POCUT MEURAH INTAN, PEREMPUAN BERANI DARI PIDIE KE BLORA
PENDAHULUAN
Bulan November
adalah bulan untuk mengenang para pahlawan, karena setiap tanggal 10 November
telah ditetapkan sebagai “Hari Pahlawan”. Sedangkan bulan Desember adalah “Hari
Ibu’ yang notabene adalah ‘Hari Perempuan’ yang diperingati setiap tanggal
22 Desember sejak kongres perempuan 22-25 Desember 1928 di Yogyakarta. Di
Indonesia, pahlawan ternyata tidak hanya didominasi oleh laki-laki, karena perempuan
pun ternyata banyak sekali yang mencatatkan namanya di panggung sejarah bangsa kita
meskipun belum semuanya ditetapkan oleh pemerintah menjadi Pahlawan Nasional.
Sejarah Indonesia
mencatat banyak kisah perempuan yang menjadi tokoh teladan bagi kita kekinian. Banyak
perempuan Indonesia pernah
mencatat namanya sebagai pemimpin di masa lalu. Di Jawa, Ratu Sima pemimpin
Kerajaan Kaling pada tahun 618. Selanjutnya, Pramodawardhani menjadi ratu pada
masa Dinasti Syailendra pada tahun 842. Ada lagi Tribuana Tungga Dewi yang
memimpin Majapahit pada tahun 1328-1350. Ketika itu kerajaan ini sedang
bergejolak setelah Raja Hayam Wuruk mangkat, sehingga Gajah Mada menjadi dikenal
sebagai Patih pada saat itu.
Pada masa
kerajaan Samudera Pasai (abad XIII-XVI),[1]
perempuan Aceh telah berhasil mendobrak dominasi laki-laki sebagai pemimpin di ranah
publik. Aceh pernah dipimpin oleh Sultan perempuan, seperti; Malikah Nur Ilah
atau Nurul Akla (1380) yang semasa dengan kejayaan Kerajaan Majapahit yang ketika
itu diperintah oleh Prabu Hayam Wuruk.[2] Sultanah
Nahrasiyah (1400-1428) yang merupakan isteri Malik al-Zahir. Ayahnya adalah
Sultan Zainal Abidin yang juga cucu dari Sultan Malik al Shaleh.[3] Kedua
perempuan ini memerintah di Kerajaan Samudera Pasai.
Pada
masa Kerajaan Aceh Darussalam (1514-1904), empat perempuan pernah menjadi
pemimpin adalah; Sultanah Tajul Alam Safiatuddin Syah (1641-1675); Sultanah
Nurul Alam Naqiatuddin (1675-1678 M); Sultanah Inayat Zakiatuddin Syah
(1677-1688 M); Sultanah Kamalat Zainatuddin Syah (1688-1699).[4] Bahkan
pada era Sultanah Safiatuddin Majelis Mahkamah Rakyat Aceh Besar pernah
beranggotakan perempuan sebanyak 15 orang dari keseluruhan 73 orang.[5]
Selanjutnya,
pada masa perjuangan melawan kolonialisme asing (Portugis dan Belanda), Aceh
melahirkan banyak pahlawan perempuan yang sekarang lazim disebut srikandi. Mereka
di antaranya adalah; Laksamana Keumalahayati, Laksamana Muda Cut Meurah Inseun,
Keumala Cahaya, Cut Limpah, Cut Nyak Keureuto, Pocut Baren, Pocut Meurah Intan,
Cut Nyak Dhien dan Cut Mutia.[6] Ada juga
perempuan yang ikut berjuang dan kemudian menjadi tokoh pendidik, seperti; Teungku
Fakinah dan Teungku Nyak Tanoh Abee.
