merah hati atau hijau tua, dan selendang warna merah hati atau biru tua. Para penari memakai aksesori gelang kaki (gleueng gaki) dan gelang tangan (boh ru). Selain itu, juga menggunakan sanggul Aceh (sanggoi) dengan posisi agak tegak ke atas sedikit miring ke kanan. Selain itu, penari juga menggunakan sapu tangan berwarna merah, kuning, dan hijau.
Berikut syair dalam pertunjukan Pho, yaitu;
-          Syair ratapan;
Ade-ade si Malelang...bukon sayang Madion ma
Si Malelang ngon Madion...yang aneuk phon Malelang ma
Si Malelang jak ek pineung...meuteumeung dua-meudua
Teuma leumah dek peudana meuntro...narit geupeuwo geuba bak raja
Wahee raja neudeungo kamo...Nanggroe kakuto dipeubut dina
Oh ban deungo narit peudana meuntro...geuyu tueng reujang jino nyan makwa
Laju makwa geubeudoh reujang...sajan-sajan geujak bak raja
Oh saree troh makwa nyan keunan...teumanyong reujang laju di raja
Teuma geu meutanggoh tujoh uroe...bah len puwoe Malelang ma
Kareuna wasiet masa uro jeeh...Jino peukawen aneuk bandua
Tacok gaca meutujoh on...boh gaca phon Malelang ma
Tacok gaca tujoh boh tangke...gaca meu ukee Madion ma
Tasi keubeue putoh talhak...geuboh gumbak Malelang ma
Geusi keubeue di teungoh blang...geukoh andam Madion ma
Si Malelang kaleh meukawen...puteh licen geuba bak raja
-            Syair Pho:
a.      Syair ketika Saleum, yaitu:
Assalamulaikum teungku di sino...nyo pat kamo katroh meuteuka
Jaroe siplouh lon beuot lapan...meuah lon tuan beuraya-raya
Ranub neupajoh bungkoh neupulang...bek jeut keu utang singoh ngon lusa
Ranub kuneng on, tawoe bak ara...ranub kamo ba neu ujo rasa
b.      Syair ketika Bineuh, yaitu:
O bineuh lon balek laen...puteh licen seu’ot beurata
Bungong meulu cut keumang cot uro...paso dalam glah keu ubat mata
c.      Syair ketika tron tajak mano, yaitu:
Tron tajak mano...dara baro tron...tajak mano
Oh leh mano lake seunalen...ija san dusen seunalen mano
Geuboh gaca bak paleut jaro...gaca meu uke tujoh boh tangke
Dara baro geuboh ngon andam...ceudah hana ban takalon rupa
Daro baro laju geupeuduek...ateuh tilam duk bineh nun suja
d.     Syair ketika Jak Kutimang, yaitu:
Jak kutimang hai aneuk...jak kutimang...
bungong kumang hai aneuk...meuboh hate ma
Jak ku dodo do do da idi...meurapati po ka patah teu ot
e.      Syair ketika Peulot Manok, yaitu:
Peulot manok dalam geulanggang...tuak kelantan si rajawali
Peulot manok bak jambo madat...sisek ji ilat meble meucahya
Manok jalak ngon manok bireng...sabee tat lagak takalon rupa
Menyo talo manok lon tuan...lon ganto lalu yang sabee teuga
f.       Syair ketika Bineuh Bungong Rawatu, yaitu:
Oh bineuh bungong rawatu...meutalue lam laot raya
O bineuh sinyak dong dirat...tapot bungong rat paso lam ija
Bungong mancang keumang cot uro...luroh lam karang keunong uro
g.      Syair ketika Tum Beude, yaitu:
Tum beude…tum beude...tum beude bila nanggro…tum beude bila nanggro
Teuku Uma Johan Pahlawan...syahid digobnyan di Ujong Kalak
Di Ujong Kalak tugu pahlawan...tanda di sinan syahid panglima

B.     Tari Rateeb Meuseukat
Rateeb Meuseukat artinya adalah tarian berdoa atau memuji kepada Allah Yang Maha Esa. Tarian ini dilafalkan dalam bentuk dikee (zikir). “Rateeb” juga berarti sebagai doa dan pujian kepada nabi Muhammad SAW yang disebut juga selawat (seulaweuet). Sedangkan “Meuseukat” menurut sumber diambil dari kata “Maskawaihi” atau sebutan orang Aceh untuk Ibnu Maskawaihi seorang filsuf yang hidup di Baghdad, Irak yang digolongkan sebagai ulama besar oleh orang Aceh. Ibnu Maskawaihi hidup pada masa kesenian sedang berkembang pesat di Jazirah Arab (Asia Barat). Pada saat itu kesenian digunakan sebagai sosialisasi Islam sebagai media dakwah dalam mengajarkan ilmu tauhid, dan kerasulan nabi Muhammad SAW.
