SERANGAN AMERIKA TERHADAP KUALA BATU, ACEH BARAT DAYA 1832
PENDAHULUAN
Lada
adalah komoditas perdagangan dari Sumatera yang menurut beberapa sumber sangat
digemari di Eropa, Amerika Serikat, dan Tiongkok (Cina) pada masa lalu.
Meskipun harganya separuh dari rempah-rempah, namun tetap menjadi ekspor yang
sangat penting dari nusantara bahkan Asia Tenggara. Tanaman ini pada mulanya
sudah ditemukan sebagai barang dagangan di Kerala, pantai Malabar di India
Barat Daya, yang pada saat itu dikenal oleh orang Arab dan Eropa sebagai
“negeri lada”.[1]Kapan
dimulainya pembudidayaan lada di Sumatera sampai saat ini belum jelas. Laporan
Marcopolo (1292), dan Ibnu Batutah (1355) sewaktu mengunjungi Sriwijaya tidak
menyebutkan adanya komoditas lada sebagai barang dagangan dari kerajaan
tersebut. Sumber dari Cina juga menyebutkan, “bahwa ada orang yang mengatakan
lada kebanyakan dari Malabar dan komoditas lada yang dibeli oleh pedagang asing
dari Jawa berasal dari sana”.[2]
Dari ketiga sumber tersebut tidak menunjukkan Sriwijaya sebagai produsen lada.
Namun tidak berarti Sumatera tidak menghasilkan lada, karena pada abad ke-13,
Pasai dan Pidie telah berkembang menjadi kota perdagangan internasional dan
salah satu komoditas ekspor utamanya adalah lada.[3]
Abad
ke-16, posisi Malaka telah menggeser kedudukan Pasai dalam perdagangan
internasional karena letaknya yang cukup strategis dan lebih menguntungkan
dibandingkan Pasai. Posisi inilah yang membuat Portugis tertarik menguasai
Malaka, dan kemudian berhasil diduduki oleh Alfonso d’Albuquerque pada tahun
1511. Dengan merebut Malaka, Portugis menguasai Ormuz di Laut Merah, dan Goa di
India. Namun hal ini yang kemudian membuat Malaka menjadi dihindari oleh
pedagang muslim untuk berdagang. Akibatnya Malaka kemudian semakin merosot, dan
tidak pernah meraih lagi kejayaannya.[4] Abad ke-17, perdagangan di Malaka dikuasai
oleh tiga kekuatan, yaitu; Aceh, Johor, dan Portugis. Johor kemudian
bekerjasama dengan Belanda, dan Malaka kemudian dikuasai Portugis. Hal ini
membuat Aceh menyerang Johor, dan sebagian keluarga Sultan Johor ditawan.
Selain itu, Aceh juga menghancurkan benteng Vereenigde
Oost-Indische Compagne (VOC) di
Johor pada tahun 1613. Johor sudah berkali-kali diserang Aceh, namun Johor dan
Portugis tidak pernah menyerang balik ke Aceh. Tekanan militer Aceh baru
berhenti, setelah mengalami kekalahan telak di depan pelabuhan Malaka.[5]
Setelah Malaka
dikuasai Portugis, pantai barat Sumatera mulai beralih menjadi jalur
perdagangan yang ramai dari perdagangan internasional pada abad ke-16. Di pantai
barat Sumatera saat itu hegemoni kerajaan Aceh masih sangat kuat secara de facto sehingga menguasai perdagangan
lada di Sumatera Barat dan produksi emas di Salida.[6]
Dominasi kerajaan Aceh di pantai barat Sumatera sampai ke Bengkulu.
Pada abad
ke-18, setelah Sultan Iskandar Muda dan Sultan Iskandar Tsani mangkat, hegemoni
Aceh diperkirakan mulai memudar, terlebih pada masa kesultanahan Tajul Alam
Safiatuddin Syah. Hal ini terjadi karena persekutuan antara Belanda dan Melayu
berusaha menghapus pengaruh Aceh pada tahun 1663 di sana. Akibatnya, Aceh
mengalami banyak kerugian karena vasal-vasal (daerah-daerah ranto) yang
sebelumnya setia menyetor upetinya kepada perwakilan-perwakilan kesultanan Aceh
di pesisir barat Sumatera telah banyak yang mengadakan hubungan perdagangan
sendiri-sendiri dengan para pedagang asing secara ilegal.[7]
Belanda
mengambil kesempatan tersebut untuk menguasai pantai barat Sumatera, namun
posisinya tetap saja tidak kondusif karena kerajaan Aceh ‘meskipun hanya di
bawah tanah’ pengaruhnya masih sangat kuat bersemai di sana. Kerajaan Aceh
terus menyerang posisi Belanda untuk mempertahankan statusnya di sana hingga
tahun 1670, namun karena saat itu Aceh juga harus mempertahankan dua front,
yaitu di pantai barat dan juga pantai timur Sumatera. Sedangkan pada saat yang
bersamaan, Aceh juga masih berusaha mempertahankan eksistensi hingga ke negeri-negeri
seberang di Malaka. Kesempatan tersebut dipergunakan oleh Belanda untuk terus menanamkan
pengaruhnya di pantai barat Sumatera hingga kemudian dapat menguasai
pertambangan emas di Salida.[8]
Akhir
abad ke-19 dan menjelang awal abad ke-20, badan usaha perdagangan milik BelandaVOC yang mempunyai kekuasaan politik dan
militer mengalami keruntuhan akibat korupsi yang merajalela. Pada saat yang
hampir bersamaan, kerajaan Aceh juga sedang kritis karena mengalami masa-masa
perang bersaudara dan berbagai konflik internal lainnya di kesultanan. Hal ini
membuka kesempatan bagi Belanda untuk terus menanamkan pengaruhnya dan
menguasai wilayah-wilayah yang sebelumnya merupakan bagian dari hegemoni Aceh
di pantai barat Sumatera.