Di Aceh,
meskipun tokoh perempuan sangat banyak, namun saat ini sudah tidak banyak yang
mengetahui kisah perjuangan mereka. Salah satunya adalah kisah perjuangan Pocut
Meurah Intan atau orang kampung di Aceh menyebutnya Pocut Meurah Biheu. Memang di
pinggir lintasan jalan nasional antara Banda Aceh-Medan, yaitu di sekitar
Puncak Saree terdapat sebuah Tahura (Taman Hutan Rakyat) yang dinamakan Tahura Pocut
Meurah Intan di perbatasan Kabupaten Aceh Besar dengan Kabupaten Aceh Pidie. Namun
generasi muda hanya mengetahui Saree sebagai pusat pelatihan gajah dan balai
pertaniannya saja. Tidak banyak yang kenal dengan tokoh perempuan yang oleh
orang Belanda dijuluki “heldafting” atau “gagah berani”
Kiranya kisah
Pocut Meurah Intan ini patut diketahui kembali oleh generasi muda untuk merawat
ingatan kita tentang bagaimana dahsyatnya perjuangan perempuan itu dengan anak-anaknya
dalam mempertahankan jati diri yang berkarakter yang patut dicontoh serta diteladani
oleh kita di masa kekinian. Memang banyak sumber yang telah menyorot banyak
tentang tokoh ini, namun beliau tetap tenggelam oleh tokoh Cut Nyak Dhien dan
Cut Meutia padahal perjuangannya bersama anak-anaknya melawan marsose Belanda
tidak boleh dilupakan oleh bangsa kita sehingga sampai saat ini belum dijadikan
sebagai pahlawan nasional.
SIAPA POCUT MEURAH INTAN?
Pocut
Meurah Intan sering disebut juga dengan nama Pocut Meurah Biheu.[7] Ia adalah
seorang perempuan Aceh yang mendapat julukan orang Belanda “Heldafting” atau
“Gagah Berani”. Ia berasal dari 6 Mukim Laweung, Batee, Kabupaten Pidie yang diperkirakan lahir pada tahun 1833. Tempat kelahirannya di gampong Lampadang,
6 Mukim Laweung, Pidie.
Biheue
adalah suatu daerah berbentuk uleebalang (negeri) yang merupakan wilayah
Sagoe 22 Mukim yang berada di bawah kekuasaan
Kesultanan Aceh. Pocut Meurah Intan adalah anak seorang bangsawan. Ia seorang perempuan
yang ikut berjuang mempertahankan kedaulatan tanah airnya dari penjajah Belanda
pada masa itu. Beliau juga merupakan “mak moe” atau ”ibu tiri” dari
permaisuri Sultan Alaiddin Muhammad Daud Syah, sultan terakhir di Kesultanan
Aceh Darussalam.
Wilayah Sagoe
22 Mukim merupakan daerah gerilya Panglima Polim dalam berjuang melawan
kolonial Belanda. Namun, pada perkembangan selanjutnya, Biheue dimasukkan ke wilayah
Sagoe 22 Mukim yang terdiri dari beberapa wilayah, yaitu; Pidie, Batee,
Padang Tiji, Kale dan Laweueng. Hal itu, dikarenakan adanya konflik politik di
akhir abad ke-19. Konflik politik tersebut akibat diinvasinya daerah tersebut
oleh Teuku Raja Pakeh Pidie dengan dukungan Teungku Di Buloh. Padahal
sebelumnya Biheu merupakan bagian dari Kabupaten Aceh Besar.
Ayah Pocut
Meurah Intan bernama Teuku Meurah Intan. Beliau adalah seorang Keujruen (Peutua) di Biheu. Sebelum meninggal, ia
menitipkan wasiet (pesan) yang ternyata dipegang teguh dan tetap membekas
di benaknya. “Bek sagai-sagai kameuget ngon kaphe” (“jangan sekali-kali
kamu menyerah pada Belanda dalam keadaan bagaimana pun”).[8] Pesan
inilah yang selalu diingat Pocut Meurah Intan di setiap perjuangan melawan
Belanda sehingga semangatnya tidak pernah surut dan gentar sedikit pun ketika menghadapi
pasukan marsose Belanda.
Di saat
dewasa, Pocut Meurah Intan melangsungkan pernikahannya dengan Tuanku Abdul
Madjid bin Tuanku Abbas bin Sultan Alaiddin Jauhar Alam Syah yang merupakan keturunan
Sultan Aceh Darussalam. Sultan Alaidin Jauhar Alam Syah pernah berkuasa di Aceh
pada periode 1795-1824. Tuanku Abdul Madjid sebelum perang dengan Belanda
adalah syahbandar (pemungut bea cukai) di pelabuhan Kuala Batee, Laweung Pidie.
Pada
awalnya, suaminya tidak mau berdamai dengan kolonial Belanda sehingga oleh
C.Snouck Hurgronje Tuanku Abdul Madjid sering digambarkan sebagai salah satu
kelompok ‘bajak laut Kuala Batee”.[9] Namun akhirnya,
suaminya memilih untuk berdamai dengan Belanda. Hal itu mengakibatkan Pocut Meurah
Intan meminta pasah (Arab: fasakh) atau berpisah dengan suaminya,
Tuanku Abdul Majid.
