SERANGAN AMERIKA TERHADAP KUALA BATU, ACEH BARAT DAYA 1832


PENDAHULUAN
Lada adalah komoditas perdagangan dari Sumatera yang menurut beberapa sumber sangat digemari di Eropa, Amerika Serikat, dan Tiongkok (Cina) pada masa lalu. Meskipun harganya separuh dari rempah-rempah, namun tetap menjadi ekspor yang sangat penting dari nusantara bahkan Asia Tenggara. Tanaman ini pada mulanya sudah ditemukan sebagai barang dagangan di Kerala, pantai Malabar di India Barat Daya, yang pada saat itu dikenal oleh orang Arab dan Eropa sebagai “negeri lada”.[1]Kapan dimulainya pembudidayaan lada di Sumatera sampai saat ini belum jelas. Laporan Marcopolo (1292), dan Ibnu Batutah (1355) sewaktu mengunjungi Sriwijaya tidak menyebutkan adanya komoditas lada sebagai barang dagangan dari kerajaan tersebut. Sumber dari Cina juga menyebutkan, “bahwa ada orang yang mengatakan lada kebanyakan dari Malabar dan komoditas lada yang dibeli oleh pedagang asing dari Jawa berasal dari sana”.[2] Dari ketiga sumber tersebut tidak menunjukkan Sriwijaya sebagai produsen lada. Namun tidak berarti Sumatera tidak menghasilkan lada, karena pada abad ke-13, Pasai dan Pidie telah berkembang menjadi kota perdagangan internasional dan salah satu komoditas ekspor utamanya adalah lada.[3]
Abad ke-16, posisi Malaka telah menggeser kedudukan Pasai dalam perdagangan internasional karena letaknya yang cukup strategis dan lebih menguntungkan dibandingkan Pasai. Posisi inilah yang membuat Portugis tertarik menguasai Malaka, dan kemudian berhasil diduduki oleh Alfonso d’Albuquerque pada tahun 1511. Dengan merebut Malaka, Portugis menguasai Ormuz di Laut Merah, dan Goa di India. Namun hal ini yang kemudian membuat Malaka menjadi dihindari oleh pedagang muslim untuk berdagang. Akibatnya Malaka kemudian semakin merosot, dan tidak pernah meraih lagi kejayaannya.[4]  Abad ke-17, perdagangan di Malaka dikuasai oleh tiga kekuatan, yaitu; Aceh, Johor, dan Portugis. Johor kemudian bekerjasama dengan Belanda, dan Malaka kemudian dikuasai Portugis. Hal ini membuat Aceh menyerang Johor, dan sebagian keluarga Sultan Johor ditawan. Selain itu, Aceh juga menghancurkan benteng Vereenigde Oost-Indische Compagne (VOC) di Johor pada tahun 1613. Johor sudah berkali-kali diserang Aceh, namun Johor dan Portugis tidak pernah menyerang balik ke Aceh. Tekanan militer Aceh baru berhenti, setelah mengalami kekalahan telak di depan pelabuhan Malaka.[5]
Setelah Malaka dikuasai Portugis, pantai barat Sumatera mulai beralih menjadi jalur perdagangan yang ramai dari perdagangan internasional pada abad ke-16. Di pantai barat Sumatera saat itu hegemoni kerajaan Aceh masih sangat kuat secara de facto sehingga menguasai perdagangan lada di Sumatera Barat dan produksi emas di Salida.[6] Dominasi kerajaan Aceh di pantai barat Sumatera sampai ke Bengkulu.
Pada abad ke-18, setelah Sultan Iskandar Muda dan Sultan Iskandar Tsani mangkat, hegemoni Aceh diperkirakan mulai memudar, terlebih pada masa kesultanahan Tajul Alam Safiatuddin Syah. Hal ini terjadi karena persekutuan antara Belanda dan Melayu berusaha menghapus pengaruh Aceh pada tahun 1663 di sana. Akibatnya, Aceh mengalami banyak kerugian karena vasal-vasal (daerah-daerah ranto) yang sebelumnya setia menyetor upetinya kepada perwakilan-perwakilan kesultanan Aceh di pesisir barat Sumatera telah banyak yang mengadakan hubungan perdagangan sendiri-sendiri dengan para pedagang asing secara ilegal.[7]
Belanda mengambil kesempatan tersebut untuk menguasai pantai barat Sumatera, namun posisinya tetap saja tidak kondusif karena kerajaan Aceh ‘meskipun hanya di bawah tanah’ pengaruhnya masih sangat kuat bersemai di sana. Kerajaan Aceh terus menyerang posisi Belanda untuk mempertahankan statusnya di sana hingga tahun 1670, namun karena saat itu Aceh juga harus mempertahankan dua front, yaitu di pantai barat dan juga pantai timur Sumatera. Sedangkan pada saat yang bersamaan, Aceh juga masih berusaha mempertahankan eksistensi hingga ke negeri-negeri seberang di Malaka. Kesempatan tersebut dipergunakan oleh Belanda untuk terus menanamkan pengaruhnya di pantai barat Sumatera hingga kemudian dapat menguasai pertambangan emas di Salida.[8]
Akhir abad ke-19 dan menjelang awal abad ke-20, badan usaha perdagangan milik BelandaVOC yang mempunyai kekuasaan politik dan militer mengalami keruntuhan akibat korupsi yang merajalela. Pada saat yang hampir bersamaan, kerajaan Aceh juga sedang kritis karena mengalami masa-masa perang bersaudara dan berbagai konflik internal lainnya di kesultanan. Hal ini membuka kesempatan bagi Belanda untuk terus menanamkan pengaruhnya dan menguasai wilayah-wilayah yang sebelumnya merupakan bagian dari hegemoni Aceh di pantai barat Sumatera.
Pada masa ini pantai barat selatan Aceh yang berbatasan langsung dengan Samudera Indonesia telah berkembang dalam berbagai aktivitas perdagangan internasional. Teluk Susoh sejak abad ke-18 hingga awal abad ke-19 merupakan salah satu pusat perdagangan yang ramai.[9] Kuala Batu dikenal sebagai pusat perdagangan lada internasional pada masa lalu, namun kemudian kota ini hancur-lebur usai diserang oleh armada angkatan laut Amerika Serikat dengan kapal perang Potomac pada tahun 1832. Banyak spekulasi dan argumentasi yang melingkupi peristiwa ini, sehingga perlu ditelusur fakta dan data yang sebenarnya di lapangan. Hal ini penting dilakukan untuk mengetahui penyebab peristiwa penyerangan Amerika Serikat terhadap kota pelabuhan yang berada di pesisir barat selatan di kabupaten Aceh Barat Daya ini dengan segala aspeknya.
Kuala Batu saat ini hanyalah kawasan yang sepi dari segala aktivitas pelabuhan maritim. Lokasinya terisolasi dari segala aktivitas perdagangan maritim dan hanya tersisa sebagai permukiman kecil yang berbentuk desa/gampong dan ditempati oleh beberapa Kepala Keluarga. Daerah ini hanyalah menyisakan perkampungan kecil nelayan tradisional dan sebagian menyambil sebagai peternak kerbau. Sedangkan di sebagian besar wilayah pedalamannya telah berubah menjadi kawasan pengembangan sawit rakyat yang difasilitasi secara besar-besaran oleh pemerintah kabupaten Aceh Barat Daya sejak beberapa tahun terakhir (sekitar TAHUN 2006). Perubahan tata ruang lokasi ini berpengaruh dalam penelusuran sumber, mengingat sulitnya pengumpulan data-data dari struktur dan tinggalan yang tersisa untuk kepentingan interpretasi dalam menghubungkan variabel-variabel tentang peristiwa tersebut dalam historiografi.
Penelitian serangan Amerika Serikat terhadap Kuala Batu di Aceh Barat Daya pada 6 Februari 1832dilakukan untuk menginterpretasi variabel-variabel peristiwa dalam rangka penggalian sumber sejarah untuk mengungkap akar permasalahan tersebut. Penelitian ini berusaha menelusuri dinamika perkembangan Kuala Batu sebagai pelabuhan lada yang tercatat dalam lembaran peristiwa sejarah di pesisir barat selatan Aceh pada masa lalu. Faktor-faktor yang menjadi penyebab serangan Amerika Serikat dikaji untuk menjawab pertanyaan penelitian, yaitu: mengapa Angkatan Laut Amerika Serikat menyerang Kuala Batu?.
Tujuan penelitian berusaha menjelaskan serangan Amerika Serikat terhadap Kuala Batu di Aceh Barat Daya pada tanggal 6 Februari 1832 dengan segala dinamika yang terkait daripadanya. Deskripsi seperti ini diperlukan dalam rangka peningkatan pengetahuan dan memori kolektif bangsa sebagai pengalaman masa lampau yang berguna kepada generasimasa kini dan masa yang akan datang sehingga dapat mengambil nilai-nilai positif dari peristiwa masa lalu sebagai pedoman di masa kini dan mendatang.
Hasil penelitian diharapkan menjadi sumber pengetahuan sekaligus sumbang saran bagi pemerintah Kabupaten Aceh Barat Daya dalam membuat kebijakan terhadap situs sejarah, khususnya untuk menata kembali kawasan bersejarah ini menjadi suatu zona edukasi dan rekreasi yang bernuansa historis, khususnya penelitian, pengembangan dan pemanfaatannya sebagai wisata sejarah dan ziarah ke makam-makam para pemimpin Kuala Batu dan ‘grave shewbuntar’ dan makam orang Amerika yang gugur dalam peristiwa tersebut di sana.
Manfaat penelitian adalah menghasilkan satu naskah sejarah lokal berkaitan dengan objek kajian yang diteliti. Secara praktis, peristiwa masa lalu dapat dijadikan pedoman dalam menentukan langkah ke masa depan yang lebih baik, khususnya bagi generasi muda sebagai penerus estafet pembangunan bangsa. Manfaat lain penelitian adalah menambah wawasan dan cakrawala historis terhadap perjalanan sejarah bangsa dan negaranya pada masa lampau sebagai spirit dalam pembangunan bangsa sebagai pembentuk jati diri pada saat ini dan masa mendatang.