Pada
masa ini pantai barat selatan
Aceh yang berbatasan langsung dengan Samudera Indonesia telah berkembang dalam berbagai aktivitas perdagangan
internasional. Teluk
Susoh sejak abad ke-18 hingga awal abad ke-19 merupakan salah satu pusat perdagangan yang ramai.[9] Kuala
Batu dikenal sebagai pusat perdagangan lada internasional pada masa lalu, namun kemudian kota ini
hancur-lebur usai diserang
oleh armada angkatan laut Amerika Serikat dengan kapal perang Potomac pada tahun 1832. Banyak
spekulasi dan argumentasi yang melingkupi peristiwa ini, sehingga perlu
ditelusur fakta dan data yang sebenarnya di lapangan. Hal ini penting dilakukan
untuk mengetahui penyebab peristiwa penyerangan Amerika Serikat terhadap kota
pelabuhan yang berada di pesisir barat selatan di kabupaten Aceh Barat Daya ini
dengan segala aspeknya.
Kuala
Batu saat ini hanyalah kawasan yang sepi dari segala aktivitas pelabuhan
maritim. Lokasinya terisolasi dari segala aktivitas perdagangan maritim dan
hanya tersisa sebagai permukiman kecil yang berbentuk desa/gampong dan ditempati
oleh beberapa Kepala Keluarga. Daerah ini hanyalah menyisakan perkampungan
kecil nelayan tradisional dan sebagian menyambil sebagai peternak kerbau.
Sedangkan di sebagian besar wilayah pedalamannya telah berubah menjadi kawasan
pengembangan sawit rakyat yang difasilitasi secara besar-besaran oleh
pemerintah kabupaten Aceh Barat Daya sejak beberapa tahun terakhir (sekitar TAHUN
2006). Perubahan tata ruang lokasi ini berpengaruh dalam penelusuran sumber,
mengingat sulitnya pengumpulan data-data dari struktur dan tinggalan yang
tersisa untuk kepentingan interpretasi dalam menghubungkan variabel-variabel
tentang peristiwa tersebut dalam historiografi.
Penelitian serangan Amerika
Serikat terhadap Kuala Batu di Aceh Barat Daya pada 6 Februari 1832dilakukan untuk menginterpretasi
variabel-variabel peristiwa dalam rangka penggalian sumber sejarah untuk mengungkap akar permasalahan tersebut. Penelitian
ini berusaha menelusuri dinamika perkembangan Kuala Batu sebagai pelabuhan lada
yang tercatat dalam lembaran peristiwa sejarah di pesisir barat selatan Aceh pada masa lalu. Faktor-faktor
yang menjadi penyebab serangan Amerika Serikat dikaji untuk menjawab pertanyaan
penelitian, yaitu: mengapa Angkatan Laut Amerika Serikat menyerang Kuala Batu?.
Tujuan penelitian
berusaha menjelaskan serangan
Amerika Serikat terhadap Kuala Batu di Aceh Barat Daya pada tanggal 6 Februari
1832 dengan segala
dinamika yang terkait daripadanya. Deskripsi seperti ini diperlukan dalam rangka
peningkatan pengetahuan dan memori kolektif bangsa sebagai pengalaman masa lampau yang berguna kepada generasimasa kini dan masa yang akan datang sehingga dapat
mengambil nilai-nilai positif dari peristiwa masa lalu sebagai pedoman di masa
kini dan mendatang.
Hasil
penelitian diharapkan menjadi sumber pengetahuan sekaligus sumbang saran bagi
pemerintah Kabupaten Aceh Barat Daya dalam membuat kebijakan terhadap situs
sejarah, khususnya untuk menata kembali kawasan bersejarah ini menjadi suatu zona
edukasi dan rekreasi yang bernuansa historis, khususnya penelitian,
pengembangan dan pemanfaatannya sebagai wisata sejarah dan ziarah ke
makam-makam para pemimpin Kuala Batu dan ‘grave shewbuntar’ dan makam
orang Amerika yang gugur dalam peristiwa tersebut di sana.
Manfaat
penelitian adalah menghasilkan satu naskah sejarah lokal berkaitan dengan objek
kajian yang diteliti. Secara praktis, peristiwa masa lalu dapat dijadikan
pedoman dalam menentukan langkah ke masa depan yang lebih baik, khususnya bagi
generasi muda sebagai penerus estafet pembangunan bangsa. Manfaat lain
penelitian adalah menambah wawasan dan cakrawala historis terhadap perjalanan
sejarah bangsa dan negaranya pada masa lampau sebagai spirit dalam pembangunan
bangsa sebagai pembentuk jati diri pada saat ini dan masa mendatang.