Ketika memilih
untuk berpisah, mereka sudah dikaruniai tiga orang anak laki-laki. Namun,
ketiga anaknya lebih memilih ikut dengan Pocut Meurah Intan. Mereka
bersama-sama ikut bergerilya di hutan di sekitar Laweung, Pidie. Mereka
sekeluarga menjadi gerilyawan yang setia kepada bangsa dan agamanya. Mereka bersama-sama
melakukan perlawanan terhadap kaphe-kaphe marsose Belanda di Biheu. Anak
tertuanya bernama Tuanku Muhammad atau lebih dikenal dengan nama Tuanku
Muhammad Batee. Sedangkan anak keduanya bernama Tuanku Budiman. Anak bungsunya bernama
Tuanku Nurdin.
DARI FRONT KE GERILYA
Ketika
ibukota Kerajaan Aceh terpaksa ‘dipindahkan’ ke Indrapuri setelah istana Aceh yang
disebut ‘dalam’ telah direbut Belanda pada tahun 1874. Setelah itu,
tidak lama kemudian, pusat kesultanan terpaksa berpindah lagi ke Keumala
Dalam di Pidie. Hal itu terjadi, karena semakin meluasnya peta wilayah
perang di Aceh Besar setelah Belanda semakin banyak mendatangkan tambahan pasukan
dari Batavia (Jakarta). Mereka mendatangkan lebih banyak lagi pasukan, sebagai upaya
untuk memberikan perlawanan yang memadai pada kesultanan Aceh. Di samping itu, juga
berupaya agar dengan mudah dapat mengalahkan perlawanan gerilyawan Aceh sehingga
peperangan secepat mungkin dapat diakhiri.
Dalam situasi dan kondisi yang kritis tersebut, pejuang-pejuang Aceh semakin terdesak oleh pasukan Belanda. Dalam keadaan seperti itulah, pasukan Aceh
mengubah tipologi perang, dari front ke gerilya. Perang
gerilya kemudian dikumandangkan di seluruh wilayah Aceh dari pesisir sampai
pedalaman. Banyak panglima perang terlibat dalam perang gerilya dan mereka berpindah-pindah
area; dari Aceh Besar ke Pidie, Bireuen, Aceh Utara, Aceh Timur, Aceh Tengah,
Aceh Barat hingga Aceh Selatan. Perang gerilya kemudian menjadi salah satu
model yang dipilih oleh para pejuang Aceh, mengingat kondisi geografi Aceh yang
sangat cocok untuk itu.[10] Akibatnya,
pertempuran sering terjadi setiap saat di
setiap daerah. Kedua belah pihak mengalami kerugian yang tidak terhitung, baik
materi maupun jiwa. Sebagian besar perjuangan
masyarakat Aceh dilakukan
secara bergerilya. Strategi
ini merupakan bagian perang ideologi dan perang rakyat semesta. Perang
gerilya membutuhkan kemampuan pertahanan yang hebat. Pejuang tidak hanya memiliki
kekuatan bersenjata, tetapi juga motivasi sebagai penggerak ideologi yang harus
selalu dibangkitkan dan dipertahankan di setiap waktu. Hanya ideologi yang diyakini
dengan kuat yang dapat melakukan perang gerilya. Para pejuang,
selain perlu kesabaran dengan berbagai kejadian yang tidak bisa diprediksi di hutan belantara juga waktu yang tanpa batasan serta medan gerilya yang sangat sulit harus
dijalani. Perang gerilya tidak
hanya dilakukan oleh masyarakat Aceh biasa. Sultan Aceh, uleebalang,
dan ulama pun ikut serta bergerilya di hutan-hutan belantara di Aceh sehingga pusat
pemerintahan Aceh pun harus berpindah-pindah, dari satu daerah ke daerah lain,
sesuai dengan kondisi dan situasi di medan pertempuran.[11]
Perang gerilya membutuhkan dukungan masyarakat secara massal dan geografi wilayah yang relatif luas.
Masyarakat yang terlibat juga harus memiliki kekuatan batin, ideologi, dan juga semangat perjuangannya. Wilayahnya pun harus luas dengan medan yang dijadikan sebagai basis
harus daerah yang sulit dilalui
oleh musuh. Daerahnya
harus tertutup dan tidak banyak
jalan-jalan utama. Daerah yang banyak gunung dan bukit dengan hutan belukarnya sebagai faktor dan syarat pokok perang gerilya yang memang
terdapat di medan perang di Aceh.[12] Hal
inilah yang membuat perang Aceh memakan waktu yang lama dan sangat sulit untuk
dipadamkan.