Secara konseptual Kuala Batu terletak di Kecamatan Kuala Batee Kabupaten Aceh Barat Daya saat ini sudah pernah disebut di dalam beberapa referensi,baik lokal maupun asing seperti John Anderson dan Muhammad Said. Namun penelusuran tentang peristiwa serangan Amerika Serikat terhadap Kuala Batu perlu dilakukan pengkajian sumber, analisa sumber, dan pengintepretasian sumber ke dalam kajian sejarah yang objektif melalui observasi sehingga akar permasalahan tersebut DAPAT diungkap secara sense of belonging atau objektivitas sejarah tentang mengapa terjadi peristiwa serangan tersebut di dalam kerangka dan kurun waktu historis. Peristiwa penyerangan tersebut tentu saja tidak berdiri sendiri-sendiri, namun terkait dengan rangkaian kronologis yang kompleks, maka untuk menguraikannya diperlukan penelitian mendalam dan komprehensif mengenai fakta dan proses serta dinamika perkembangannya yang diinterpretasikan ke dalam historiografi.
Penelitian dibatasi mengenai serangan Amerika Serikat terhadap Kuala Batu di Aceh Barat Daya pada tahun 1832. Peneliti memposisikan peristiwa ini sebagai pokok pembahasan. Ruang lingkup materinya mengurai seputar serangan Amerika Serikat terhadap Kuala Batu pada kurun waktu tersebut. Spasial atau kajian lokasi dilakukan di Kuala Batu Kecamatan Kuala Batee Kabupaten Aceh Barat Daya. Konsepsi “Kuala Batu” merujuk kepada referensi wilayah pada masa lalu, paling tidak saat ini telah melingkupi “kawasan” di tiga kecamatan di Kabupaten Aceh Barat Daya sekarang, yaitu; Kecamatan Kuala Batee, Kecamatan Babah Rot, dan Kecamatan Jeumpa.
Temporal atau kajian waktu penelitian adalah tahun 1832, di mana tahun ini telah terjadi peristiwa penyerangan oleh Amerika Serikat terhadap Kuala Batu yang dimulai sejak tanggal 5-17 Februari 1832. Disebutkan pada tanggal 5 Februari 1832 kapal perang Potomac milik Angkatan Laut Amerika Serikat tiba di perairan Kuala Batu dan penyerangan serta penghancurannyamulai dilakukan sejak dini hari tanggal 6 Februari 1832. Penyerangan tersebut dinyatakan berakhir pada 17 Februari 1832.
Penelitian serangan Amerika Serikat terhadap Kuala Batu di Aceh Barat Daya merupakan aspek kajian sejarah diplomasi internasinal antara Aceh dengan Amerika Serikat. Diplomasi antara Amerika Serikat dengan Aceh gagal karena "bajak laut" Kuala Batu dianggap tidak mau berkerja sama sehingga serangan tetap berlangsung. Kajian wilayahnya adalah ranah sejarah lokal di mana Kuala Batu adalah tempat atau lokalitas dengan pembatasan (spasial) yang memuat kisah lampau dari kelompok atau masyarakat yang berada dalam lingkup yang terbatas.[10]Sejarah lokal menjelaskan peranan masyarakat lokal dalam periodisasi sejarah, karena sebelumnya lebih ditonjolkan peran orang asing dalam sejarah Indonesia.
Metode penelitian ini menggunakan metode sejarah dan tidak terlepas dari definisi sejarah sebagai ilmu yang mempelajari dinamika dan perkembangan kehidupan manusia pada masa lampau, mengaitkan dan merekontruksi dalam tulisan yang dapat dipertanggung-jawabkan sebagai karya tulis sejarah. Hasil penulisan secarakontekstualmencoba menerangkan dan memahami peristiwa sebagaimana terjadi.[11]Louis Gottschalk mengatakan bahwa metode sejarah adalah proses menguji dan menganalisa secara kritis jejak rekam masa lampau.[12] Dengan demikian metode penelitian sejarah harus kritis di dalam menggunakan aturan dan prinsip-prinsip ilmu sejarah.Tahappenelitian ini dilakukan dengan beberapa metode, yaitu; pengumpulan sumber (primer dan sekunder), verifikasi sumber untuk membuktikan kredibilitas sumber, dan kritik eksternal. Selanjutnya interpretasi berdasarkan analisis dan sintesis, serta histirografi secara deskriptisanalitis.
Penulisan sejarah lokal ini berusaha menguraikan mengapa peristiwa terjadi dengan menggambarkan kejadian tersebut sebagai proses yang disimpulkan dalam uraian analisis.[13] Perkembangan peristiwa dirangkai berdasarkan fakta tentang apa, siapa, kapan, di mana, serta bagaimana. Kemudian disusun secara kronologis variabel sebab-akibat, motivasi, sebagai suatu kompleksitas kejadian-kejadian untuk menjawab pertanyaan penelitian.
Proses pengumpulan sumber dalam menelusuri serta menjelaskan permasalahan dilakukan melalui penelitian sumberprimer maupun sekunder di lapangan dan perpustakaan. Sumber-sumber primer dan sekunder diperoleh di lokasi penelitian dan perpustakaan yang ada di provinsi Aceh; yaitu Perpustakaan BPNB Banda Aceh, Perpustakaan PDIA, Perpustakaan Ali Hasymi, Perpustakaan Badan Perpustakaan dan Arsip Provinsi Aceh. Hasil penelitian memaparkanlatar belakang historisyang menunjukkan kontinuitas dinamika berkaitan dengan peristiwa. Sartono menyebutkan, tugas interpretasi sejarah harus dipusatkan pada kontinuitas pembahasan,karena persoalan-persoalan yang berakar pada masa lampau akanterus berkembang sampai sekarang dan masa yang masa akan datang.[14]


HASIL DAN PEMBAHASAN
A.     Tinjauan Geografis
            Kuala Batu terletak di Kecamatan Kuala Batee Kabupaten Aceh Barat Daya secara astronomi terletak pada 3º,05–3º,80 Lintang Utara dan 96º,23’.02’–97º,23’03’ Bujur Timur.[15]Kabupaten ini memiliki luas 2.334.01 Km². Letak geologinya tidak terlepas dari seluruh rangkaian pegunungan Bukit Barisan. Daerah ini termasuk di dalam lingkup “ring of fire” atau “cincin api” dalam rangkaian pegunungan yang masih muda yang diketahui dengan adanya gejala-gejala geologis seperti gempa bumi dan aktivitas gunung berapi yang dikenal dengan patahan semangka.[16]Aceh Barat Daya berbatas dengan beberapa kabupaten, yaitu; di bagian utara berbatasan dengan kabupaten Gayo Lues, di bagian selatan dengan Samudera Indonesia, di bagian barat dengan kabupaten Nagan Raya, dan di bagian timur dengan kabupaten Aceh Selatan.[17] Kabupaten ini terdiri atas 9 (sembilan) kecamatan, yaitu; Babah Rot, Kuala Batee, Jeumpa, Susoh, Blangpidie, Suak Setia, Tangan-Tangan, Manggeng, dan Lembah Sabil. 
            Kuala Batu beradadi pesisir barat selatan Aceh di bagian tenggara provinsi Aceh, namun karena kabupaten Aceh Tenggara sudah terlebih dulu ada, maka “founding fatherdaerah tersebut bersepakat menamakan Aceh Barat Daya”,[18]saat daerah itu masih terintegrasi dalam lingkup Aceh Barat dan kemudian terintegrasi dalam kabupaten Aceh Selatan. Daerah ini beriklim tropis, dengan curah hujan dan kelembabantinggi. Temperaturnya berkisar antara 26º-30º Celcius, di dataran tinggi berkisar antara 15º-23º Celcius, tetapi kadangkala bisa mencapai 12ºCelcius.[19]Curah hujannya berkisar antara 3.228 mm-4.912 mm/tahun. Kelembaban antara 70-80%. Hanya pada bulan Mei, Juni, Juli, dan Agustus yang relatif agak kering.[20]Topografi daerah ini berbukit-bukit dan dataran yang relatif sempit dibandingkan daerah pantaitimur Aceh. Daerahnya membujur di sepanjang pegunungan Bukit Barisan.
            Sebagian besar pesisirnya berlereng curam dan bergunung-gunung. Dataran rendahnya terletak di sebelahbarat, di mana beberapabagian daerahrawa-rawa dan muara sungai di pesisir kecamatan Kuala Batee dan Babahrot. Daerah pegununganterletak di sebelah timur merupakan kawasan ekosistem Taman Nasional Leuser di barat wilayah ini.Dataran tingginyaantara 0-100 meter dari permukaan laut seluas 43,04% dari luas keseluruhan wilayah ini. Selebihnya merupakan daerah landai dengan kemiringan 27,05%, sedangkan daerah bergelombang sekitar 21,81% , dan daerah miring dan terjal seluas 5,10%.[21]  

B.     Tinjauan Historis Penduduk
Asal-usul mengenai penduduk di Kabupaten Aceh Barat Daya dengan bentang wilayah dari Ujong Manggeng hingga Ujong Raja ini, tidak disebutkan secara jelas. Masyarakatberpendapat bahwa penduduk asli yang mendiami daerah ini adalah orang Batak yang disebut “Batak 27”.[22] Hal ini berkaitan dengan toponimi mengenai keberadaan suatu tempat yang dinamakan “guha batak” atau “gua batak” di pedalaman. Namun ada juga yang mempercayai penduduk aslinya adalah orang-orang Manteu (Gayo atau Aceh asli?). Oral history menyebutkan bahwa koloni orang Batak 27 telah terpinggirkan oleh pendatang baru dari Sumatera Barat maupun dari daerah Aceh lainnya. Mereka terpaksa menyingkir ke pedalaman dan terus terdesak hingga ke Bebesan di Kabupaten Gayo Lues sekarang.[23] Di dataran tinggi Gayo, mereka kemudian dikenal dengan Belah Bebesan.[24]
Orang-orangAneuk Jamee (Minangkabau) merupakan pendatang dari Sumatera Barat yang telah bermigrasi ke Aceh Barat Daya diperkirakan terjadi pada bagian kedua abad ke-17 (sekitar 1840-an setelah adanya Traktat Sumatera 1824), yaitu semenjak Belanda berhasil mempengaruhi dan menduduki Sumatera Barat yang sebelumnya di dalam lingkup vasal kerajaan Aceh. Jauh sebelumnya, diduga setelah adanya Traktat Painan antara penguasa lokal Sumatera Barat dengan Belanda pada tahun 1663 sehingga perwakilan orang-orang Aceh yang berada di Sumatera Barat mulai menyingkir ke sana karena sebagian Sumatera Barat tersebut berada di bawah taklukan kesultanan Aceh dan orang Minangkabau yang tidak mau tunduk ke dalam kekuasaan Belanda. Mereka memilih bermigrasi ke pantai barat Aceh yang disebut sebagai daerah tujuan migrasi (rantoe). Sebagian di antara mereka membangun koloninya di Susoh dan sebagian lainnya di Meulaboh atau serta di tempat lainnya sehingga mereka di Aceh lazim disebut sebagai suku “Aneuk Jamee”atau “suku anak keturunan tamu”.[25]Bersamaan dengan periodisasi itu, daerah ini juga kedatangan migrasi orang Aceh yang berasal dari Aceh Besar dan Pidie. Mereka juga membuka perkebunan (seuneubok) lada dan padi dan hingga awal abad ke-19, lada merupakan tanaman ekspor terpenting dalam perdagangan internasional di wilayah tersebut.[26]
Orang Minangkabau dan orang Aceh membangun komunitasnya di muara sungai, yaitu;  Krueng Susoh, Krueng Baro, Krueng Babah Rot dan Krueng Seumayam, seperti di Lama Tuha, Kuala Batu, Susoh, Suak, Lhok Pawoh Utara, dan Pasi Ujong Manggeng. Lambat-laun permukiman terbentuk menjadi suatu pemerintahan lokal yang mandiri tetapi berada di bawah perlindungan Kerajaan Aceh Darussalam. Namun, di antara mereka ada yang berhasil, seperti Leube Dafa dari Trumon. Pada masa setelah itu ada juga Datuk Besardi Manggeng yang tidak mau membayar upeti kepada Sultan Aceh sehingga Sultan Alauddin Jauhar alAlamsyah yang memerintah dari tahun 1795-1824murka dan memutuskan memimpin pelayaran sendirimenyerang Manggeng.[27] Inspeksi sebagai kontrol hegemoni itu terus dilakukan oleh Sultan Aceh, namun tidak menutup kesempatan kerajaan-kerajaan kecil di ‘ranto’tersebut bisa secara mutlak dikuasai secara bijaksana oleh pusat kerajaan Aceh Darussalam. Mereka secara ilegal sering berhubungan dengan pedagang asing dalam perdagangan ladatanpa membayar wasee atau pajak ke pusat kerajaan di Bandar Aceh Darussalam.