Setelah Islam menyebar di Aceh, seorang ulama sekaligus penyiar agama Islam di kerajaan Kuta Batee[9] bernama Teuku Muhammad Taib yang termasuk bangsawan di gampong Rumoh Baro, (Meudang Ara, Kecamatan Blangpidie Aceh Barat Daya, pen). Teuku Muhammad Taib sebelum memimpin pusat pendidikan di Rumoh Baro pernah belajar di Samudera Pasai dan tidak lama belajar di sana beliau meneruskan pendidikannya ke Baghdad Irak.[10] Beliau berguru kepada Ibnu Maskawaih ilmu agama dan pendidikan seni Islam. Setalah beberapa lama di sana dan telah memahami seluk-beluk ilmu pengetahuan lainnya, beliau kembali ke kerajaan Kuta Batee (Blangpidie), dan mulai mengembangkan ilmu pengetahuan yang diperolehnya dan beliau ditugasi sebagai pimpinan pusat pendidikan di sana.
Ketika pusat pendidikannya bertambah maju dan semakin banyak murib atau santri yang datang ke sana untuk belajar kepada beliau yang dibantu oleh menantunya Teungku Idris,[11] dan juga Teuku Ben Mahmud.[12] Murib dari sekolah ini dikhususkan untuk anak-anak perempuan, remaja, dan dewasa serta para ibu-ibu. Mereka selain menerima pelajaran agama, bahasa arab, juga pengetahuan mengenai kesenian yang selaras dengan tradisi yang islami karena seni dianggap sebagai unsur sosialisasi dakwah agama untuk memperkokoh iman dan takwa kepada penciptanya.
-          Seni Pertunjukan
Tari Rateeb Meuseukat pada awalnya dikhususkan dalamn menyongsong hari kelahiran nabi (haul nabi Muhammad SAW) yang disebut “Molod Pang Ulee” atau “Maulid Nabi” sejak dari hari pertama bulan Rabiul Awal. Selawat dan pujian kepada Rasulullah yang dikumandangkan oleh para murid-murid yang dipimpin oleh seorang pemimpin yang melakukan gerakan-gerakan tangan ke dada, kepala yang digelengkan ke kanan dan ke kiri serta cara duduknya bersamaan dengan gerak dan laku dalam shalat. Selanjutnya dengan menyilangkan jari-jemari antarpenari dengan gerakan sangat cepat. Selawat dengan cara seperti ini, lama-kelamaan mendapat sambutan dari masyarakat dan selanjutnya mendapat pengayaan dalam bentuk di gerakan-gerakannya sehingga menjadi seni tari saat itu.
Pada masa itu, kesenian Rateeb Meuseukat hanya dapat ditonton dan dipertontonkan oleh kaum perempuan saja, dan tidak diperbolehkan untuk dipertontonkan kepada kaum laki-laki. Apabila ada penyambutan bulan “Maulid Nabi” ini selesai diadakan di pusat pendidikan ini, baru selanjutnya boleh dilakukan di tempat lain di sekitar daerah tersebut. Namun, setelah akhirnya kolonial Belanda membuang pencetus Rateeb Meuseukat, yaitu; Teuku Muhammad Taib ke Demak, Jawa Tengah karena dianggap telah membangkitkan dan mengobarkan semangat perlawanan kepada Belanda. Baru setelah mengalami kebutaan di pengasingan, beliau dikembalikan lagi ke Rumoh Baro, Meudang Ara, Blangpidie hingga meninggal dunia di sini.  Sedangkan Teuku Ben Mahmud pada awalnya dibuang ke Makassar, dan kemudian dikembalikan ke Blangpidie. Seterusnya beliau masih bergerak di bawah tanah melakukan perlawanan terhadap Belanda sehingga dibuang lagi ke Maluku. Sedangkan Teuku Idris yang sejak dibuang ke Maluku Utara di Ternate, beliau tidak mau kembali lagi ke Aceh Barat Daya hingga akhirnya wafat di tanah pengasingan. 