Secara
konseptual Kuala Batu terletak di Kecamatan Kuala Batee Kabupaten Aceh Barat
Daya saat ini sudah pernah disebut di dalam beberapa referensi,baik lokal
maupun asing seperti
John Anderson dan Muhammad Said. Namun penelusuran tentang peristiwa serangan
Amerika Serikat terhadap Kuala Batu perlu dilakukan pengkajian sumber, analisa
sumber, dan pengintepretasian sumber ke dalam kajian sejarah yang objektif
melalui observasi sehingga akar permasalahan tersebut DAPAT diungkap secara sense of belonging atau objektivitas sejarah tentang mengapa terjadi
peristiwa serangan tersebut di dalam kerangka dan kurun waktu historis. Peristiwa
penyerangan tersebut tentu saja tidak berdiri sendiri-sendiri, namun terkait dengan rangkaian
kronologis yang kompleks,
maka untuk menguraikannya diperlukan penelitian mendalam dan komprehensif
mengenai fakta dan
proses serta dinamika perkembangannya yang diinterpretasikan ke dalam
historiografi.
Penelitian
dibatasi mengenai
serangan Amerika Serikat terhadap Kuala Batu di Aceh Barat Daya pada tahun
1832. Peneliti
memposisikan peristiwa ini sebagai pokok pembahasan. Ruang
lingkup materinya mengurai seputar serangan Amerika Serikat
terhadap Kuala Batu pada kurun waktu tersebut. Spasial atau kajian lokasi dilakukan di Kuala Batu
Kecamatan Kuala Batee Kabupaten Aceh Barat Daya. Konsepsi “Kuala Batu” merujuk kepada
referensi wilayah pada masa lalu, paling tidak saat ini telah melingkupi
“kawasan” di tiga kecamatan di Kabupaten Aceh Barat Daya sekarang, yaitu;
Kecamatan Kuala Batee, Kecamatan Babah Rot, dan Kecamatan Jeumpa.
Temporal
atau kajian waktu penelitian adalah tahun 1832, di mana tahun ini telah terjadi
peristiwa penyerangan oleh Amerika Serikat terhadap Kuala Batu yang dimulai
sejak tanggal 5-17 Februari 1832. Disebutkan pada tanggal 5 Februari 1832 kapal
perang Potomac milik Angkatan Laut
Amerika Serikat tiba di perairan Kuala Batu dan penyerangan serta
penghancurannyamulai dilakukan sejak dini hari tanggal 6 Februari 1832.
Penyerangan tersebut dinyatakan berakhir pada 17 Februari 1832.
Penelitian serangan Amerika
Serikat terhadap Kuala Batu di Aceh Barat Daya merupakan aspek kajian sejarah diplomasi internasinal antara Aceh dengan Amerika Serikat. Diplomasi antara Amerika Serikat dengan Aceh gagal karena "bajak laut" Kuala Batu dianggap tidak mau berkerja sama sehingga serangan tetap berlangsung. Kajian wilayahnya adalah ranah sejarah lokal di mana Kuala Batu adalah tempat
atau lokalitas dengan pembatasan (spasial) yang memuat kisah lampau dari
kelompok atau masyarakat yang berada dalam lingkup yang terbatas.[10]Sejarah lokal menjelaskan peranan
masyarakat lokal dalam periodisasi sejarah, karena sebelumnya lebih ditonjolkan
peran orang asing dalam sejarah Indonesia.
Metode penelitian ini menggunakan metode sejarah dan tidak terlepas dari definisi sejarah
sebagai ilmu yang mempelajari dinamika dan perkembangan kehidupan manusia pada
masa lampau, mengaitkan dan merekontruksi dalam tulisan yang dapat dipertanggung-jawabkan sebagai karya tulis sejarah.
Hasil penulisan secarakontekstualmencoba menerangkan dan memahami peristiwa sebagaimana
terjadi.[11]Louis
Gottschalk mengatakan bahwa metode sejarah adalah proses menguji dan menganalisa secara
kritis jejak rekam masa lampau.[12]
Dengan demikian metode penelitian sejarah harus kritis di dalam menggunakan aturan dan prinsip-prinsip
ilmu sejarah.Tahappenelitian ini dilakukan dengan beberapa metode, yaitu; pengumpulan sumber (primer
dan sekunder),
verifikasi sumber untuk membuktikan kredibilitas sumber, dan kritik eksternal. Selanjutnya interpretasi berdasarkan analisis dan sintesis, serta
histirografi secara deskriptisanalitis.
Penulisan
sejarah lokal ini berusaha menguraikan mengapa peristiwa terjadi dengan menggambarkan kejadian tersebut
sebagai proses yang disimpulkan
dalam uraian analisis.[13]
Perkembangan peristiwa dirangkai berdasarkan fakta tentang apa, siapa, kapan, di mana, serta bagaimana. Kemudian disusun secara kronologis variabel sebab-akibat, motivasi, sebagai suatu
kompleksitas kejadian-kejadian untuk menjawab pertanyaan penelitian.