Di daerah ini pedagang Inggris, Amerika Serikat, dan Belanda dapat leluasa memasuki dan melakukan hubungan perdagangan internasional dengan pelabuhan-pelabuhanlokalyang berlangsung hinggaawal abad ke-19. Hal ini pernah dicatat oleh John Anderson yang pernah menyinggahi kota pelabuhan Manggeng, Susoh, Kuala Batu, dan Seumayam di pantai barat selatan Aceh.[28] Pada masa pemerintahan Sultan Ibrahim yang bergelar Alaiddin Mansur Syah 1836-1870[29], juga pernah dikirim ekspedisi penertiban ke Susoh yang dipimpin oleh pangeran Tuanku Husen karena negeri ini tidak membayar pajak yang telah ditentukan kepada wilayahnya. Pasukan Aceh dibantu Datuk Keng keturunan Datuk Baginda di Susoh.Sedangkan Susoh dipimpin Datuk Kepala keturunan Datuk Tua. Perang berakhir setelah Susoh menghormati ketentuan yang telah ditetapkan Kesultanan Aceh.

B.     Kuala Batu
Kuala Batu awalnya dibuka oleh para pendatang dari Aceh Besar dan Pidie. Wilayah ini merupakan muara sungai Krueng Babah Rot. Daerahnya sangat subur karena setiap tahun sering mendapatkan endapan humus dari pedalaman dari pegunungan Bukit Barisan dan Taman Nasional Gunung Leuser. Daerah ini ternyata sangat baik untuk ditanami lada dan padi. Posisinya sangat strategis karena berada pada sistem lalu-lintas atau transportasi kapal-kapal internasional di Samudera Hindia (Indonesia) menuju ke Timur India, terutama setelah Portugis berhasil menguasai Malaka tahun 1511.
Kuala Batu awalnya merupakan wilayah kenegerian Susoh. Daerah ini yang dipimpin oleh Keucik Karim. Beliau yang meminta izin kepada Datuk Susoh untuk membuka perkebunan lada di Lama Inong, pedalaman Kuala Batu. Permintaan izin disetujui dengan syarat harus membayar wasee (pajak) kepada Datuk Susoh sebagai perwakilan sultan Aceh.[59]Leube Dafamemerintah di negeri Trumon, merupakan perwakilan sultan yang mengutip pajak di daerah pesisir Barat dan Selatan Aceh termasuk Kuala Batu.
Keucik Karim adalah pemimpin sueneubok lada pada awal kepemimpinannya, membayar seluruh kewajiban pajak yang telah menjadi tanggungannya dalam perdagangan lada kepada Leubee Dafa. Namun dalam hasil-hasil panen selanjutnya, ia sudah tidak mau membayar wasee lagi kepada perwakilan sultan tersebut. Demikian juga kapal-kapal dagang asing yang seharusnya memuat lada yang pada awalnya melalui pelabuhan Susoh, mulai dialihkan ke pelabuhan Kuala Batu, akibatnyakenegerian Susoh mengalami kerugian.[60]
Sebelumnya di dalam mewakili bisnis pelayaran dan perdagangan kesultanan Aceh, Leube Dafayang mendapat banyakkeuntungan dari komisi dan biaya pelayaran dan angkutan kapal. Kemudian, iaberunding dengan Datuk Susoh untuk membukasecara resmi Kuala Batu sebagai pelabuhan perdagangan lada di pesisir barat selatan Aceh. Untuk mengawasi dan mengontrol hegemoni kesultanan Aceh di sana, iaserahkan langsung kepada kedua anaknya, Teuku Nyak Haji dan Raja Bujang. Namun, hal itu tidak sempat terjadi karena Leube Dafa meninggal dunia sehingga pelaksanaan perjanjian tersebuttidak berjalan sesuai rencana.[61]
Akibatnya Kuala Batu diserang oleh Datuk Susoh yang beraliansi dengan Trumon sebagai perwakilan sultan Aceh.Perang terjadi berimbang dan kemenangan diperoleh bergantian. Perang berakhir, setelah dilangsungkan perkawinan politis antara anak laki-laki pemimpin Kuala Batu Teuku Lama yang bernama Raja Kuala dengan cucu raja Susoh Datuk Bagak.[62]
Setelah Teuku Lama meninggal dunia, kekuasaan dipegang adiknya Raja Pidie. Raja Pidie, sudah berpengalaman di bidang pemerintahan karena sering berkecimpung sejak masih muda di dalam mediasi perdamaian antara Kuala Batu, Susoh dan sekutunya Trumon. Kemudian, ia menghadap sultan di Bandar Aceh untuk memandirikan negeri Kuala Batu dari Susoh. Raja Pidie menikahi perempuan Susoh keturunan Air BangisSumatera Barat. Perkawinan tersebut menurunkan anak laki-laki bernama Raja Sulaiman.
Setelah Raja Pidie meninggal dunia, Raja Sulaiman memerintah di sebelah kiri Kuala Batu. Sedangkan sebelah kanan sungai dikuasai Pocut Hasan, anak Pocut Abdullah dari XXVI Mukim, Aceh Besar.[63] Raja Pidie dan Pocut Hasan datang bersama-sama dengan Pocut Kuala pada masa pemerintahan Raja Pidie di Kuala Batu. Menurut catatan Belanda, Raja Sulaiman memerintah kerajaan Kuala Batu hingga daerah ini dipengaruhi Belanda pada tahun 1881. Wilayah Kuala Batu, yaitu; pertama, wilayah pemerintahan Raja Sulaiman meliputi; Madat Manyang, Sarulah, Sikabu, Teurubue, Lama Inong, dan Siangen-Angen. Kedua wilayah Pocut Hasan meliputi Lhok Ek, Kuta Raya, dan Kuta Cot Dolah.Ketiga, wilayahKuala Batu meliputi Seumayam, Surin, Lama Tuha, dan Lama Muda.[64]
Semenjak tahun 1778 hingga lebih setengah abad lamanya pesisir barat dan selatan Aceh hingga Barus terbebas dari ancaman Belanda. Saat itu, kegiatan perdagangan di pantai-pantai Barat dan Selatan Aceh, termasuk transaksi langsung dengan kapal-kapal Eropa dan Amerika selama beberapa tahun pada masa sekitar pergantian abad 18 dan 19 berjalan dengan lancar tanpa dapat diganggu oleh Belanda. Kedatangan kapal-kapal Eropa dan Amerika langsung ke pusat produksi membuat pasar lada ramai dengan harga yang kompetitif.
Otoritas sultan di ibukota Bandar Aceh ke pesisir barat selatan sudah melemah sejak pertengahan abad ke-18. Keadaan politik di Trumon atau lebih ke Selatan lagi, yaitu Singkil yang sejak lama menjadi bagian dari kerajaan Aceh pada pergantian abad sudah menjadi kabur. Meningkatnya kegiatan ekonomi di daerah ini telah memancing kedatangan petani dari luar, yang ditandai dengan terjadinya pertumbuhan negeri-negeri yang baru, salah satunya adalah Trumon. Di mana seorang penduduk XXV Mukim Aceh Besar beserta pengikutnya pindah ke Susoh di sebelah selatan Meulaboh, lalu menjadi kepala kampung di Trumon. Dua orang keturunan pertamanya bernama Basa Bujang (Bujang Basa) pindah ke Teurumon, dan kedua bernama Leube Dafa pindah ke Singkil. Leubee Dafa berhasil mengembangkan pertanian lada di daerah tersebut.
Kepala negeri Singkil yang bersimpati kepadanya menikahkan putrinya dengan Lebai Dafa bahkan menyerahkan kepimpinanan di daerah tersebut kepadanya. Sedangkan Raja Bujang kurang berhasil dalam pertanian lada di Trumon mengundang adiknya tersebut pindah ke Trumon. Lebai Dafa setuju tanpa melepaskan posisinya sebagai raja Singkil. Trumon dan Singkil kemudian berkembang menjadi penghasil lada yang meningkatkan pemerintahan setempat dan para pemimpinnnya pada saat penghasilan kesultanan Aceh sedang merosot. Lebai Dafa disebutkan meninggalkan 17 putera dan 10 puteri.