MEDAN GERILYA LAWEUNG DI PIDIE
Daerah Laweung dan Batee di Kabupaten Pidie sekarang adalah medan
gerilya yang dipilih Pocut Meurah Intan untuk melawan marsose Belanda. Dalam
bergerilya, ia didukung oleh ketiga orang anaknya, yaitu Tuanku
Muhammad, Tuanku Budiman, dan Tuanku Nurdin. Selain itu, ada juga panglima
perangnya yang setia bernama Pang Mahmud Lamgugob.
Sebelumnya,
perlawanan perempuan di Aceh telah banyak yang dicatat oleh Belanda. Mereka
menggambarkan keberanian perempuan
Aceh, terutama di Pidie terkenal dalam sejarah
kolonial. Zentgraaff mencatat;
“Dalam suatu
pertempuran ketika pasukan marsose Belanda berhasil
mengepung sebuah kampung di daerah Pidie. Saat suaminya tertembak, seorang perempuan langsung mendekap sang
suami ke pangkuannya. Saat mengetahui suaminya telah meninggal dunia, ia membiarkan suaminya terbaring di tanah. Lalu,
ia mengambil keuleuwang suaminya dan serta-merta menyerbu pasukan marsose yang telah menembak suaminya
tersebut. Namun pasukan marsose lainnya berhasil menebas pergelangan tangan kanan perempuan itu sehingga putus. Bukannya menyerah, tapi dengan sisa tenaga dan tangan kirinya ia berhasil
memungut lagi keuleuwang itu dari tangan kanannya yang sudah terputus. Gagang keuleuwang itu merah
dengan darah, lalu ia kembali menyerang kembali para marsose itu sampai ia syahid
dengan luka-luka di sekujur tubuhnya.[13]
Zentgraaff
mencatat, bagaimana keberanian perempuan Pidie lainnya, ketika pasukan Belanda
telah mengetahui tempat persembunyian pejuang di sebuah rumah di daerah Tangse,
pedalaman Pidie. Saat itu, pasukan marsose telah berhasil menaiki tangga rumah
tersebut, tetapi di pintu rumah telah berdiri seorang perempuan yang menghadang
dengan tangannya supaya marsose tidak bisa masuk ke dalam rumahnya. Lalu, ia berkata “Hana lako lon di rumoh” (“tidak ada suami saya di rumah”). Ketika pasukan marsose marah dan membentak, perempuan tersebut dengan suara keras juga berkata; “Bek neu cuba ek, nyo rumoh lon”
(“Jangan sekali-kali mencoba naik
ke rumahku!, ini rumahku”). Perempuan
itu lantang berteriak dan tidak memperbolehkan pasukan marose naik menghalang-halanginya.
Pasukan marsose menerebos masuk ke dalam rumah. Ia baru beranjak dari pintu,
setelah kakinya dipukul dengan popor senjata marsose. Proses penyergapan yang dihalang-halangi seperti ini memperlambat penggerebekan
dan memberi kesempatan pada pejuang Aceh meloloskan
diri dalam kegelapan malam,
sehingga pasukan marsose pulang tanpa
hasil.[14]
Selanjutnya,
ia mencatat hal yang dianggapnya
unik, yaitu; ketika Geldorp bersama
tiga pasukan marsose menyerbu tempat persembunyian pejuang Aceh.
Kelompok pejuang itu terdiri dari empat pasang,
terdiri dari suami bersama isteri mereka. Dalam penyergapan tersebut, keempat orang pejuang dapat dikalahkan dan syahid di
tangan marsose. Geldorp terkejut,
ketika isteri-isteri pejuang
itu mengambil
senjata-senjata suaminya dan menyerang balik pasukannya. Setelah bertempur secara membabi-buta, istri-istri pejuang itu pun juga syahid.[15]
BERCERAI UNTUK MEMIMPIN GERILYA MELAWAN BELANDA
Setelah
mengetahui suaminya Tuanku Abdul Majid memilih bekerjasama dengan Belanda, Pocut
Meurah Intan sangat marah. Ia menilai semangat juang suaminya sangat lemah karena
memilih untuk menyerah. Akibatnya, ia langsung memohon ‘Teungku Kadi’ (petugas
nikah) untuk “pasah” (berpisah/bercerai) dari suaminya tersebut. Secara hukum,
apabila hal itu dilakukan, maka seorang istri sudah tidak ada lagi ikatan
perkawinan dan tanggung jawab terhadap suaminya. Ia sudah bisa dengan bebas melaksanakan berbagai kegiatan di ruang
publik, termasuk bidang
kemiliteran dan perjuangan.