Proses pengumpulan sumber dalam menelusuri serta
menjelaskan permasalahan
dilakukan melalui penelitian sumberprimer maupun sekunder di lapangan dan
perpustakaan. Sumber-sumber primer dan sekunder diperoleh di lokasi penelitian dan
perpustakaan yang ada di provinsi Aceh; yaitu Perpustakaan BPNB Banda Aceh,
Perpustakaan PDIA, Perpustakaan Ali Hasymi, Perpustakaan Badan Perpustakaan dan
Arsip Provinsi Aceh. Hasil
penelitian memaparkanlatar belakang historisyang menunjukkan kontinuitas dinamika berkaitan dengan
peristiwa. Sartono menyebutkan, tugas interpretasi sejarah harus dipusatkan pada
kontinuitas pembahasan,karena persoalan-persoalan yang berakar pada masa lampau akanterus berkembang sampai sekarang dan masa
yang masa akan datang.[14]
HASIL DAN PEMBAHASAN
A.
Tinjauan
Geografis
Kuala
Batu terletak di Kecamatan Kuala Batee Kabupaten Aceh Barat Daya secara astronomi terletak pada 3º,05–3º,80 Lintang Utara dan 96º,23’.02’–97º,23’03’ Bujur Timur.[15]Kabupaten
ini memiliki luas 2.334.01 Km². Letak geologinya tidak terlepas dari seluruh rangkaian pegunungan Bukit Barisan.
Daerah ini termasuk di dalam lingkup “ring of
fire” atau “cincin api” dalam rangkaian pegunungan yang masih muda yang diketahui dengan
adanya gejala-gejala geologis seperti gempa bumi dan aktivitas gunung berapi
yang dikenal dengan patahan semangka.[16]Aceh
Barat Daya berbatas dengan beberapa kabupaten, yaitu; di bagian utara
berbatasan dengan kabupaten Gayo Lues, di bagian selatan dengan Samudera
Indonesia, di bagian barat dengan kabupaten Nagan Raya, dan di bagian timur
dengan kabupaten Aceh Selatan.[17]
Kabupaten ini terdiri atas 9 (sembilan) kecamatan, yaitu; Babah Rot, Kuala
Batee, Jeumpa, Susoh, Blangpidie, Suak Setia, Tangan-Tangan, Manggeng, dan
Lembah Sabil.
Kuala
Batu beradadi pesisir barat selatan Aceh di bagian tenggara provinsi Aceh, namun karena kabupaten Aceh Tenggara sudah terlebih
dulu ada, maka “founding father” daerah tersebut bersepakat menamakan “Aceh Barat Daya”,[18]saat
daerah itu masih terintegrasi dalam lingkup Aceh Barat dan kemudian terintegrasi dalam
kabupaten Aceh Selatan. Daerah
ini beriklim tropis, dengan curah hujan dan
kelembabantinggi. Temperaturnya berkisar antara 26º-30º Celcius, di dataran tinggi berkisar antara 15º-23º Celcius, tetapi
kadangkala bisa mencapai 12ºCelcius.[19]Curah
hujannya berkisar antara
3.228 mm-4.912 mm/tahun.
Kelembaban antara 70-80%. Hanya pada bulan Mei, Juni, Juli, dan Agustus yang relatif agak kering.[20]Topografi
daerah ini berbukit-bukit dan dataran yang relatif sempit dibandingkan daerah pantaitimur Aceh. Daerahnya
membujur di sepanjang pegunungan Bukit Barisan.
Sebagian besar pesisirnya berlereng curam dan bergunung-gunung. Dataran rendahnya terletak di sebelahbarat, di mana
beberapabagian daerahrawa-rawa
dan muara sungai di pesisir
kecamatan Kuala Batee
dan Babahrot.
Daerah pegununganterletak di sebelah timur merupakan kawasan ekosistem Taman
Nasional Leuser di barat wilayah ini.Dataran
tingginyaantara 0-100 meter dari permukaan laut seluas 43,04% dari luas keseluruhan
wilayah ini. Selebihnya merupakan daerah landai dengan kemiringan 27,05%, sedangkan daerah
bergelombang sekitar 21,81% , dan daerah
miring dan terjal seluas 5,10%.[21]
B.