-          Sifat pertunjukan
Seni ini bersifat ritual, juga memperkuat semangat untuk mempertebal perjuangan membela agama, nusa, dan bangsa.
-          Tatacara pertunjukan
Peserta tarian ini tidak terbatas. Apabila seseorang sudah merasa kelelahan langsung dapat digantikan oleh kawannya. Pertunjukan diawali seacara duduk dan terakhir semua penari berdiri di tempat masing-masing dengan pakaian Aceh yang dipakai sehari-hari. Pakaian yang digunakan penarinya sama dengan tarian Pho.
-          Fungsi
Fungsi seni pertunjukkan ini adalah sebagai; upacara/ritual menyambut kelahiran Nabi Muhammad SAW dan media sosialisasi dan pendidikan karakter.
-          Komposisi
Duduk berbanjar dengan berlutut seraya mengucapkan ucapan pemujaan kepada Allah SWT dan pujian kepada Nabi Muhammad SAW.
C.    Rapa’i Geleng Manggeng
 Rapa’i adalah salah satu alat tabuh seni yang berkembang di seluruh Aceh, khususnya di pesisir. Rapa’i (alat musik pukul) terbagi beberapa jenis permainan, seperti; Rapa’i Daboih, Rapa’i Pasee, Rapa’i Pulot, Rapa’i Lagee/Macam, Rapa’i Geurimpeng, dan Rapai Geleng. Menurut penuturan orang dari masa ke masa, nama Rapa’i diadopsi dari nama orang pertama yang mengembangkan alat musik pukul ini Syeikh Rifa’i. Syair yang dibawakan tergantung pada Syahi (pembawa syair). Syair-syair itu banyak dan terus berkembang mengikuti dinamika perkembangan zaman, namun tetap pada fungsinya, yaitu sosialisasi dakwah dan sudah berkembang ke politik juga. 
Rapa’i Geleng ini sudah berkembang di Aceh Selatan dan Aceh Barat Daya, namun tidak diketahui siapa pengembangnya. Seni Rapa’i Geleng juga menyertakan gerakan tarian yang melambangkan sikap keseragaman dalam kerjasama, kebersamaan, dan kekompakan dalam lingkungan kehidupan masyarakat. Tarian ini mengekspresikan dinamisasi masyarakat dalam syair (lagu-lagu) yang dinyanyikan, kustum dan gerak dasar dari unsur (tari meuseukat).
Fungsi dari tarian ini adalah sosialisasi keagamaan, menanamkan nilai moral dan menumbuhkan karakter masyarakat, serta menginterpretasikan kehidupan sosial masyarakat. Rapa’i Geleng pertama kali dikembangkan pada tahun 1965 di Pesisir Barat Selatan. Saat itu,  tari Rapa’i Geleng dipertunjukan  ketika mengisi jeda waktu murib atau santri yang jenuh usai belajar ilmu pengetahuan baik dunia maupun akhirat. Lalu, tarian ini dijadikan media sosialisasi dakwah karena dapat membuat daya tarik dari penikmat seni.
Tarian ini berbeda dengan tari Rateeb Meuseukat karena dimaksudkan untuk laki-laki. Penari dalam pertunjukan ini biasanya berjumlah 12 orang laki-laki yang sudah terlatih. Syair yang dibawakan adalah sosialisasi bagaimana kehidupan bermasyarakat yang beragama, memiliki solidaritas dan kreativitas yang dijunjung tinggi.
Pertunjukan seni tari Rapa’i Geleng ada 3 (tiga) bagian, yaitu: 1)Saleum (Salam); 2). Kisah (kisah rasul/nabi, raja, dan ritual keagamaan), 3). Lanie (penutup) 
Dalam Rapai’i Geleng; pesan perlawanan dalam Tari Aceh seperti : “Alhamdulillah pujo keu tuhan nyang peujeut alam langet ngon donya teuma seulaweut ateuh janjongan panghulee alam rasul ambiya (Segala Puji kepada Tuhan yang telah menciptakan langit dan dunia selawat dan salam kepada junjungan penghulu alam Rasul Ambiya). Selanjutnya “Nanggroe Aceh nyo Tempat Loun lahee bak ujoung pantee pulo Sumatera, dilee barokon lam jaro kaphe...jino hana lee aman sentosa… (“Daerah Aceh ini tempat kelahiranku, di ujung pantai pulau Sumatera,  dulu berada di tangan penjajah; kini telah aman dan sentosa”)
Pakaian yang digunakan dalam pertunjukan seni tari ini berwarna hitam dan kuning dipadu manik-manik merah. Dalam atraksi pertunjukannya Penari serempak menggebrak panggung dengan cara duduk bersimpuh. Gerakannya mengikuti tabuhan rapa’i yang berirama satu per satu, lambat, kemudian berubah semakin cepat mengiringi gerak tubuh dalam posisi duduk bersimpuh, meliuk ke kiri dan ke kanan. Gerakan semakin cepat dan bertambah cepat mengiringi ritme dering dan bunyi tabuhan rapa’i.