Pocut
Meurah Intan pun berkesempatan memimpin perjuangan melawan
Belanda dalam perang di daerah Biheu, Laweung, Lampanah dan Lamteuba. Wilayah tersebut terletak di antara Kabupaten
Pidie dan Kabupaten Aceh Besar kekinian. Ia berjuang bersama tiga orang anaknya yang dibantu Pang Mahmud, namun Belanda menyebutnya Waki Mud. Mereka bersama-sama melancarkan berbagai serangan dadakan terhadap Belanda, maupun mempertahankan diri
dari serangan balasan. Keadaan ini membuat Belanda semakin bertambah marah dan melancarkan serangan besar-besaran
karena menganggap Pocut Meurah Intan
bukan sembarang perempuan, tetapi sebagai satu
kekuatan yang sangat
berbahaya bagi kolonial Belanda.
Kisah Pocut Meurah Intan yang
gigih dan pantang menyerah dalam perjuangan melawan Belanda ditulis Zentgraaff sebagai berikut:
”Veltman atau dikenal sebagai ‘Tuan Pedoman’,
adalah seorang perwira yang baik hati. Ia pernah mengenal seorang perempuan
Aceh keturunan bangsawan, bernama Pocut Meurah Intan. Perempuan itu disangka
menyembunyikan sebilah keulewang di dalam lipatan kainnya. Ketika akan
digeledah, tiba-tiba ia mencabut rincong sambil
berteriak: ”kalau begitu
biarlah aku syahid”. Ia pun menyerbu brigade, anggota-anggota pasukan nampaknya
kurang bernapsu untuk bertempur dengan seorang perempuan yang berlaku sebagai ”singa betina” yang menikam ke
kiri dan ke kanan, dan sesaat kemudian perempuan itu pun terbaring di tanah”.[16]
Tertangkapnya
Pocut Meurah Intan pada tanggal 11 November 1902, terjadi ketika
pasukan Belanda yang dipimpin Mayor Jenderal
T.J.Veltman melakukan patroli di daerah Laweung, Biheu Pidie. Sebelumnya,
Biheu memang terkenal sebagai sarang gerilyawan yang telah dibersihkan dengan
penyisiran oleh Belanda.
Di tengah perjalanan patroli, Veltlman melihat seorang perempuan Aceh. Dari gaya dan tatapan
matanya, tampaknya
perempuan itu sangat memendam kebencian kepada
mereka. Veltman menyuruh 18 orang
anak buahnya untuk mengintrogasinya. Ketika patroli marsose semakin mendekat, perempuan
itu langsung mencabut rincong dan dengan segala daya upaya menyerang pasukan Veltman seorang diri. Penyerangan itu mengakibatkan Pocut Meurah
Intan mengalami luka-luka yang sangat
parah. Dadanya
berlubang terkena tembakan peluru. Salah satu urat di keningnya terputus. Ia
terbaring lemah di atas tanah dan berlumur darah serta lumpur yang mengotori
tubuhnya. Ia tergeletak di tanah seperti kain lusuh yang tidak berharga. Kasihan
melihat kondisi yang kritis seperti itu, seorang marsose berpangkat Sersan meminta
izin Veltman melepaskan tembakan pelepas nyawa untuk menghilangkan penderitaan
Pocut Meurah Intan. Namun, permintaan tersebut
tidak diizinkan Veltman dan mereka pun meninggalkan perempuan itu. Mereka berharap perempuan
tersebut dapat meninggal di tanah air
yang dicintainya.
Setelah beberapa hari kejadian penyerangan itu berlalu, Veltman yang sedang berjalan di Pasai Biheu
(suatu pasar di antara Sigli dengan Padangtiji). Di sana, ia mendengar informasi
bahwa Pocut Meurah Intan bukan saja masih hidup. Namun, ia berencana untuk
melakukan pembunuhan terhadap penduduk kampung yang telah menyerah kepada
Belanda. Ia menganggap, mereka telah berkhianat kepada bangsa dan perjuangan
Aceh.