Anak laki-lakinya Raja Bujang mewarisi Trumon, sedangkan anak laki-laki kedua Raja Muhammad Arif memerintah di Singkil. Lebei Dafa adalah penentang Sultan Jauhar Alam, seperti halnya paman sultan sendiri bernama Tuanku Raja. Ia melakukan pembangkangan terhadap sultan. Berbagai wasee serta pajak daerah-daerah lainnya tidak diserahkannya kepada sultan Aceh. Menurut laporan Kapten Canning yang meninjau Aceh atas perintah Gubernur Jenderal di Kalkuta, Lebai Dafa menguasai pelabuhan-pelabuhan di pesisir barat selatan Aceh, antara lain; Singkil, Ayam Dammah, Trumon, Rambung, Susoh dan Kuala Batu dengan jumlah penduduk sekitar 27.750.[65]
Pada masa puncak produksi lada di daerah-daerah tersebut, Trumon berhasil mengekspor 40.000 pikul lada setahun. Rajanya begitu makmur sehingga sanggup membangun istana dengan perkarangan luas dikelilingi tembok batu dengan benteng setinggi 10 kaki dan dilengkapi dengan 32 pucuk meriam. Pada bagian luar mengelilingi istana dibangun parit dalam untuk membendung serangan. Raja Bujang juga mempunyai beberapa kapal yang membawa hasil-hasil bumi Teurumon langsung ke India, Penang, Singapura, bahkan Batavia. Pendapatan daerah ini ditaksir mencapai 100.000 Peso Spanyol dari pungutan bea ekspor dan impor sebesar 5%. Pendapatan tersebut tidak lagi dikirim ke Bandar Aceh sebagai wasee karena Teurumon sudah memakai bendera kerajaan sendiri.
Raja Bujang beristeri seorang puteri dari perempuan Kristen asal Padang. Ketika pada tahun 1793 pasukan Perancis menyerang Padang, perempuan tersebut diselamatkan oleh seorang Aceh ke pedalaman Minangkabau di mana ia di-Islam-kan dan bersedia dinikahinya. Dari pernikahan itu lahir seorang puteri yang bernama Nona Gadis. Ketika kedua orangtuanya berangkat naik haji dengan menyinggahi Teurumon. Nona Gadis yang waktu itu sudah dewasa, dilamar Raja Bujang kepada kedua orangtuanya. Dari pernikahan itu lahir seorang anak laki-laki bernama Nyak Banta.    
Sementara itu, di Bandar Aceh, ketika Sultan Jauhar Alam wafat pada bulan Desember 1823, pewaris kerajaan yang sudah ditentukan adalah putera almarhum dari isteri gahara, bernama Tuanku Ibrahim. Para Panglima Sagoe memutuskan lain. Putera sultan tertua dari isteri biasa bernama Tuanku Darid atau Tuanku Daud harus dilantik, dan ditabalkan dengan gelar Sultan Alauddin Muhammad Syah. Tuanku Ibrahim mendapat tugas memelihara tertib hukum di bagian pantai Barat dan Selatan Aceh, terutama untuk pengutipan wasee atau bea cukai lainnya.Tuanku Ibrahim sangat aktif, cerdas, berani, tidak ambisius dan bersungguh-sungguh dalam menjalankan tugas. Tidak heran bila orangtuanya memilih dia sebagai pewaris tahta. Begitupun, Tuanku Ibrahim tidak menentang keputusan para Panglima Sagoe yang menolaknya. Dia banyak membantu saudaranya dan berbakti bagi stabilitas kerajaan, karena menyadari kerajaan perlu dibina kembali, sekaligus membangun kekuatan, wibawa, dan tata-tertibnya. Melalui kegiatan-kegiatan tersebut, berbagai rongrongan Belanda, tertutup dan terbuka, berangsur-angsur dapat dicegah.
Ketika Tuanku Daud wafat, dan keluar keputusan untuk menetapkan putera almarhum Sultan Muhammad Syah, bernama Tuanku Sulaiman, sebagai sultan penganti, Tuanku Ibrahim juga menerima putusan itu. Mungkin karena kegiatan-kegiatannya tersebut, sementara penulis sejarah mencurigai Sultan Ibrahim dengan mengatakan dia naik tahta karena Panglima Sagoe XXII menggulingkan Tuanku Sulaiman, bergelar Sultan Ali Iskandar setelah baru tiga bulan menjadi sultan. Namun, menurut kapten Belanda, Veltman, dalam bukunya berjudul Notaover de Geschiedenisvan het Landschap Pidie, Tuanku Ibrahim naik tahta setelah Tuanku Sulaiman meninggal dunia. Veltman mengatakan, bahwa ia menemui silsilah tersebut di kantor pengawas Belanda di Sigli ketika bertugas di sana.
Dalam dokumen tersebut, Tuanku Sulaiman telah menikahi putri Tuanku Ibrahim bernama Puteri Sari Banun. Menurut Veltman, Tuanku Ibrahim sebagai sultan yang mengeluarkan sarakata di Pedir bertanggal 8 Rajab 1269 Hijriah (24 April 1853) yang ditandatanganinya. Ini berarti Tuanku Ibrahim adalah sultan pada tahun 1853. Catatan lain, ketika Courier dit Dubekart berada di Bandar Aceh pada tahun 1855, sultan pada waktu itu adalah Tuanku Ibrahim.[66]Bersamaan dengan penugasan Tuanku Ibrahim sebelumnya sebagai wakil pantai barat Aceh, juga ditetapkan pengangkatan saudara sultan yang lain bernama Tuanku Raja Muda bergelar Tuanku Rumoh Panjang yang bertugas mengawasi pantai utara Aceh, seperti Samalanga, Lhokseumawe, dan sekitarnya. Adiknya Tuanku Abbas bertugas di sepanjang pantai Pidie dengan kedudukan di Batee.

C.     Penyebab Serangan Amerika Serikat terhadap Kuala Batu
Serangan Amerika Serikat terhadap Kuala Batu disebutkan sebagai balasan atas serangan terhadap kapal dagangnya Friendship. Angkatan Laut Amerika Serikat telah menjangkau jauh hingga ke Indonesia untuk melindungi kepentingan ekonomi negaranya atau meningkatkan pengaruh kawasan untuk mengatasi musuh negara dan ideologi, atau balas dendam nasional mereka terhadap daerah ini. Pertama kali dalam sejarah Indonesia telah terjadi serangan langsung Angkatan Laut Amerika Serikat di Kuala Batu di Kabupaten Aceh Barat Daya, Provinsi Aceh. Serangan militer Amerika Serikat terhadap Kuala Batu (Qualla Batto) tersebut merupakan respon terhadap apa yang mungkin paling ditakuti dunia saat itu, yaitu;tindakan bajak laut di perairan pesisir barat selatan Aceh. Sebelumnya para pedagang Amerika Serikat pertama kali tiba di Sumatra pada akhir abad ke-18.
Sejak saat itu hingga 1860 diperkirakan kapal Amerika Serikat sebagian besar bersandar ke pelabuhan Salem, Boston Amerika Serikat. Di mana tercatat sekitar 1000 pelayaran yang telah membawa lada seharga sekitar £370,000,000., atau seharga 17.000.000., dolar. Disebutkan hampir setengahnya merupakan lada yang dihasilkan dari daerah-daerah di Aceh selama periode tersebut.[67]Bahkan, biaya operasional rendah dengan kapal yang cepat yang diaktifkan pedagang Amerika Serikat sehingga mereka dapat bersaing dengan Inggris dan Belanda dalam perdagangan lada. Hal ini merupakan permasalahan lain yang menjadi perhatian dari kedua kekuatan yang sama-sama mengincar Aceh. Akibatnya Sultan Aceh, Muhammad Syah (1823-1838) berada di bawah tekanan Belanda dan Inggris, berusaha mengkaji hubungan perdagangan Amerika Serikat di Aceh.
Pembajakan terhadap kapal dagang Amerika Serikat, Friendship milik Silsbee, Pickman dan Stone diduga sebagai akibat pelanggaran undang-undang perdagangan kepada Inggris atau Belanda.[68] Dalam perjanjian yang sudah ditandatangani Aceh dengan Inggris pada tahun 1819 sebenarnya termasuk salah suatu upaya untuk menyingkirkan kekuatan Amerika Serikat di Aceh.Pada awalnya pembajakan kapal dagang Amerika Serikat tidak jelas apa dilakukan oleh perompak murni atau hanya “permainan politik” akibat perebutan pengaruh perdagangan internasional lada di pesisir barat selatan Aceh. Perairan pesisir barat selatan Aceh saat itu dikuasai bajak laut. Bajak laut di sekitar perairan ini sering disebut “Viking of the East” atau “Viking dari Timur”, karena tidak ada kapal dagang yang aman dari ancaman perompakan. Kekuatan mereka karena posisi pantai yang strategis sehingga mereka dapat bersembunyi dan berlindung di banyak tempat, seperti teluk dan muara sungai yang sepi di sepanjang pantai Sumatera. Mereka hanya keluar untuk merompak dengan mengarungi laut secara berkelompok sampai sebanyak 50 perahu dengan kecepatan tinggi. Mereka mengejar kapal dagang yang berlayar dengan lambat karena muatan yang penuh dari berbagai wilayah di perairan Hindia Timur.Mereka menggunakan kedua barisan dayung dengan kapal layar lebar yang dipersenjatai. Mereka mengenakan jubah merah dan rantai, rencong, kelewang sering diacungkan, dan pelontar batu api. Para perompak membunuh setiap orang, memenjara untuk ditebus, atau akan dijual sebagai budak.
Pada Februari 1831, kapal dagang Amerika Serikat bernama “Friendship sedang berlabuh di Kuala Batu. Kapal ini hendak membeli lada untuk sebuah kargo dengan kapten kapal Charles Moses Endicott. Ia sudah sering pergi-pulang antara Kuala Batu dan pelabuhan Salem Amerika Serikat. Ia sering memperoleh keuntungan yang besar. Kapal ini membawa 17 awak kapal dan tiba di Kuala Batu pada tanggal 22 September 1830. Setelah memuat stok lada yang sudah tersedia di sana, kapal masih harus menunggu panen pada bulan Maret dan Juni tahun 1831, sehingga mereka menyingkir ke sebuah pulau kecil yang berjarak sejauh dua mil dari Kuala Batu.[69]Suatu malam, kapal didatangi sebuah perahu yang menawarkan sebanyak 50-60 karung lada selundupan kepada Endicott.[70]Beberapa hari setelah menampung lada selundupan tersebut, kapal ini diminta mendekat ke Kuala Batu untuk memuat lada hasil panen baru berjumlah ratusan karung. Serangan bajak laut justru terjadi ketika kapal sedang menerima muatan lada, ketika Endicott sedang berada di daratan untuk menimbang lada.