Pada dasarnya, ritme gerak pada tarian Rapa’i Geleng hanya terdiri dalam empat tingkatan, yaitu; lambat, cepat, sangat cepat dan diam. Keempat tingkatan gerak tersebut merupakan miniatur karakteristik masyarakat yang mendiami posisi paling ujung pulau Sumatera, berisikan pesan-pesan pola perlawanan terhadap segala bentuk penyerangan pada eksistensi kehidupan Agama, politik, sosial dan budaya mereka.
Pada gerakan lambat, ritme gerakan tarian Rapa’i Geleng tersebut coba memberi pesan semua tindakan yang diambil mesti diawali dengan proses pemikiran yang matang, penyamaan persepsi dan kesadaran terhadap persoalan yang akan timbul di depan sebagai akibat dari keputusan yang diambil merupakan sesuatu yang harus dipertimbangkan dengan seksama. Permintaan maaf dan permakluman terhadap sebuah kesalahan adalah sesuatu yang mesti di berikan bagi siapa saja yang melakukan kesalahan. Pesan dari gerak beritme lambat itu juga biasanya diiringi dengan syair-syair tertentu yang dianalogikan dalam bentuk-bentuk tertentu. Sebagai contoh bisa tergambar dari nukilan syair dari salah satu bagian tarian;
Meunyo kahana raseuki, nyang bak bibi roh u lua. Bek susah sare bek seudeh hatee, tapikee laen ta mita (Kalau sudah tak ada rezeki, yang sudah di bibirpun jatuh ke luar...janganlah susah, janganlah bersedih hati, mari kita pikirkan yang lain untuk dicari). Kata “raseuki” yang bermakna “rezeki” dalam syair di atas, merupakan simbol dari peruntungan. Bagi masyarakat Aceh, orang yang melakukan perbuatan baik kepada mereka disimbolkan sebagai suatu keberuntungan. Simbol sebaliknya, ketika orang melakukan perbuatan jahat, maka diartikann ketidakberuntungan nasib, dan ketidakberuntungan itu harus diterima dan dimaafkan.
Gerakan beritme “cepat” adalah gerak kedua, sesaat pesan yang terkandung dalam gerakan beritme lambat namun sarat makna usai dituturkan. Pada gerakan ini, pesan yang disampaikan adalah pesan “sikap” ketika perbuatan jahat, yang disimbolkan sebagai ketakberuntungan nasib, kembali dilakukan oleh orang atau institusi yang sama. Penyikapan tersebut bisa dilakukan dalam bentuk apapun, tapi masih sebatas protes keras belaka.
Seperti bunyi syair berikut; Hai laot sa, ie laot umbak meualoun kapai dieik-troun meulumba-lumba. Hai bacut teuek, salah bukon salah loun, salah mulapoun awai bak gata (Hai laut yang berombak yang mengayunkan kapal naik dan turun berlomba-lomba. Hai sedikit lagi, kesalahan bukan salahku, engkaulah yang mengawalinya). Gerakan beritme “cepat” ini tak lama, kemudian disusul dengan gerakan dengan ritme “sangat cepat” yang mengisyaratkan chaos menjadi pilihan dalam pola perlawanan tingkat ketiga. Sebuah perlawanan di saat protes keras tak dipedulikan. Tetabuhan rapa’i pada gerakan ritme “sangat cepat” inipun seakan menjadi tetabuhan yang menghentak keras, menghantam seluruh jiwa, membalut kekuatan syair menjadi pesan yang mewajibkan perlawanan dalam bentuk apapun ketika harkat dan martabat bangsa telah diinjak-injak.