Veltman baru mengetahui bahwa perempuan
tersebut adalah Pocut Meurah
Intan seorang pimpinan gerilya yang mereka
cari. Ia pun mencari informasi mengenai keberadaannya. Akhirnya, Pocut pun ditemukan di salah satu rumah
penduduk di sana. Tubuhnya pun telah dibungkus dengan balutan bermacam-macam kain. Kondisi
kesehatannya sangat menyedihkan. Di
atas luka-luka yang dideritanya telah dioleskan (lampok) berbagai dedaunan
yang tampak seperti ‘kotoran sapi’. Badannya tampak sangat lemah. Ia sering
menggigil dan mengerang kesakitan. Mungkin karena terlalu banyak mengeluarkan
darah dari luka-luka yang dideranya akibat tebasan pedang dan tembakan marsose
saat bertempur dengan pasukan Veltman.
Melihat kondisi Pocut Meurah
Intan yang kritis, Veltman pun tidak tega untuk langsung menangkapnya. Ia menawarkan bantuan kesehatan
untuk pengobatan dokter. Namun,
Pocut Meurah Intan tetap menolak. Veltman yang bisa berbahasa Aceh berusaha
membujuknya agar bersedia menerima tawaran untuk berobat. Melihat kesungguhan Veltman untuk menolong, barulah ia bersedia menerima
pertolongan medis. Proses penyembuhannya
berlangsung sangat lama akibat terlalu parah, kakinya pun menjadi pincang karena
cedera total yang dialaminya saat bertempur dengan marsose Belanda..
Berita tentang keberanian Pocut Meurah Intan bertempur
menghadapi pasukan Veltman dengan bersenjatakan sebilah rincong diketahui oleh komandan militer Scheuer.[17] Ia membaca dari catatan harian pasukan marsose sehingga sangat ingin menjenguk Pocut Meurah Intan yang sedang dalam pengobatan medis. Akhirnya,
ia yang didampingi Veltman
mendatangi Pocut Meurah Intan yang sedang dirawat dan ditahan di Kutaraja. Di depan Pocut Meurah Intan, Scheuer mengambil sikap selayaknya prajurit dan memberi hormat dengan meletakkan jari-jari di pinggir topi petnya. Scheuer berkata kepada Veltman, katakan; ”Saya merasa sangat kagum padanya”. Veltman meneruskan
ucapan Scheuer itu kepada Pocut Meurah
Intan.[18] Dalam diri Scheuer dan Veltman tertanam rasa simpati atas keberanian, daya tahan, dan sekaligus kekuatan menahan penderitaan Pocut Meurah Intan. Kekaguman mereka terus bertambah karena Pocut mampu mempertahankan apa yang diyakini tanpa tergoyahkan sedikit pun. Oleh karena
kekaguman itu, Veltman memberikan julukan kepada Pocut Meurah dengan sebutan “Heldhafting” (si gagah berani).
Ada hal yang tidak terpikirkan
dengan akal sehat, bahwa dalam diri
seorang perempuan seperti Pocut Meurah Intan tertanam jati diri dan karakter yang sangat kuat yang belum pernah dilihat sebelumnya. Di sinilah sebenarnya bagaimana
terrcermin sikap yang
sangat bijaksana dari musuh dan sikap menghargai dari yang ditawan.
Kekaguman Scheuer dan Veltman,
dapat dilihat dari pernyataan Zentgraaff tentang perempuan
Aceh
tersebut, yaitu:
”Tidaklah mungkin, walaupun hanya sepintas lalu, untuk membuat suatu
perhitungan betapa kontribusi perempuan-perempuan Aceh di dalam perjuangan. Saya hanya ingin berkata,
bahwa setiap bangsa, juga bangsa kita, boleh merasa bangga jika ia dapat
menunjukkan jasa-jasa para perempuannya yang dapat menandingi perempuan Aceh”.[19]
Setelah
sembuh, Pocut menjadi tahanan rumah di Kampung Keudah Kutaraja (Banda Aceh). Tidak lama kemudian, kedua anaknya Tuanku
Nurdin dan Tuanku Husen tertangkap. Begitu juga dengan panglima
perangnya Pang Mahmud. Meskipun
dalam status tahanan perang, mereka merencanakan melarikan diri untuk
kembali melakukan perlawanan
dengan bergerilya. Akan tetapi, usaha ini selalu diketahui oleh ”mata-mata” Belanda sehingga rencana itu gagal.