Bajak laut menyamar sebagai membawa lada dengan perahu. Akibat serangan tersebut lima awak kapal terbunuh dan selebihnya melompat ke laut menyelamatkan diri.Setelah itu, Endicott beserta awak kapal yang selamat menyingkir ke Meukek. Di sana ada kapal Amerika Serikat lainnya bernama “James Monroe”yang dinakodai Porter dan dua buah kapal lainnya, “Governor Endicott” dan “Palmer”. Berkat bantuan mereka kapal “Friendship”berhasil dikuasai kembali.[71]Owen Rutter dalam bukunya “The Pirate of Wind”, mengatakan bahwa ada beberapa awak kapal tewas dalam serangan itu. Para pembajak diperkirakan orang Kuala Batu merampok kapal dan membawa semua barang serta uang tunai senilai 8.000 dolar. Kapten kapal “Friendship, Charles Moses Endicott, saat itu berada di darat bersama empat anak buahnya. Ketika kembali ke kapal, ia menemukan awak kapalnya telah tewas, kargo hilang dan isi kapal berantakan. Mereka menyingkir dari daerah tersebut dan meminta bantuan kapal kargo Amerika Serikat lainnya yang berada di sepanjang pesisir barat selatan Sumatera.[72]
Menurut versi lain, penyerangan ini ganjil karena bajak laut hanya menyerang kapal “Friendship. Sedangkan orang-orang Amerika Serikat yang sedang berada di darat termasuk Endicott tidak diserang. Kapal-kapal Amerika Serikat lainnya di Meukek juga tidak diserang, mereka bebas datang ke Kuala Batu. Endicott tidak menjelaskan sikap penguasa setempat dan mengapatidak menemui raja Kuala Batu untuk melaporkan kejadian tersebut. Sementara bajak laut yang menyerang kapal itu telah menyingkir ke pelabuhan-pelabuhan lain.
Saat mereka singgah di “Tallapow”, disebutkan bahwa di Kuala Batu suasana cukup ramai karena hampir semua penduduk menggunakan pakaian merah, putih dan biru, kemeja strip, dan pakaian orang Eropa lainnya. Endicott menyebut pakaian tersebut adalah hasil curian dari kapal mereka termasuk taplak wol dan kabin-kabin.
Kapal dagang “Friendshiptiba kembali di Amerika Serikat, masyarakat di sana heboh dan menuntut pembalasan. Presiden Amerika Serikat Andrew Jackson memerintah hukuman berat terhadap penduduk dan pemimpin Kuala Batu untuk menuntut dan memperbaiki serta mengembalikan segala properti kapal yang disita atau dirusak. Pemimpin Kuala Batu Molay Muhammad (Sidi Muhammad) yang oleh Amerika Serikat disebut “Mohamed” telah menyangkal semua tuduhan mengenai keterlibatannyaatas serangan terhadap kapal itu.[73]
Angkatan Laut Amerika Serikat ditugaskan untuk menghukum penjahat Kuala Batu dengan setimpal. Menurut anggapan orang Amerika Serikat, Sidi Muhammad telah menghina secara berlebihan dengan memberikan harga yang tinggi atas kepala Kapten M. Endicott, perwira dan pelaut yang telah lolos dari serangan bajak laut tersebut. Untung saja saat itu ada kapal dagang lainnya yang berhasil membawanya kembali ke pelabuhan di Salem, Boston Amerika Serikat.
Faktor-faktor penyebab lainnya, yaitu;Pertama, peristiwa penyerangan dipicu oleh kekecewaan orang Aceh yang selalu ditipu oleh pedagang Amerika Serikat dalam perdagangan lada. Hal itu akibat suatu ketika diketahui bahwa berat lada yang dibeli dari Aceh 3.986 pikul, tetapi ketika dijual kembali oleh pedagang Amerika Serikat beratnya menjadi 4.583 pikul. Hal itu dilakukan pedagang Amerika Serikat dengan penipuan pada takaran timbangan, dengan cara menyetel suatu sekrup yang dapat dibuka di bagian bawah timbangan yang berbohot 56 lbs, yang diisi 10 atau 15 pon timah, sehingga dalam satu pikul lada, orang Aceh ditipu sebanyak 30 kati.[74]
Kedua, penyerangan itu akibat adanya provokasi oleh Belanda, karena Amerika Serikat telah berhasil menguasai perdagangan lada dikawasan pantai barat dan selatan Aceh. Belanda ingin merusak nama baik kerajaan Aceh di duniainternasional dengan tuduhan bajak laut dan tidak mampu melindungi kapal-kapal asing yang berlabuh diperairannya.[75]
Respon Sultan Aceh Alaidin Muhammad Syah (1824-1836) terhadap aksi pembajakan kapal dagang asing di wilayah perairan Aceh tersebut menyebutkanbahwa perompakanditunggangi kepentingan politis Belanda.Belanda sengaja mempersenjatai sebuah kapal Aceh yang dirampasnya di perairan pantai barat selatan Aceh. Kapal itu dinakodai suruhan Belanda bernama Lahuda Langkap.[76]Saat merompak kapal dagang Amerika Serikat di Kuala Batu pada tanggal 7 Februari 1831, Lahuda bersama anak buahnya telah dibayar Belanda untuk menyerang kapaltersebutdenganmenyamar dan menggunakan bendera milik kesultanan Aceh.
Respon Amerika Serikat terhadap pembajakan kapal dagangnya di Kuala Batu tersebar luas. Berita itu menjadi transparan ketika kapal tersebut tiba kembali di pelabuhan Salem Boston pada tanggal 16 Juli 1831. Senator Nathanian Silsbee, salah seorang pemilik kapal ituadalah senator dari Partai Republik yang merupakan oposisi pemerintahan Presiden Andrew Jackson. Ia seorang politikus yang sangat berpengaruh pada masa itu. Iamenyurati Presiden pada tanggal 20 Juli 1831 dan meminta agar pemerintah Amerika Serikat menuntut ganti-rugi atas kejahatan yang telah dilakukan penduduk Kuala Batu terhadap kapal tersebut.Ia menyampaikan petisi yang ditandatangani seluruh pedagang di Salem Boston kepada pemerintah Amerika Serikat. Isi petisi tersebutmeminta untuksegera dikirimkan kapal perang ke perairan Kuala Batuuntuk menuntut ganti-rugi dan tanggungjawab dari penguasa lokal. Hal tersebut didukung oleh pemilik kapal bernama Robert Stones. Ia bersama Andrew Dunlop sangat akrab dengan Presiden Andrew Jackson. Mereka meminta kepada Panglima Angkatan Laut Amerika Serikat, Levy Woodbury untuk mendesak presiden mengirimkan kapal perang ke Kuala Batu. Silsbee secara pribadi juga menulissuratkepada Woodbury. Ia menggambarkan besarnya keresahanakibat peristiwa penyerangan kapal dagang tersebut bagi pedagang-pedagang lada di Salem, Boston.
Pemerintah Amerikasebelum menerima imbauan Senator Silsbee telah memutuskan mengambil tindakan terhadap penyerangan kapal Friendship di Kuala Baru. Setelah mengetahui peristiwa pembajakan itu melalui suratkabar, Woodbury segera memerintahkan agar disiapkan segala keperluan untuk menuntut ganti-rugi atas pelanggaran tersebut. Presiden berjanji akan memutuskan dengan cepat. Dia membicarakan permasalahan tersebut kepada anggota parlemen pada bulan Desember 1831. Ia mengatakan kepada Senat dan parlemen bahwa perlawanan terhadap kepentingan Amerika Serikat telah dikobarkan di lautan Hindia Timur (Indonesia) dengan penyerangan dan penjarahan terhadap kapal dagang itu ketikasedang melakukan pembelian lada di pelabuhan Kuala Batu.
Amerika Serikattelah membukaruang diplomatis, tetapi tidak memungkinkan untuk dilaksanakan. Presiden Andrew Jackson mengatakan; “para pelaku penyerangan hanyalah kelompokmasyarakat kecil di dalam lingkup hubungan internasional yang beradab sehingga sangat tidak mungkin untuk dapat diselesaikan secara diplomatis”. Selanjutnya ia mengatakan; “Saya segera perintahkan mengirim angkatan laut untuk menuntut pertanggung-jawaban atas kerusakan serta membayar gantirugi kepada pemilik”.[77]Presiden AS dengan yakin mengatakan;  “mereka (Kuala Batu) telah melakukan tindakan penyerangan yang mengerikan, pastilah anggota pemerintahan yang terorganisasi mampu menjaga hubungan bilateral dengan negara asing, pertanggung-jawaban dapat dinegosiasikan. Namun, jika mereka hanya kelompok bajak laut tanpa hukum, angkatan laut Amerika Serikat-lah yang akan mendapatkan perintah untuk memberikan hukuman”.[78]

D. Jalannya Serangan Angkatan Laut Amerika Serikat terhadap Kuala Batu
Kapal angkatan laut Amerika Serikat yang dikirim untuk “memberikan hukuman” terhadap ‘bajak laut’ Kuala Batu adalah kapal Potomac. Potomac adalah kapal angkatan laut yang dibangun di yardWashington tahun 1822. Kapal perang ini dilengkapi dengan 42 meriam peluncur, dan 30 penahan gempuran meriam. Komandanekspedisi dipimpin Komodor John Downes. Ekspedisi tersebut merupakan pelayaran pertama Potomac ke luar negeri. Kapal ini berangkat dengan membawa kekuatan gabungan 300 orang pasukan “naviseal/baret biru” bersenjata lengkap dari angkatan laut dan marinir Amerika Serikat. Kapal itu meninggalkan Sandy Hook, New York, pada tanggal 28 Agustus 1831, menuju Kuala Batu dan untuk pertama kalinya militer Amerika Serikat melakukan intervensi resmi terhadap wilayah itu.
Tanggal 9 Agustus 1831, John Downesdiberi instruksi lengkap mengenai segala tindakan yang harus dilakukandi Kuala Batu, yaitu: (1) Mencari informasi mengenai penyerangan kapal Friendship.Apabila informasi yang diperoleh sesuai dengan keterangan yang diberikan oleh awakkapal tersebut di Washington, maka harus dituntut gantirugi dan pembalasan kekerasan yang dilakukan oleh orang-orang Kuala Batu terhadap kapal itu; (2) Apabila tuntutan itu tidak dipenuhi, maka pelaku penyerangan harus ditangkap dan dibawa ke Amerika Serikat untuk diadili sebagai bajak laut; (3) Sebaliknya, apabila informasi yang diperoleh di Kuala Batu berbeda dengan keterangan kapten kapal, maka Amerika Serikat hanya meminta ganti-rugi serta menghukum mati pelaku penyerangnya.
Pada tanggal 29 Agustus 1831, Potomac berangkat dari New York ke Kuala Batu dengan kekuatan 260 marinir. Sebelum sampai di Kuala Batu John Downes melakukan penyimpangan terhadap instruksi panglima angkatan laut Amerika Serikat yang diterimanya. Ia terpengaruh oleh cerita yang didengar dari kapten kapal Friendshipyaitu; Endicott dan orang-orang Inggris yang dijumpainya di Tanjung Harapan saat pelayaran ke Kuala Batu itu, yaitu; mengenai tidak mungkin akan mendapatkan ganti-rugi dari penguasa lokal Kuala Batu.