Gerakan dengan ritme “cepat” pada tarian Rapa’i Geleng ini bisa menjadi contoh sederetan syair, seperti; “doda idi hai doda idang geulayang blang ka putoh talo beureujang rayeuk banta sidang jak tulong prang musoh nanggro” (doda idi hai doda idang...layangan sawah telah putus talinya cepatlah besar wahai ananda pergilah, perangi musuh negeri). Pada titiknya, semua gerakan tadi berhenti, termasuk seluruh nyanyian syair. Ini merupakan gerakan akhir dari tarian. Gerakan diam merupakan gerakan yang melambangkan ketegasan, habisnya semua proses interaksi.
Rapa’i Geleng Kabupaten Aceh Barat Daya sampai saat ini masih menjaga eksistensinya seperti yang dipertunjukan pada atraksi budaya di Pekan Kebudayaan Aceh VI sebagai juara pertama. Rapa’i Geleng kabupaten ini yang diwakili Sanggar “Bujang Juara” dari gampong Seunelop Kecamatan Manggeng. Sanggar ini sudah mengikuti berbagai perform; baik di Taman Mini Indonesia Indah Jakarta dalam maupun di luar negeri, seperti; Spanyol dan Amerika Serikat.
Kesenian Rapa’i Geleng dan Rateeb Meuseukat masih tetap diminati masyarakat di Kabupaten Aceh Barat Daya, sedangkan tari Pho masih perlu dihidupkan kembali agar tidak segera mengalami kepunahan.
Penutup
            Seni pertunjukan di Aceh Barat Daya adalah wujud kreativitas di masa lalu yang dipengaruhi oleh berbagai seni pertunjukan di Aceh. Perkembangan ini dikarenakan kesesuaian dengan karakteristik penduduknya yang dipengaruhi oleh budaya Aceh dan Aneuk Jamee yang islami. Pengaruh seni ini terus bertahan dan berdinamika mengikuti perubahan budaya dan masyarakat dari waktu ke waktu hingga saat ini.
Tari Pho, Meuseukat dan Rapa’i Geleng yang pernah berkembang dengan pesat di Aceh Barat Daya pada masa lalu, namun kini sebagian sudah hampir dilupakan dan sebagian lagi masih berkembang, terutama di sanggar-sangar di sekolah dan universitas. Ketiga kesenian lokal Aceh Barat Daya ini harus dilestarikan dan dikembangkan menjadi seni pertunjukan yang dapat disesuaikan dengan perkembangan zaman karena dapat digunakan sebagai media sosialisasi pendidikan agama, kepentingan seremonial, dan penunjang pariwisata sebagai seni pertunjukan tradisional yang khas. Tentu saja hal ini akan menarik minat wisatawan atau tamu kehormatan yang datang ke sana, ketika mereka disambut di bandara, di terminal, atau di pelabuhan dengan tarian khas dari tempat lahir, tumbuh dan berkembangnya ketiga seni tersebut.
Pemerintah Aceh Barat Daya dan dinas terkait yang berkompeten di bidangnya pantas melestarikan kesenian tersebut dengan menggali dan mengkaji unsur produktivas dan kreativitas seni di masa lalu di wilayah kerjanya sebagai sumber pembelajaran bagi generasi seni di masa kini dan masa mendatang agar lebih aktif, kreatif, dan inovatif membangun dan mengembangkan seni dan budayanya karena seni mencerminkan karakter dan jati diri masyarakat dalam merepresentasikan ekspresi perjalanan historis (secara temporal dan spasial) dari suatu masyarakat.
Dari kesenian juga kita bisa belajar “karakter” dan “jati diri” masyarakat Aceh Barat Daya di dalam perjalanan historisnya dari masa ke masa; mulai dari masa kerajaan, masa penjajahan, masa kemerdekaan, sampai saat ini, seperti yang tersurat dari kisah di dalam bait-bait karangan sang penyair yang mewakili kreativitas zamannya.  



[2]Dibentuk berdasarkan Undang-Undang Darurat, No. 7 Tahun 1956, tanggal 4 November 1956.
[3] Dibentuk berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 tahun 2002 tanggal 10 April 2002. Di mana Aceh Selatan dipecahkan menjadi Aceh Selatan, Aceh Barat Daya dan Aceh Singkil
[4]Athaillah, et.all., Kesenian Tradisional Aceh, Hasil Lokakarya 4 S/D 8 Januari 1981 Di Banda Aceh: Banda Aceh : Depdikbud, Kanwil Provinsi Daerah Istimewa Aceh, Proyek Pengembangan Kesenian, Daerah Istimewa Aceh, hlm. 179, dan lihat juga Lailisma Sofyani dan H.Ikhsan, Tari-Tarian di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam;  Suatu Dokumentasi, (Banda Aceh: STCND Meuligoe NAD, 2004).