Setelah Pocut Meurah Intan ditangkap Belanda, Tuanku
Muhammad Batee masih melanjutkan perlawanan gerilya di Laweung dan Kalee. Anaknya
yang tertua akhirnya ditangkap Belanda pada tanggal 18 Februari 1905 di Lhok
Kaju.
Pada
tahun 1905, Tuanku Muhammad Batee diasingkan Belanda ke Tondano, Manado,
Sulawesi Utara. Sedangkan ibu bersama kedua adiknya Tuanku Budiman dan Tuanku
Nurdin beserta panglima perang Pang Mahmud Lamgugob dibuang ke Blora, Jawa Tengah
pada tanggal 6 Mei 1905. Hal ini mengindikasikan, bahwa pemisahan antara orang tua
dengan anggota keluarganya merupakan suatu hukuman sebagai
‘pukulan telak’ untuk mematahkan mental dan mempersempit hubungan
emosional di antara para keluarga pejuang Aceh. Itulah risiko perjuangan yang harus diterima oleh pejuang-pejuang Aceh
yang melawan Belanda pada
masa lalu.
Akhirnya,
Pocut Meurah Intan meninggal
sebagai tawanan Belanda di Blora, Jawa Tengah. Ia dimakamkan di desa Tegalan,
Tegalsari, Blora, Jawa Tengah. Makam Pocut Meurah Intan pertama sekali diketahui
setelah ditemukan makam bertuliskan “Mbah Cut dari Aceh” yang meninggal pada
tanggal 20 September 1937. Sekarang di makamnya sudah bertuliskan nama “Potjoet
Mirah Intan”. Hal itu diketahui setelah diselidiki Pemerintah Aceh pada tahun
1980-an. Ternyata benar makam itu adalah makam Pocut Meurah Intan “si gagah
berani” atau “heldafting” dari Biheu Laweueng Pidie.[20]
Di
tempat pengasingan di Blora Jawa Tengah, mereka meninggalkan ‘ikatan
persaudaraan” atau “meutaloe wareh” akibat terjadinya pernikahan salah
satu anak Pocut Meurah Intan bernama Tuanku Nurdin dengan Rasiah. Namun, Rasiah meninggal dalam usia muda dan tidak memperoleh
keturunan. Pada pernikahan kedua dengan Jumirah, Tuanku
Nurdin juga tidak memperoleh
keturunan. Mereka
mengambil beberapa ‘anak angkat’ yang sudah dianggap seperti anaknya sendiri.
Panglima
perang Pocut Meurah Intan bernama
Pang Mahmud Lamgugob
(Waki Mud) juga menikah dengan perempuan Blora. Ia dikaruniai sembilan orang
anak. Dari kesembilan anaknya tersebut, Pang Mahmud telah dikaruniai banyak
cucu dan buyut yang semuanya berdomisili di Tegalsari, Blora, Jawa Tengah.[21] Makam
Pang Mahmud Lamgugob terletak di Butoh, yang berjarak sekitar setengah
kilometer dari desa Tegalsari, Blora, Jawa Tengah.
Setelah
diketahui makam Pocut Meurah Intan berada di Blora, Jawa Tengah, Pemerintah
Aceh pada tanggal 18 April 1985 melakukan ziarah. Napak tilas ini dilakukan bersama Persatuan Eks Tentara Pelajar Resimen II Aceh Divisi Sumatera dan berbagai komponen
masyarakat Aceh. Mereka juga memperjuangkan Pocut Meurah Intan agar
ditetapkan sebagai pahlawan
nasional oleh pemerintah. Hingga sekarang belum ada penetapan, namun ‘intan
tetaplah intan meskipun adanya di kubangan”.
Begitulah
kisah keluarga Pocut Meurah Intan, meskipun dimakamkan di pemakaman umum di Tegalsari
dan dimakamkan bersama masyarakat biasa. Ia tetaplah “Pocut” sebagai keturunan
bangsawan kesultanan Aceh. Orang Belanda pun mengakuinya sebagai “heldhafting”
atau ‘si gagah berani’; gagah dalam berjuang dan berani atas apa yang
diyakininya hingga akhir hayat.
PENUTUP
Pocut
Meurah Intan adalah seorang perempuan bertipikal pejuang yang gagah berani,
tabah dan konsekuen tanpa kenal kompromi dengan musuh. Ia bersama anak-anaknya
dan panglima perangnya dibuang ke Blora, Jawa Tengah. Sedangkan anak tertuanya
Tuanku Muhammad Batee dibuang ke Sulawesi Utara karena dianggap bisa membahayakan
apabila terus dibiarkan hidup di Aceh.