Tanggal 5 Februari 1832, Potomac tiba di perairan Kuala Batu dengan berlabuh pada jarak 5 mil dari tepi pantai. Mereka mengatur strategi pendaratan untuk mengetahui situasi Kuala Batu dan kemampuan pertahanannya. Namun, Downes lebih mendengarnasihat dari seorang penduduk Pulau Kayu bernama Po Adam. Ia sudah bersahabat baik dengan para pedagang lada dari Amerika Serikat. Dia menyarankan kepada Amerika Serikat untuk berurusan dengan Molay (Sidi) Muhammad. Menurutnya, pemimpin Kuala Batu tidak perlu lagi dinegosiasikan, kecuali dengan tindakan kekerasan.
Downes kemudian mengutus Letnan Marinir Shubrick pada dinihari 6 Februari 1832 untuk mengintai keadaan di darat. Penduduk Kuala Batu tidak terkecoh oleh penyamaran yang dilakukan Shubrick. Mereka berkelompok di pantai untuk menghadapi sesuatu kemungkinan terburuk. Ia melaporkan bahwa Kuala Batu memiliki beberapa benteng pertahanan. Selanjutnya Downes memerintahkan untuk mendaratkan kekuatan seluruh pasukan Potomac dan juga mengepung kuta-kuta (benteng-benteng) yang berada di sekitar pantai Kuala Batu untuk menangkap pemimpin-pemimpinnya.
Penduduk Kuala Batu saat penyerangan itu sekitar 2.000 orang; 500 di antaranya adalah prajurit tempur dari beberapa benteng di Kuala Batu. Pasukan Kuala Batu telah siaga untuk berjuang dan mempertahankan benteng-benteng pertahanan mereka, yaitu;
-          Benteng pertama, atau benteng yang paling depan di pinggir laut. Benteng ini dipimpin oleh raja bernama Moley Mahomed atau Sidi Muhammad.[79] Letak benteng itu sebelah barat laut Kuala Batu,atau dengan jarak 60 ela dari permukaan laut.
-          Benteng kedua, terletak sekitar 5.000 ela dari benteng pertama. Benteng kedua dipimpin oleh Teungku Di Lama yang juga benteng Teuku Di Lama.
-          Benteng ketiga terletak di dekat muara Kuala Batu. Benteng ini dipimpin Keuchik Dorahman.
-          Benteng keempat terletak persis di depan kota pelabuhan. Benteng ini hanya berjarak 30 ela dari garis pantai. Benteng ini dipimpin oleh raja yang paling berpengaruh saat itu bernama Cek Abdullah.Benteng-benteng tersebut membelakangi hutan rawa, sehingga pasukan Amerika Serikat mengira bahwa orang-orang Kuala Batu tidak akan lolos kalau dikepung.
Meski pasukan Amerika Serikat mengatakan mereka adalah para pedagang lada, panglima utama Kuala Batu Sidi Muhammad sama sekali tidak mempercayainya. Pihak Kuala Batu rupanya sudah bertekad akan menghadapi setiap tuntutan dan kemungkinan terburuk dari Amerika Serikat tersebut.[80] Tanpa membuang waktu Sidi Muhammad memerintahkan meriam-meriam Kuala Batu ditembakkan ke arah perahu-perahu milik pasukan Amerika Serikat yang sedang mendarat. Sementara dari atas Potomac, mereka terus menggempur benteng-benteng sehingga dalam tempo singkat suasana berubah menjadi perang total.
Akhirnya Sidi Muhammad dan pemimpin benteng lainnya gugur dalam penyerangan itu. Namun perlawanan masih terus dilakukan oleh pasukan Kuala Batu yang masih tersisa di dalam benteng. Kendati pasukan marinir telah menguasai benteng-benteng tersebut. Ketika pasukan tambahan mendarat, sisa-sisa pejuang Kuala Batu berhasil mengundurkan diri dan masuk ke hutan rawa di sekitar tempat itu. Pasukan marinir Amerika Serikat mengatakan, bahwa orang-orang Kuala Batu telah berhasil menghindari sergapan melalui terowongan rahasia (saluran-saluran atau sungai-sungai buatan).[81]
Setelah itu Amerika Serikat membakar kota Kuala Batu dan merampas harta yang dilakukan oleh pasukan marinir. Tidak hanya berhenti di situ saja, setelah benteng-benteng atau kuta-kuta yang terbuat dari kayu dan tanah gundukan dengan luas sekitar 25x25 meter² dihancurkan oleh 42 buah meriam pelontar dan 30 buah anti meriam. Kerugian 2 (dua) orang pasukan dan 11 orang lainnya luka-luka di pihak marinir Amerika Serikat.[82]Downes kemudian memerintahkan untuk menembaki Kuala Batu dengan meriam-meriam dari atas kapal Potomac. Akibatnya Kuala Batu hancur serta lebih dari 300 orang penduduk Kuala Batu terbunuh.[83]

E. Dampak Serangan Amerika Serikat terhadap Kuala Batu
Dampak serangan terhadap Kuala Batu yang dilakukan pasukan Downes dengan kapal perang Potomac.Mereka mendapat kecaman dari sebagian politikus di Amerika Serikat, diantaranya George Bencroft yang pada waktu penembakan Kuala Batu berada di atas kapal Potomac. Kemudian sebagiansurat kabar di Amerika Serikat di Washington seperti Nile’s Weekly Register juga mengecam tindakan tersebut.
Pada tanggal 23 Juli 1832 seorang anggota parlemen Amerika Serikat, Henry A.S. Dearborn dari Partai Republik dari Massachusetts yang beroposisi mengajukan mosi yang meminta agar Presiden Andrew Jackson menyampaikan kepada Kongres mengenai instruksi kepada Downes untuk menggempur Kuala Batu. Laporan tentang peristiwa tersebut dan mosi itu pun diterima Sidang. Pada hari itu Presiden Jackson memenuhi permintaan kongres, tetapi iaminta agar hal tersebut tidak dipublikasikan sebelum laporan lebih lanjut diterima.Akibat penyerangan Kuala Batu tersebut, Downes dikritikdengan keras di Amerika Serikat, terutama pers dan publik karena tindakannya dianggap keterlaluan. Namun, presiden Jackson tetap menyetujui seluruh tindakan tersebut dan mengatakan bahwa; “untuk memberikan hukuman seperti itu, akan menghalangi mereka dan orang lain untuk melakukan agresi yang sama seperti ini”. “Hal ini tetap perlu dilakukan dan efeknya berupa penghargaan untuk bendera kami, dan keamanan tambahan bagi perdagangan kami”.
Pada sidang Sabtu tanggal 24 Juli 1832, permintaan Presiden Amerika Serikat itu diperdebatkan. Anggota Dearborn berpendapat bahwa hal tersebut harus dipublikasikankarena apabila ditutup-tutupi dapat menjadi sorotan negatif dari publik.Sebaliknya, Ketua Komisi Urusan Angkatan Laut, Michael Hoffman dari Partai Demokrat New York menentang pendapat Dearborn dengan suatu amandemen, bahwa peristiwa tersebut dapat dipublikasikan, tetapi harus menunggu laporan lebih lanjut.
Dalam amanat tahunannya, Presiden Jackson sudah tidak menyinggung sama sekali peristiwa penggempuran Kuala Batu dengan kapal perang Potomac yang dipimpin Downes. Hal ini menunjukkan bahwa peristiwa penyerangan Kuala Batu dan pembantaian penduduknya oleh marinir Amerika Serikat telah ditutup.[84]
Dampak serangan Amerika terhadap Kuala Batu dilukiskan dalam berbagai versi. Baik ekonomi, politis bahkan karya sastra. Berkenaan dengan keberhasilan serangan kapal angkatan laut Potomac terhadap Kuala Batu. Di mana kapal itu melanjutkan tur resminya mengelilingi dunia dan menjadi kapal angkatan laut Amerika Serikat pertama yang mendapatkan penghargaan dari raja dan ratu Sandwich Island (Hawaii) sehingga kembali ke Boston pada Juni 1834.[85]
Selain itu, penyerangan Kuala Batu juga telah menjadi seting cerita sebuah novel di Amerika Serikat tahun 1901 yang dibuat Munroe Kirk. Novel sejarah itu berjudul “A Son of Satsuma” merupakan pembauran antara fiksi dan fakta dengan protagonis utama Bob Whiting yang menemukan dirinya terdampar di Kuala Batu, Sumatera ketika kapalnya Friendship ditawan oleh bajak laut lokal. Di sana, ia bertemu dengan seseorang yang “bermata abu-abu” dan ia mengamati kehidupan di ladang lada Sumatera. Terakhir ia diselamatkan oleh Potomac sebagai “campur tangan” Paman Sam di dunia internasional. Novel diakhiri Whiting dengan sepak terjangnya di Jepang menyamar sebagai Kato dan kemudian bergabung dengan United States Naval Academy.[86]
Serangan terhadap Kuala Batu “Qualla Batto” juga dirayakan di Amerika Serikat di Korps Marinir, tetapi lebih sedikit disebutkan daripada di tempat lain. Sebagai tindakan pertama militer Amerika di Asia, eksploitasi Downes “barangkali tidak terkenal dan dirayakan dalam sejarah militer AS” seperti yang sebelumnya oleh angkatan laut yang dipimpin Stephen Decatur melawan bajak laut di pantai Barbary Tripoli di Libya. Diperkirakan telahterjadi gubahan pembukaan himne marinir Amerika Serikat pada lirik bait, “dari lorong-lorong Montezuma”, untuk bait; ”dari tepi Qualla Batto”.
Setelah penyerangan Amerika terhadap Kuala Batu sepertinya tidak menyurutkan langkah para pedagang Amerika Serikat untuk terus berdagang di sana. Tujuh tahun setelah itu, pada 28 Agustus 1838, kapal dagang Amerika Serikat “Eclipse” juga diserang oleh kelompok orang di Meukek yang menewaskan kapten kapal Charles T.Wilkens. Peristiwa penyerangan hampir sama dengan penyerangan terahadap kapal Friendship. Pembajakan yang terjadi di Meukek dilakukan oleh 24 orang Aceh, yang awalnya meminta izin untuk bertemu. Saat itu, Wilkens sedang didera demam di dalam kabin. Namun ketika mereka sudah berada di dek, kapten kapal telah meminta mereka untuk menyerahkan senjatanya sebelum naik ke kapal. Hal ini awalnya disetujui tanpa ada perlawanan. Namun, ketika kapten muncul di dek untuk menerima mereka, mereka memohon agar senjata dikembalikan sebagai tanda persahabatan dan itikad baik. Wilkens menyetujui permintaan ini dan senjata orang Aceh dikembalikan, beberapa menit kemudian, ia ditusuk dan dibunuh. Kedua awak kapal lainnya juga ditikam, tetapi berhasil menyelamatkan diri dengan melompat ke laut. Sedangkan kapten kedua sedang berada di darat untuk menimbang lada, namun mereka berhasil kembali membawa Eclipse ke Salem, Boston Amerika Serikat.