[5]Konsep space wilayah “Kabupaten Aceh Barat Daya” yang digunakan karena temporal kajian ini menggunakan term baru setelah pemekaran wilayah, sejak tahun 2002. Sebelumnya daerah ini dikenal sebagai wilayah di Kabupaten Aceh Selatan, yaitu; sejak tahun 1956-2002. Sebelumnya tahun 1956, daerah ini terintegrasi ke kabupaten Aceh Barat atau Afdeeling Westkust van Atjeh, sehingga banyak referensi lama yang menyebutkan seni Pho dari Aceh Barat dan Rapa’i Geleng berasal dari Aceh Selatan. Namun dikaji dari konten dan setting latar Pho yang menyebut Kerajaan Kuala Batu (Kecamatan Kuala Batee) dari kisah Malelang dan Madion juga seni Rapa’i Geleng dari Kecamatan Manggeng yang melahirkan grup seni “Bujang Juara”, maka klaim sejarah terhadap seni-seni tradisional tersebut, secara gamblang menjadi karya budaya “Kabupaten Aceh Barat Daya” pada masa lalu meski pun secara hukum formal kabupaten ini baru lahir pada 10 April 2002 dengan U.U. No.4/2002 yang ditandatangani presiden Megawati Sukarno Putri.
[6]Tarian ini terkenal ketika Belanda memasuki Pesisir Barat Aceh bawal abad ke-20, setelah berhasil menduduki daerah ini sejak tahun 1890-an - 1942 dalam rangka mengejar pasukan muslimin Aceh hingga masuknya Jepang ke sana. Saat ini Kabupaten Aceh Barat sudah menjadi beberapa kabupaten, seperti Aceh Jaya, Aceh Barat, Nagan Raya, Aceh Barat Daya, Aceh Selatan, Simeulue, Kota Subulussalam dan Kabupaten Singkil. Aceh Barat Daya sebelum berdiri sendiri sendiri tahun 2002, tergabung ke Kabupaten Aceh Selatan.
[7]Tarian ini dipengaruhi oleh budaya zaman pra-Islam. Setelah Islam berkembang dan mulai dipahami dengan baik oleh masyarakat di sana, tari ini tidak dipertahankan sebagai pertunjukan ritual di kematian lagi karena dalam Islam tidak membenarkan untuk meratapi sampai meraung-raung orang yang sudah meninggal, karena kematian adalah suatu sunatullah sehingga dibutuhkan kesabaran setiap orang untuk menghadapi musibah yang menimpa diri dan keluarga, serta kerabat dekat lainnya sehingga kemudian tarian ini hanya berfungsi sebagai seni pertunjukan semata.
[8]Kuala Batu pada awalnya penyangga negeri Susoh, namun mengalami pertumbuhan dan kejayaan, dan berkembang menjadi salah satu pelabuhan yang ramai dan banyak disinggahi kapal pedagang internasional dari Eropa dan Amerika Serikat. Pemimpin komunitasnya berasal dari Pidie bernama Keucik Karim. Ia membuka pertanian lada di pedalaman wilayahnya. Penduduknya mayoritas mengusahakan pertanian lada, menanam padi, mengumpulkan hasil hutan dan perdagangan maritim yang berpusat di sekitar pelabuhan. Kuala Batu dalam perjalanan sejarahnya mengalami hancur-lebur usai diserang oleh armada angkatan laut Amerika Serikat Potomac pada tahun 1832.