Tinjauan
Historis Penduduk
Asal-usul
mengenai penduduk di Kabupaten Aceh Barat Daya dengan bentang wilayah dari
Ujong Manggeng hingga Ujong Raja ini, tidak disebutkan secara jelas. Masyarakatberpendapat
bahwa penduduk asli yang mendiami daerah ini adalah orang Batak yang disebut
“Batak 27”.[22]
Hal ini berkaitan dengan toponimi mengenai keberadaan suatu tempat yang
dinamakan “guha batak” atau “gua
batak” di pedalaman. Namun ada juga yang mempercayai penduduk aslinya adalah
orang-orang Manteu (Gayo atau Aceh asli?). Oral history menyebutkan bahwa koloni
orang Batak 27 telah terpinggirkan oleh pendatang baru dari Sumatera Barat
maupun dari daerah Aceh lainnya. Mereka terpaksa menyingkir ke pedalaman dan
terus terdesak hingga ke Bebesan di Kabupaten Gayo Lues sekarang.[23]
Di dataran tinggi Gayo, mereka kemudian dikenal dengan Belah Bebesan.[24]
Orang-orangAneuk
Jamee (Minangkabau) merupakan pendatang dari Sumatera Barat yang telah
bermigrasi ke Aceh Barat Daya diperkirakan terjadi pada bagian kedua abad ke-17
(sekitar 1840-an setelah adanya Traktat Sumatera 1824), yaitu semenjak Belanda
berhasil mempengaruhi dan menduduki Sumatera Barat yang sebelumnya di dalam
lingkup vasal kerajaan Aceh. Jauh sebelumnya, diduga setelah adanya Traktat
Painan antara penguasa lokal Sumatera Barat dengan Belanda pada tahun 1663
sehingga perwakilan orang-orang Aceh yang berada di Sumatera Barat mulai menyingkir
ke sana karena sebagian Sumatera Barat tersebut berada di bawah taklukan
kesultanan Aceh dan orang Minangkabau yang tidak mau tunduk ke dalam kekuasaan
Belanda. Mereka memilih bermigrasi ke pantai barat Aceh yang disebut sebagai
daerah tujuan migrasi (rantoe). Sebagian di antara mereka membangun
koloninya di Susoh dan sebagian lainnya di Meulaboh atau serta di tempat
lainnya sehingga mereka di Aceh lazim disebut sebagai suku “Aneuk Jamee”atau
“suku anak keturunan tamu”.[25]Bersamaan dengan periodisasi itu, daerah ini
juga kedatangan migrasi orang
Aceh yang berasal dari Aceh Besar dan Pidie. Mereka juga membuka
perkebunan (seuneubok) lada dan padi dan hingga awal abad ke-19, lada
merupakan tanaman ekspor terpenting dalam perdagangan internasional di wilayah
tersebut.[26]
Orang Minangkabau
dan orang Aceh membangun komunitasnya di muara sungai, yaitu; Krueng Susoh, Krueng Baro, Krueng Babah Rot
dan Krueng Seumayam, seperti di Lama Tuha, Kuala Batu, Susoh, Suak, Lhok Pawoh
Utara, dan Pasi Ujong Manggeng. Lambat-laun permukiman terbentuk menjadi suatu pemerintahan lokal yang mandiri tetapi berada di bawah perlindungan Kerajaan Aceh Darussalam. Namun,
di antara mereka ada yang berhasil, seperti Leube Dafa dari Trumon. Pada masa
setelah itu ada juga Datuk Besardi Manggeng yang tidak mau membayar upeti kepada
Sultan Aceh sehingga Sultan Alauddin Jauhar alAlamsyah yang memerintah dari
tahun 1795-1824murka dan memutuskan memimpin pelayaran sendirimenyerang
Manggeng.[27]
Inspeksi sebagai kontrol hegemoni itu terus dilakukan oleh Sultan Aceh, namun
tidak menutup kesempatan kerajaan-kerajaan kecil di ‘ranto’tersebut bisa
secara mutlak dikuasai secara bijaksana oleh pusat kerajaan Aceh Darussalam.
Mereka secara ilegal sering berhubungan dengan pedagang asing dalam perdagangan
ladatanpa membayar wasee atau pajak
ke pusat kerajaan di Bandar Aceh Darussalam.
Di daerah ini pedagang Inggris, Amerika Serikat,
dan Belanda dapat
leluasa memasuki dan melakukan hubungan perdagangan internasional dengan pelabuhan-pelabuhanlokalyang
berlangsung hinggaawal abad
ke-19. Hal ini pernah dicatat oleh John Anderson yang pernah menyinggahi kota pelabuhan Manggeng, Susoh, Kuala Batu, dan Seumayam di pantai barat
selatan Aceh.[28]
Pada masa pemerintahan Sultan Ibrahim yang bergelar Alaiddin Mansur Syah
1836-1870[29], juga pernah dikirim ekspedisi penertiban ke Susoh
yang dipimpin oleh pangeran Tuanku Husen karena negeri ini tidak membayar pajak
yang telah ditentukan kepada wilayahnya. Pasukan Aceh dibantu Datuk Keng
keturunan Datuk Baginda di Susoh.Sedangkan Susoh dipimpin Datuk Kepala keturunan
Datuk Tua. Perang berakhir setelah Susoh menghormati ketentuan yang telah ditetapkan
Kesultanan Aceh.
B. Kuala
Batu
Kuala
Batu awalnya dibuka oleh para pendatang dari Aceh Besar dan Pidie. Wilayah ini
merupakan muara sungai Krueng Babah Rot. Daerahnya sangat subur karena setiap
tahun sering mendapatkan endapan humus dari pedalaman dari pegunungan Bukit
Barisan dan Taman Nasional Gunung Leuser. Daerah ini ternyata sangat baik untuk
ditanami lada dan padi. Posisinya sangat strategis karena berada pada sistem
lalu-lintas atau transportasi kapal-kapal internasional di Samudera Hindia (Indonesia)
menuju ke Timur India, terutama setelah Portugis berhasil menguasai Malaka
tahun 1511.
Kuala Batu awalnya
merupakan wilayah kenegerian Susoh. Daerah ini yang dipimpin oleh Keucik Karim. Beliau yang meminta izin kepada Datuk Susoh untuk
membuka perkebunan lada di Lama Inong, pedalaman Kuala Batu. Permintaan izin disetujui dengan syarat harus
membayar wasee (pajak)
kepada Datuk Susoh sebagai
perwakilan sultan Aceh.[59]Leube
Dafamemerintah di negeri
Trumon, merupakan perwakilan
sultan yang
mengutip pajak di daerah pesisir Barat dan Selatan Aceh termasuk Kuala Batu.