Para “bajak laut” Meukek telah menjarah kapal tersebut sehingga Amerika menderita kerugian 26.000.,dolar, empat peti opium, dua peti pakaian, dua buah jam emas, teropong, dan sebagainya.[87] Raja setempat memberikan bantuan kepada mereka ketika menerima laporan penyerangan. Untuk membalas tindakan penyerangan tersebut, tidak perlu menunggu perintah presiden Amerika Serikat, karena Komodor Reid dengan kapal perang Columbia langsung menerima kabar ini ketika sudah mendekati Colombo, Srilanka. Dia langsung berlayar kembali ke Aceh. Tiba di Meukek, mereka  juga langsung membombardir kota ini dengan kekuatan 30 perwira, dan 300 pasukan marinir. Dalam beberapa jam serangan dengan gempuran meriam, Meukek terbakar dan jatuh korban beberapa penduduk meninggal dunia, dan lainnya berhasil melarikan diri dan bersembunyi di hutan-hutan di sekitarnya.
Dampak dari cara Amerika Serikat “main hakim sendiri” menyelesaikan sengketa maut antara pembeli dan penjual lada pada masa itu, ternyata diikuti oleh negara barat lainnya, seperti Perancis yang juga melakukan penyerangan militer terhadap Meukek pada tahun 1839. Mereka menyerang Meukek dengan dalih menghukum pembajak laut atau perompakan “piracy”. Cara-cara kekerasan melalui militerisme tetap digunakan oleh para petualang dalam melancarkan aksinya untuk memperoleh keuntungan perdagangan yang besar dengan tindakan dan cara-cara kolonialisme.

KESIMPULAN
Serangan Amerika Serikat terhadap Kuala Batu disebut oleh Amerika Serikat sebagai penghukuman terhadap penyerangan atas kapal dagangnya Friendship. Tindakan main hakim sendiri Amerika Serikat telah menjangkau jauh hingga ke pantai barat selatan Aceh untuk melindungi kepentingan politik ekonomi mereka. Serangan Amerika Serikat terhadap Kuala Batu akibatpersaingan politik dalam perdagangan lada, dan provokasi Belanda terhadap kerajaan Aceh. Di mana sejak tahun 1789, Aceh sudah menjalin hubungan dagang dengan Amerika Serikat dan kapal-kapal mereka datang untuk memuat lada,dan kemudianmengangkutnya ke pelabuhan Salem, Boston Amerika Serikat, dan juga Eropa, Cina yang memuat sekitar 42.000 pikul atau kira-kira 3.000 ton.
Ketika harga lada di pasaran internasional mulai merosot tahun 1829, jumlah kapal Amerika Serikat yang datang ke Kuala Batu juga menurun. Kapal-kapalAmerika Serikat yang datang ketikadepresi ekonomi dunia itu,antara lain kapal Friendship milik Silsbee, Pickman, dan Stone di bawah pimpinan nakoda Charles Moore Endicot. Endicott seorang mualim yang sering membawa kapal dagang ke Aceh. Tanggal 7 Februari 1831 kapal berlabuh di pelabuhan Kuala Batu, Aceh Barat Daya. Namun, ketika Endicot dan anak buahnya berada di daratan untuk menimbang lada, di perairan kapal awak kapal mereka dibajak oleh sekelompok penduduk Kuala Batu. Setelah kapal dapat direbut kembali, dicatat kerugian sebesar U$ 50.000 dolar dan tigaorang anak buah kapal terbunuhdalam serangan tersebut.
Penyebabserangan menurut pihak Kuala Batu, dipicu oleh kekecewaan penduduknya yang sering ditipu oleh pembeli lada dari Amerika Serikat. Hal itu diketahui ketika berat lada yang dibeli di Aceh 3.986 pikul, tetapi ketika dijual kembali oleh pedagang Amerika Serikat beratnya menjadi 4.583 pikulakibatpemalsuan takaran timbangan.
Selain itu, ada upaya provokasi Belanda, karena Amerika Serikat berhasil menguasai perdagangan lada di kawasan pesisir barat selatan Aceh. Mereka bermaksud merusak citra kerajaan Aceh di mata internasional karena merajalelanya bajak laut akibat ketidakmampuan kesultanan Aceh melindungi kapal-kapal internasional yang berlabuh di perairannya. Pihak kerajaan Aceh membantah hal tersebut, dan menyebutBelandasengaja mempersenjatai kapal Aceh yang telah dirampasnya. Ketika merompak kapal Friendship milik Amerika Serikat di Kuala Batu 7 Februari 1831, Belanda telah mengupah Lahuda Langkap untuk melakukan aksi pembajakan kapal dagang milik Amerika Serikat dengan menggunakan bendera kerajaan Aceh.
Penyerangan kapal Frienshiptersiar luas di Amerika Serikat dan semakin jelas ketika kapal itu telah kembali di Salem,Boston, Amerika Serikat pada tanggal 16 Juli 1831.Pemerintah Amerika Serikat melalui Panglima Angkatan Lautmengeluarkan surat perintah kepada kapten kapal Potomactertanggal 9 Agustus 1831, untuk menyerangKuala Batu. Kapal perang bertolak ke perairan pantai barat selatan Aceh pada tanggal 29 Agustus 1831 dari New York dengankekuatan 260 orang pasukan marinir.
            Di Kuala Batu, pemimpin dan penduduk sudah menduga akan adanya serangan Amerika Serikat tersebut.Masyarakat bersiaga menghadapiserangan tersebut. Ketika kapal-kapal dayung Amerika Serikat merapat ke daratan langsung diserbu pasukan Kuala Batu. Pasukan marinir Amerika Serikat yang lebih kuat dan hebat dnegan persenjataan modern sehingga sulit dibendungoleh pasukan Kuala Batu. Pasukan Amerika Serikat berhasil mencapai daratan Kuala Batu dan membunuh 300 orang yang berada di benteng, termasuk perempuan dan anak-anak. Mereka juga merampas harta benda milik penduduk Kuala Batu sebagai pampasan perang.
Setelah serangan berlangsung,Downesmemerintahuntuk membombardir kota Kuala Batu dengan meriam-meriam dari kapal Potomac sehingga kota ini hancur dan rata dengan tanah.Dampak terhadap serangan tersebut, pasukan marinir AmerikaSerikat mendapat kecaman termasuk di negerinya sendiri. Namun, presiden Amerika Serikat Andrew Jackson tetap tidak mau membahasnya dalam pidato penutup tahun. Peristiwa penyerangan Kuala Batu dengan kapal Potomacyang dipimpin Downes sudah ditutup-tutupi di Amerika Serikat. Dampak lain dari gaya Amerika Serikat “main hakim” dalam menyelesaikan “sengketa” antara pembeli dan penjual lada di Kuala Batu, dengan cara menggiring ‘pemahaman masyarakat dunia’ sebagai penyerangankepada kelompok bajak laut atau perompak “piracy” yang legal dengan tindakan kekerasan.
Serangan Amerika Serikat di Kuala Batu meninggalkan jejak-jejak bersejarah, yaitu; pertempuran antara lokal dengan negara ‘super power’, jejak sejarah perdagangan dunia, dan melahirkan berbagai cerita fiksi baik yang dirangkai dalam tulisan maupun lisan rakyat; baik di Amerika Serikat maupun di Kuala Batu. Dari peristiwa serangan Amerika Serikat terhadap Kuala Batu, di Aceh Barat Daya pada tanggal 6 Februari 1832, disarankan beberapa hal:
1.    Perlu pengkajian, penggalian, dan melestarikan nilai-nilai historis yang berdimensi hubungan perdagangan internasional tersebut dalam penguatan jatidiri kita sebagai bangsa yang maritim besar, karena di dalamnya mengandung nilai-nilai historis dan nilai-nilai edukatif yang membanggakan dari sistem perdagangan internasional di masa lalu.
2.    Puing-puing kota Kuala Batu sebagai jejak bersejarah sudah tidak terbantahkan, namun berbagai tindakan vandalisme terhadap peninggalan bersejarah di kawasan ini telah terjadi sejak lama sehingga telah merubah bentuktinggalan Kuala Batu di Kabupaten Aceh Barat Daya. Apalagi toponim nama Melayu Kuala Batu’ yang di dunia internasional disebutQualla Batto telah berubah menjadi nama lokal “Kuala Batee”. Kuala Batu hanya dikenal sebagai pelabuhan udara kecil yang terdapat di Aceh Barat Daya.
3.    Relokasiterhadap meriam-meriam yang sudah dipindahkandari benteng-benteng yang terdapat di Kuala Batuperlu dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Aceh Barat Daya terkait kepentingan historis, edukatif, dan rekreatifdi masa kini dan akan datang.
4.    Perlu penataan kembali kawasan Kuala Batu menjadi kawasan maritim bersejarah yang dilengkapi dengan sarana edukatif historis, rekreatif dan pengembangan ekonomi berbasis kemaritiman di Kabupaten Aceh Barat Daya mengingat daerah ini sangat potensial untuk mendapatkan kembali kejayaannya; seperti yang pernah terjadi saat sistem perdagangan internasional pada masa lalu sebelum dihancurleburkan Amerika Serikat pada tanggal 6 Februari 1832.
5.    Perlu dilakukan pemetaan dan penataan kembali ‘kawasan maritim Kuala Batu’yang bersejarah dengan disinkronkan melalui pembangunan pelabuhan Surien yang segera dilaksanakan oleh pemerintah Indonesia di Lama Tuha, yaitu masih di lingkup kawasan Kuala Batu di Kabupaten Aceh Barat Daya sehingga penguatan ekonomi kemaritiman di sana dapat kembali terwujud seperti yang pernah terjadi di sana dari abad ke-18 hingga awal abad ke-19, meski pun komoditasnya bukan lagi lada, tetapi sawit, biji besi dan lain-lain.

DAFTAR KEPUSTAKAAN


[1]Reid,  Anthony, Asia Tenggara  dalam Kurun Niaga 1450-1680, (Jakarta: Yayasan Obor, 1992), hlm.9
[2] Reid, dalam Mohammad Iskandar, Nusantara Dalam Kurun Niaga Sebelum Abad ke-19, dalam  Naska, Tradisi Lisan, dan Sejarah,( Jakarta: Jurnal Ilmu Pengetahuan Budaya Vol.7 Nomor 2, Oktober 2005), hlm.180.