[9]Kerajaan-kerajaan kecil yang dihuni orang Pidie di Kuta Batee tersebar di beberapa tempat, seperti Kuta Tinggi, Kuta Parek, Keude Pasi Ara, Kuta Padang, Lampoh Drien, Alue, dan Ie Mameh. Pada awalnya daerah ini termasuk ke dalam Susoh yang dikuasai oleh orang Minangkabau (Aneuk Jamee). Gelombang pertama migrasi orang Pidie dipimpin oleh Teuku Lampoh Deu. Mereka mendiami Kuta Batee yang kemudian lebih dikenal sebagai “Blang Pidie”(sawah orang-orang Pidie). Komunitas ini membuka lahan untuk persawahan untuk pertanian padi. Gelombang migrasi orang-orang Pidie keselanjutnya dipimpin oleh Teuku Ben Agam. Mereka membentuk komunitas di Pulo Dua, selanjutnya membentuk benteng perkampungan di Kuta Sabi. Pada awal abad ke-19, datang lagi gelombang migrasi orang-orang Pidie dipimpin oleh Teuku Chik Bo Kuta. Mereka membangun komunitasnya di Kuta Tinggi. Gelombang migrasi kelompok orang-orang Pidie selanjutnya dipimpin Panglima Langsa. Mereka mendiami daerah Lampoh Drien. Selanjutnya datang lagi orang-orang Pidie dipimpin oleh Pang Ujoh yang mendiami daerah Kuta Tuha. Setiap gelombang migrasi membentuk komunitas yang independen dan terlepas satu dengan yang lainnya berdasarkan pengelompokan kawom. Namun, di antara komunitas-komunitas ini saling curiga-mencurigai, sehingga sering terjadi konflik dan peperangan di antara mereka. Peperangan antarkomunitas terus berlanjut dan baru berakhir setelah Tuanku Husin bin Sultan Ibrahim bergelar Sultan Alaiddin Mansursyah (1836-1870) mendamaikan dan mengakui kemandirian Kuta Batee dari kenegerian Susoh di bawah pimpinan Teuku Ben Agam. Selanjutnya dilanjutkan oleh anaknya Teuku Ben Abbas. Setelah wafat, diteruskan lagi oleh anaknya Teuku Ben Mahmud. Namun, saat itu Teuku Ben Mahmud masih belum cukup umur untuk menjadi raja sehingga dijabat oleh suami bibinya uleebalang Pulau Kayu Teuku Raja Sawang. Ketika dewasa, ia tetap tidak mau bekerjasama dan mengadakan resistensi terhadap Belanda, karenanya Teuku Ben Mahmud diangkat sebagai uleebalang oleh Sultan Aceh dengan gelar “Seutia Raja” pada tahun 1885. Sedangkan berdasarkan besluit Belanda, uleebalang Kuta Batee dijabat Teuku Raja Sawang dengan korte verklaring tahun 1880. Baru pada tahun 1908, Belanda mengembalikan jabatan uleebalang kepada Teuku Ben Mahmud, setelah ia berdamai dengan Belanda. Ia pernah memohon agar Kuta Batee yang sudah berganti nama menjadi Blangpidie dan Pulau Kayu masing-masing dimandirikan. Perjanjian itu telah tertuang dalam Akta No.10 tanggal 15 Juni 1901, ketika Teuku Raja Cut memerintah. Akan tetapi akta ini tidak berhasil diimplementasikan karena beliau terlebih dulu meninggal. Akibatnya Pulau Kayu tetap terintegrasi dengan Kuta Batee hingga berubah nama menjadi Blangpidie sejak tahun 1900.
Menurut laporan Belanda tahun 1910, uleebalang Blangpidie dan Pulau Kayu Teuku Umar. Uleebalang cut Kuta Tuha Teuku Ben Mahmud. Uleebalang cut Lampoh Drien, Teuku Dirih. Uleebalang cut Kuta Tinggi Teuku Lampoh U dan Teuku Raja Itam anaknya.
[10]Op.cit. Kesenian Tradisional Aceh, Hasil Lokakarya 4 s.d 8 Januari 1981 di Banda Aceh. Hlm.191-193. Namun ada juga yang menyebutkan Rateeb dan syairnya diciptakan oleh Teungku Chik Di Kila, sedangkan gerakannya oleh Teungku Abduurahim atau Habib Seunagan, lihat http://id.wikipedia.org/wiki/Tari_Rat%C3%A9b_Meuseukat, diakses 25 Mei 2014.
[11] Kakek dari Abdul Ghafur, Menteri Pemuda dan Olahraga pada zaman Orde Baru. Beliau dibuang ke Maluku Utara dan meneruskan kehidupannya di sana.
[12]Seorang gerilyawan Aceh Barat Daya “kaliber internasional” yang paling diburu marsose, dan akhirnya dipaksa berunding setelah keluarganya ditangkap dan dibawa ke Tapaktuan dan selanjutnya dibuang ke Maluku pada tahun 1903. 

Komentar

Postingan Populer