Keucik
Karim adalah pemimpin sueneubok lada pada awal kepemimpinannya, membayar
seluruh kewajiban pajak yang telah menjadi tanggungannya dalam perdagangan lada
kepada Leubee Dafa. Namun
dalam hasil-hasil panen selanjutnya, ia sudah tidak mau membayar wasee lagi kepada perwakilan sultan tersebut. Demikian juga kapal-kapal dagang
asing yang seharusnya
memuat lada yang pada awalnya melalui pelabuhan Susoh, mulai dialihkan ke pelabuhan Kuala Batu, akibatnyakenegerian Susoh mengalami kerugian.[60]
Sebelumnya
di dalam mewakili
bisnis pelayaran dan
perdagangan kesultanan Aceh, Leube Dafayang mendapat banyakkeuntungan dari komisi dan biaya pelayaran
dan angkutan kapal. Kemudian,
iaberunding dengan Datuk
Susoh untuk membukasecara resmi Kuala Batu sebagai pelabuhan perdagangan lada
di pesisir barat selatan Aceh. Untuk mengawasi dan mengontrol hegemoni kesultanan Aceh
di sana, iaserahkan langsung kepada kedua anaknya, Teuku Nyak Haji dan Raja
Bujang. Namun, hal itu tidak sempat terjadi karena Leube Dafa meninggal dunia
sehingga pelaksanaan perjanjian tersebuttidak berjalan sesuai rencana.[61]
Akibatnya
Kuala Batu diserang oleh
Datuk Susoh yang beraliansi dengan Trumon sebagai perwakilan sultan Aceh.Perang terjadi
berimbang dan kemenangan diperoleh bergantian. Perang berakhir, setelah dilangsungkan
perkawinan politis antara anak laki-laki pemimpin Kuala Batu Teuku Lama yang
bernama Raja Kuala dengan cucu raja Susoh Datuk Bagak.[62]
Setelah Teuku Lama meninggal dunia, kekuasaan dipegang adiknya Raja Pidie. Raja Pidie, sudah berpengalaman di bidang pemerintahan karena sering
berkecimpung sejak masih muda di dalam mediasi perdamaian antara Kuala Batu, Susoh dan sekutunya
Trumon. Kemudian,
ia menghadap sultan di Bandar Aceh untuk memandirikan negeri Kuala Batu dari Susoh. Raja Pidie
menikahi perempuan Susoh keturunan Air BangisSumatera Barat. Perkawinan tersebut menurunkan anak laki-laki bernama Raja Sulaiman.
Setelah
Raja Pidie meninggal dunia, Raja Sulaiman memerintah di sebelah kiri Kuala Batu. Sedangkan sebelah kanan sungai dikuasai Pocut Hasan, anak Pocut
Abdullah dari XXVI Mukim, Aceh Besar.[63] Raja
Pidie dan Pocut Hasan datang
bersama-sama dengan Pocut Kuala pada masa pemerintahan Raja Pidie di
Kuala Batu. Menurut
catatan Belanda, Raja Sulaiman memerintah kerajaan Kuala Batu hingga daerah ini
dipengaruhi Belanda pada tahun
1881. Wilayah Kuala
Batu, yaitu; pertama, wilayah pemerintahan Raja Sulaiman meliputi; Madat Manyang, Sarulah, Sikabu,
Teurubue, Lama Inong, dan Siangen-Angen. Kedua wilayah Pocut Hasan meliputi Lhok Ek, Kuta Raya, dan Kuta Cot Dolah.Ketiga, wilayahKuala Batu meliputi Seumayam, Surin, Lama Tuha, dan Lama
Muda.[64]
Semenjak
tahun 1778 hingga lebih setengah abad lamanya pesisir barat dan selatan Aceh
hingga Barus terbebas dari ancaman Belanda. Saat itu, kegiatan perdagangan di
pantai-pantai Barat dan Selatan Aceh, termasuk transaksi langsung dengan
kapal-kapal Eropa dan Amerika selama beberapa tahun pada masa sekitar
pergantian abad 18 dan 19 berjalan dengan lancar tanpa dapat diganggu oleh
Belanda. Kedatangan kapal-kapal Eropa dan Amerika langsung ke pusat produksi
membuat pasar lada ramai dengan harga yang kompetitif.
Otoritas
sultan di ibukota Bandar Aceh ke pesisir barat selatan sudah melemah sejak
pertengahan abad ke-18. Keadaan politik di Trumon atau lebih ke Selatan lagi,
yaitu Singkil yang sejak lama menjadi bagian dari kerajaan Aceh pada pergantian
abad sudah menjadi kabur. Meningkatnya kegiatan ekonomi di daerah ini telah
memancing kedatangan petani dari luar, yang ditandai dengan terjadinya
pertumbuhan negeri-negeri yang baru, salah satunya adalah Trumon. Di mana
seorang penduduk XXV Mukim Aceh Besar beserta pengikutnya pindah ke Susoh di
sebelah selatan Meulaboh, lalu menjadi kepala kampung di Trumon. Dua orang
keturunan pertamanya bernama Basa Bujang (Bujang Basa) pindah ke Teurumon, dan
kedua bernama Leube Dafa pindah ke Singkil. Leubee Dafa berhasil mengembangkan
pertanian lada di daerah tersebut.