[3]Ibid.
[4]Ibid, lihat juga Meilink Rulofsz, M.A.P, Asian Trade and European Influence in the Indonesian Archipelago between 1500 and about 1630. 1962, hlm.172.
[5] Mohammad Iskandar,  Nusantara Dalam Era Niaga Sebelum Abad ke-19, dalam Naskah, Tradisi Lisan dan Sejarah, Jakarta: Jurnal Ilmu Pengetahuan UI, hlm.183-184.
[6] H. Mohammad Said,  Aceh Sepanjang Abad, (Medan: Harian Waspada), hlm.337.
[7]Ibid.
[8]Ibid.
[9] Zakaria Ahmad, Negeri dan Rakyat Aceh Barat Daya dalam Lintasan Sejarah menuju Daerah Otonom, (Blangpidie: Pemerintah Kabupaten Aceh Barat Daya, 2007), hlm.3
[10]Finberg dan Skipp, dalam Taufik Abdullah (ed), Sejarah Lokal di Indonesia, Cet.5. (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2005)., hlm.15
[11] Taufik Abdullah, Sejarah Lokal di Indonesia, Cet. Ketiga (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1990), hlm.6.
[12] Louis Gottschalk, Mengerti Sejarah, Terjemahan Nugroho Nutosusanto, (Jakarta: UI Press, 1969), hlm.32
[13] Sartono Kartodirdjo, Pendekatan Ilmu Sosial Dalam Metodologi Sejarah, (Jakarta: PT Gramedia, 1992), Hlm.10.
[14] Sartono Kartodirdjo, “Modernisme dalam Perspektif Historis”, dalam Buletin Fakultas Sastra dan Kebudayaan UGM. No.5, (Yogyakarta: Fakultas Sastra, 1997), hlm.134.
[15]Zakaria Ahmad,2007, Negeri dan Rakyat Aceh Barat Daya dalam Lintasan Sejarah Menuju Daerah Otonom, Blangpidie: Pemda ABDYA, hlm.83. Lihat juga BPS, Aceh Barat Daya Dalam Angka, Tahun 2005, kerjasama BPS dan Bappeda Aceh Barat Daya, hlm.3.
[16]Ibid, hlm.83
[17]Aceh Barat Daya Dalam Angka Tahun 2005, hlm.3
[18]Ibid, hlm.85
[19]Ibid.
[20] Ibid.
[21]Ibid.
[22] Masyarakat Aceh Barat Daya juga mempercayai pada  awalnya juga telah ada orang yang di Aceh umumnya disebut Mantee. Mereka sering dijumpai mugee tembakau yang melewati perjalanan menelusuri sekitar Taman Nasional Gunung Lauser hingga akhir tahun 1970-an.Orang Mantee bila bertemu orang asing langsung menghindar dan bersembunyi.
[23]Ibid.
[24] Hal ini masih kontroversi karena berdasarkan penggalian arkeologis di Ceruk Mendale Aceh Tengah menyimpulkan bahwa orang Gayo sudah ada sejak 3500 tahun SM.
[25] Tentang penetrasi Belanda di Sumatera Barat dan konflik dengan penguasa Aceh di sana dapat dilihat dalam M. Said, Aceh Sepanjang Abad, (Medan : Percetakan Waspada,  1961), hlm. 384-400.
[26] Tentang kedatangan atau perpindahan penduduk atau orang Aceh ke pantai barat selatan, sehingga pernah menimbulkan konflik dan peperangan mengenai perebutan wilayah dan permukiman dengan orang Aneuk Jamee yang datang dari Sumatera Barat ke pantai Barat pada awal abad ke-18, lihat Hikajat Potjut Muhammad, edisi G.W.J Drewes, Martinus Nijhoff, The Hague, 1979, hlm. 116.
[27]Lihat R. Hoesein Djajadiningrat “Critisch Overzicht van de in Maleische werken vervette Gegevens over de Geschiedenis van het Soetanaat van Atjeh”, BKI, 1911, hlm. 263.
[28]John Anderson, Acheen and The Port on The North and East Coust of Sumatra, hlm. 159.
[29] Sultan Ibrahim dua kali memerintah di Kerajaan Aceh Darussalam, pertama hingga tahun 1836 dan periode kedua hingga tahun 1870.
[30] Zakaria Ahmad, (ed), Negeri dan  Rakyat Aceh Barat Daya Dalam  Lintasan Sejarah Menuju Daerah Otonom,  Blangpidie : Pemda Aceh Barat Daya, 2007, hlm.124. Mesjid (Meuseujid) dan Madrasah (Meunasah) adalah sistem pendidikan agama dan adat yang sudah ada sejak dulu.
[31]Ibid.
[32]Wawancara dengan Mahmudin tanggal 24 Februari 2012, di Blangpidie.
[33]Ibid, hlm.125, dalam istilah Aceh disebut Dayah, sedangkan dalam istilah Aneuk Jamee disebut Dokyah.
[34]Ibid, hlm.126
[35]Zakaria Ahmad, (ed), Negeri dan  Rakyat Aceh Barat Daya Dalam  Lintasan Sejarah Menuju Daerah Otonom,  Blangpidie : Pemda Aceh Barat Daya, 2007, hlm.164
[36]Wawancara dengan Mahmudin di Blangpidie, tanggal 25 Maret 2012.
[37]Ibid.
[38]Wawancara dengan Imuem Mukim Mahmudin di Susoh tanggal 24 Februari 2012, dan lihat juga Op.cit., hlm.128
[39] Aceh Barat Daya Dalam Angka, 2003, dan op.cit,hlm.173
[40]Ibid.
[41]Aceh Barat Daya Dalam Angka Tahun 2003, dan Op.Cit. hlm.
[42]Op.Cit, hlm.168
[43]Wawancara dengan Imuem Mukim Mahmudin, di Susoh  tanggal 24 Februari 2012.
[44]Ibid.
[45]Ibid.
[46]Ibid.
[47]Ibid
[48]Ibid.
[49]Ibid
[50]Ibid
[51] Nield Mulder, Kepribadian Jawa dan Pembangunan Nasional (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1986), hlm.38.
[52] Wawancara dengan Mahmudin di Susoh tanggal 22 Februari 2012.
[53]Ibid.
[54]Jean Gelman Taylor, dalam Henk Schulte Nordholt, et.all (ed.) Aceh: Narasi Foto, 1873-1930’, Perspektif Baru Penulisan Sejarah Indonesia, Jakarta: KITLV, 2008, hlm.336
[55]Ibid,
[56]Husein Djayaningrat, dalam Ibid.
[57]Ibid.
[58]Lee Kang Hing,The Sultanate of Aceh: Relations with the British 1760-1824. Kuala Lumpur:Oxford University Press, dalam ibid, hlm.336.
[59] K.F.H. van Langen, Op.cit., hlm. 210.
[60]Ibid.
[61]Ibid.
[62]Ibid., hlm. 210-211.
[63]Ibid
[64]Ibid.
[65]John Anderson, Op.cit., hlm. 51. Canning mencatat bahwa tidak semua pelabuhan kecil itu ikut membangkang. Singkil misalnya mengirim wase kepada sultan berupa kapur barus dan kemenyan, senilai $3000 setahun. Kepatuhan itu juga dilakukan oleh Barus, Tapaktuan dan Ligan. Namun mungkin ini relatif.
[66]Tarling, Nicholas, 1957, “Sumatra and The Archipelago”, dalam British Policy in the Malay Peninsula and Archipelago, 1824-1871, JIMBRAS, hlm.1, mencatat bahwa suasana di Aceh pada tahun 1851 sedang kusut. Tuanku Ibrahim ingin menggantikan menantunya Sultan Ali Iskandar Syah. Ketika ia jadi pemangku. Namun keterangan ini tidak jelas karena Tarling tidak menyebutkan sumber.
[67] Pelabuhan-pelabuhan yang dikunjungi antara lain; Meulaboh, Tapaktuan, Teurumon, dan Singkil. Ada pula pelabuhan yang didatangi langsung seperti Rigaih, Meukek, Labuhan Haji, Kuala Batu, Susoh, Asahan, Said, M., Aceh Sepanjang Abad, Medan; Waspada,  hlm.509
[68] M.Nur El Ibrahim, Selayang Pandang Langkah Diplomasi Kerajaan Aceh, Jakarta: Grasindo, hlm.30.
[69]Ibid, hlm.425
[70] James Duncan Philip, Salem and the Indies; Story of the Great Commercial Era of the City ,1884.
[71] Said, Op.Cit, hlm426.
[72]Dalam versi lain disebutkan Pada 7 Februari 1831 kapal tersebut berlabuh di pelabuhan Kuala Batu, Aceh Barat Daya. Ketika M. Endicot dan anak huahnya berada di daratan, tiba-tiba kapal tersebut dibajak oleh sekelompok penduduk Kuala Batu. Akan tetapi, dapat dirampas kembali oleh kapal-kapal Amerika Serikat lainnya yang kebetulan saat itu berada di perairan Kuala Batu. Namun mereka menderita kerugian sebesar US $ 50.000 dan tiga anak buah kapal terbunuh.
[73] Peristiwa serangan atas kapal itu kemudian menimbulkan sejumlah tanda tanya. Pasalnya, selama setengah abad menjalin hubungan dagang di antara Kuala Batu dengan pedagang Amerika Serikat belum pernah terjadi perompakan seperti itu di sana.
[74] M.Nur El Ibrahim, Op.cit.
[75]ibid
[76]ibid
[77]Jeremiah N Reynolds, 1835, “Voyage of the United States FrigatePotomac, New York: Harper and Brothers, 1835.
[78]ibid
[79] Putnam, Op.Cit, hlm.102
[80]Penang Gazette, 2 Februari 1838, dalam Nicholas Tarling, Op.Cit, hlm.185.
[81] Nicholas Tarling, ibid.
[82]Laporan Angkatan Laut AS, Cougar Scream, US 166th Marine Corps, Vol. 1 Nov 1941, No. XXIII
[83]Ibid
[84] M.Nur El Ibrahim, Op.cit.
[85]Voyage of the United States Frigate Potomac, Op.cit.
[86] Kirk Munroe, A Son of Satsuma; or with Perry in Japan, dalam the United Stated Attack on Kuala Batu, dalam Sejarah Melayu, www.sabrizain@malaya.org.uk, diakses 18 Maret 2012.
[87] Said, Op.cit, hlm.429.

x

Komentar

Postingan Populer