Pocut
Meurah Intan merupakan perempuan yang hebat di bidang pertahanan dan
kemiliteran. Ia mampu bertahan di dalam perjuangan, namun tanpa mengabaikan
perhatian terhadap keluarganya terutama anak-anaknya.
Pocut
Meurah Intan meninggal di Tegalsari Blora Jawa Tengah pada tahun 1937, makamnya
tampak sederhana berdampingan dengan makam masyarakat biasa. Namun, nilai,
bobot dan harkat baginya sebagai pejuang dengan derajat kepahlawan yang tinggi.
Ia lebih memilih berpisah dengan suaminya yang berdamai dengan Belanda dan memilih
bergerilya bersama anak-anaknya melawan Belanda.
Semangat
juangnya perlu dilestarikan pada generasi muda penerus masa depan bangsa kekinian
sehingga bisa diambil hikmah dan keteladan dari nilai-nilai perjuangan sebagaimana
telah dilakukannya yang rela mengorbankan jiwa dan raganya demi harga dirinya sebagai
bangsa yang merdeka.
[1]Dalam Hikayat
Raja-Raja Pasai disebutkan, Kerajaan Samudera Pasai didirikan oleh Sultan
Malikul Saleh. Keberadaan sultan ini dibuktikan setelah meninggal, yaitu dari inskripsi pada batu nisan makamnya di Blang Me Aceh
Utara. Disebutkan wafatnya pada
tahun 697 H atau bertepatan dengan tahun 1297. Lihat juga dalam M.Said, Aceh Sepanjang Abad, Cet. II, (Medan: Waspada, 1981), hlm. 82.
[2]T.Ibrahim Alfian (ed.), Wanita Utama Nusantara Dalam Lintasan
Sejarah, (Jakarta: Agung Offset, 1994), hlm. 1-4. Pada
batu nisan makamnya tertera huruf Arab Jawi di bagian dalam dan huruf Jawa Kuno
di bagian luarnya.
[6]A.Hasjmy, dalam
Edriana Nurdin, Politik Identitas Perempuan Aceh, (Jakarta: Women
Research Institut), 2005, hlm. 29.
[7]Sudah lazim sebutan orang terkenal di
Aceh ditabalkan nama tempat kelahirannya. Biheue ini adalah suatu daerah yang terletak di antara Sigli
dan
Padang Tiji Kabupaten Pidie.
[8]Kumpulan Tulisan Teuku Ibrahim
Alfian, Pocut Meurah Intan, Srikandi Tanah Rencong yang Terbaring di
Tegalsari, tp, 1985, hal. vi.
[9]C.Snouck Hurgronje menyebutkan suami
Pocut Meurah Intan itu dengan istilah “perompak laut”. Ini ada kaitannya dengan tugas
yang diemban sebagai petugas kesultanan yang bertugas sebagai pengutip wasee (bea cukai) di pelabuhan Kuala Batee, Veltman, Op.Cit.1919:
151).
[10]Perang gerilya membutuhkan strategi
yang jitu, waktu yang lama, bahkan makananpun yang dikonsumsi itu harus dapat
dipilih yang tahan lama. Oleh karena itu apakah ini ada hubungannya dengan
berbagai jenis makanan di Aceh harus tahan lama seperti asam sunti, keumamah, wajek dan meuseukat.
[12] Ibid.,
hal. 45.
[14] Ibid.
[17]Kolonel Scheuere adalah seorang
opsir Belanda yang merebut Puri Cakra Negara di Lombok. Ia datang khusus
dari Lombok (NTB) ke Aceh guna bertemu dan memberi
penghormatan kepada srikandi ini, setelah turun berdamai.
Lihat Pemda Aceh, Perang Kolonial Belanda Di Aceh, Banda Aceh: tp, 1997, hlm. 183.
[20] Thajeb, Sharif, dkk., Pocut Meurah Intan: Srikandi Nasional dari
Tanah Rencong, Jakarta: Yayasan Tentara Pelajar Aceh, 1987.
[21]Amran Zamzami, dkk, Pocut Meurah Intan: Srikandi Tanah Rencong
yang Terbaring di Tegal Sari, (Jakarta: tp,
1985), hlm.39.
Komentar
Posting Komentar