Kepala
negeri Singkil yang bersimpati kepadanya menikahkan putrinya dengan Lebai Dafa
bahkan menyerahkan kepimpinanan di daerah tersebut kepadanya. Sedangkan Raja
Bujang kurang berhasil dalam pertanian lada di Trumon mengundang adiknya
tersebut pindah ke Trumon. Lebai Dafa setuju tanpa melepaskan posisinya sebagai
raja Singkil. Trumon dan Singkil kemudian berkembang menjadi penghasil lada
yang meningkatkan pemerintahan setempat dan para pemimpinnnya pada saat
penghasilan kesultanan Aceh sedang merosot. Lebai Dafa disebutkan meninggalkan
17 putera dan 10 puteri.
Anak
laki-lakinya Raja Bujang mewarisi Trumon, sedangkan anak laki-laki kedua Raja
Muhammad Arif memerintah di Singkil. Lebei Dafa adalah penentang Sultan Jauhar
Alam, seperti halnya paman sultan sendiri bernama Tuanku Raja. Ia melakukan
pembangkangan terhadap sultan. Berbagai wasee
serta pajak daerah-daerah lainnya tidak diserahkannya kepada sultan Aceh.
Menurut laporan Kapten Canning yang meninjau Aceh atas perintah Gubernur
Jenderal di Kalkuta, Lebai Dafa menguasai pelabuhan-pelabuhan di pesisir barat
selatan Aceh, antara lain; Singkil, Ayam Dammah, Trumon, Rambung, Susoh dan
Kuala Batu dengan jumlah penduduk sekitar 27.750.[65]
Pada
masa puncak produksi lada di daerah-daerah tersebut, Trumon berhasil mengekspor
40.000 pikul lada setahun. Rajanya begitu makmur sehingga sanggup membangun
istana dengan perkarangan luas dikelilingi tembok batu dengan benteng setinggi
10 kaki dan dilengkapi dengan 32 pucuk meriam. Pada bagian luar mengelilingi
istana dibangun parit dalam untuk membendung serangan. Raja Bujang juga
mempunyai beberapa kapal yang membawa hasil-hasil bumi Teurumon langsung ke
India, Penang, Singapura, bahkan Batavia. Pendapatan daerah ini ditaksir
mencapai 100.000 Peso Spanyol dari pungutan bea ekspor dan impor sebesar 5%.
Pendapatan tersebut tidak lagi dikirim ke Bandar Aceh sebagai wasee karena Teurumon sudah memakai
bendera kerajaan sendiri.
Raja
Bujang beristeri seorang puteri dari perempuan Kristen asal Padang. Ketika pada
tahun 1793 pasukan Perancis menyerang Padang, perempuan tersebut diselamatkan
oleh seorang Aceh ke pedalaman Minangkabau di mana ia di-Islam-kan dan bersedia
dinikahinya. Dari pernikahan itu lahir seorang puteri yang bernama Nona Gadis.
Ketika kedua orangtuanya berangkat naik haji dengan menyinggahi Teurumon. Nona
Gadis yang waktu itu sudah dewasa, dilamar Raja Bujang kepada kedua
orangtuanya. Dari pernikahan itu lahir seorang anak laki-laki bernama Nyak
Banta.
Sementara
itu, di Bandar Aceh, ketika Sultan Jauhar Alam wafat pada bulan Desember 1823,
pewaris kerajaan yang sudah ditentukan adalah putera almarhum dari isteri
gahara, bernama Tuanku Ibrahim. Para Panglima Sagoe memutuskan lain. Putera
sultan tertua dari isteri biasa bernama Tuanku Darid atau Tuanku Daud harus
dilantik, dan ditabalkan dengan gelar Sultan Alauddin Muhammad Syah. Tuanku
Ibrahim mendapat tugas memelihara tertib hukum di bagian pantai Barat dan
Selatan Aceh, terutama untuk pengutipan wasee
atau bea cukai lainnya.Tuanku Ibrahim sangat aktif, cerdas, berani, tidak
ambisius dan bersungguh-sungguh dalam menjalankan tugas. Tidak heran bila
orangtuanya memilih dia sebagai pewaris tahta. Begitupun, Tuanku Ibrahim tidak
menentang keputusan para Panglima Sagoe yang menolaknya. Dia banyak membantu
saudaranya dan berbakti bagi stabilitas kerajaan, karena menyadari kerajaan
perlu dibina kembali, sekaligus membangun kekuatan, wibawa, dan tata-tertibnya.
Melalui kegiatan-kegiatan tersebut, berbagai rongrongan Belanda, tertutup dan
terbuka, berangsur-angsur dapat dicegah.
Ketika
Tuanku Daud wafat, dan keluar keputusan untuk menetapkan putera almarhum Sultan
Muhammad Syah, bernama Tuanku Sulaiman, sebagai sultan penganti, Tuanku Ibrahim
juga menerima putusan itu. Mungkin karena kegiatan-kegiatannya tersebut,
sementara penulis sejarah mencurigai Sultan Ibrahim dengan mengatakan dia naik
tahta karena Panglima Sagoe XXII menggulingkan Tuanku Sulaiman, bergelar Sultan
Ali Iskandar setelah baru tiga bulan menjadi sultan. Namun, menurut kapten
Belanda, Veltman, dalam bukunya berjudul Notaover
de Geschiedenisvan het Landschap Pidie, Tuanku Ibrahim naik tahta setelah
Tuanku Sulaiman meninggal dunia. Veltman mengatakan, bahwa ia menemui silsilah
tersebut di kantor pengawas Belanda di Sigli ketika bertugas di sana.
Dalam
dokumen tersebut, Tuanku Sulaiman telah menikahi putri Tuanku Ibrahim bernama
Puteri Sari Banun. Menurut Veltman, Tuanku Ibrahim sebagai sultan yang
mengeluarkan sarakata di Pedir bertanggal 8 Rajab 1269 Hijriah (24 April
1853) yang ditandatanganinya. Ini berarti Tuanku Ibrahim adalah sultan pada
tahun 1853. Catatan lain, ketika Courier dit Dubekart berada di Bandar Aceh
pada tahun 1855, sultan pada waktu itu adalah Tuanku Ibrahim.[66]Bersamaan
dengan penugasan Tuanku Ibrahim sebelumnya sebagai wakil pantai barat Aceh,
juga ditetapkan pengangkatan saudara sultan yang lain bernama Tuanku Raja Muda
bergelar Tuanku Rumoh Panjang yang bertugas mengawasi pantai utara Aceh,
seperti Samalanga, Lhokseumawe, dan sekitarnya. Adiknya Tuanku Abbas bertugas
di sepanjang pantai Pidie dengan kedudukan di Batee.
C. Penyebab Serangan Amerika Serikat
terhadap Kuala Batu
Serangan
Amerika Serikat terhadap Kuala Batu disebutkan sebagai balasan atas serangan
terhadap kapal dagangnya Friendship.
Angkatan Laut Amerika Serikat telah menjangkau jauh hingga ke Indonesia untuk
melindungi kepentingan ekonomi negaranya atau meningkatkan pengaruh kawasan
untuk mengatasi musuh negara dan ideologi, atau balas dendam nasional mereka
terhadap daerah ini. Pertama kali dalam sejarah Indonesia telah terjadi
serangan langsung Angkatan Laut Amerika Serikat di Kuala Batu di Kabupaten Aceh
Barat Daya, Provinsi Aceh. Serangan militer Amerika Serikat terhadap Kuala Batu
(Qualla Batto) tersebut merupakan respon terhadap apa yang mungkin
paling ditakuti dunia saat itu, yaitu;tindakan bajak laut di perairan pesisir
barat selatan Aceh. Sebelumnya para pedagang Amerika Serikat pertama kali tiba
di Sumatra pada akhir abad ke-18.
Sejak
saat itu hingga 1860 diperkirakan kapal Amerika Serikat sebagian besar
bersandar ke pelabuhan Salem, Boston Amerika Serikat. Di mana tercatat sekitar
1000 pelayaran yang telah membawa lada seharga sekitar £370,000,000., atau
seharga 17.000.000., dolar. Disebutkan hampir setengahnya merupakan lada yang
dihasilkan dari daerah-daerah di Aceh selama periode tersebut.[67]Bahkan,
biaya operasional rendah dengan kapal yang cepat yang diaktifkan pedagang
Amerika Serikat sehingga mereka dapat bersaing dengan Inggris dan Belanda dalam
perdagangan lada. Hal ini merupakan permasalahan lain yang menjadi perhatian
dari kedua kekuatan yang sama-sama mengincar Aceh. Akibatnya Sultan Aceh, Muhammad
Syah (1823-1838) berada di bawah tekanan Belanda dan Inggris, berusaha mengkaji
hubungan perdagangan Amerika Serikat di Aceh.
Pembajakan
terhadap kapal dagang Amerika Serikat, Friendship
milik Silsbee, Pickman
dan Stone diduga sebagai akibat pelanggaran undang-undang
perdagangan kepada Inggris atau Belanda.[68]
Dalam perjanjian yang sudah ditandatangani Aceh dengan Inggris pada tahun 1819
sebenarnya termasuk salah suatu upaya untuk menyingkirkan kekuatan Amerika
Serikat di Aceh.Pada awalnya pembajakan kapal dagang Amerika Serikat tidak
jelas apa dilakukan oleh perompak murni atau hanya “permainan politik” akibat
perebutan pengaruh perdagangan internasional lada di pesisir barat selatan Aceh.
Perairan pesisir barat selatan Aceh saat itu dikuasai bajak laut. Bajak laut di
sekitar perairan ini sering disebut “Viking
of the East” atau “Viking dari Timur”, karena tidak ada kapal dagang
yang aman dari ancaman perompakan. Kekuatan mereka karena posisi pantai yang
strategis sehingga mereka dapat bersembunyi dan berlindung di banyak tempat,
seperti teluk dan muara sungai yang sepi di sepanjang pantai Sumatera. Mereka
hanya keluar untuk merompak dengan mengarungi laut secara berkelompok sampai sebanyak
50 perahu dengan kecepatan tinggi. Mereka mengejar kapal dagang yang berlayar
dengan lambat karena muatan yang penuh dari berbagai wilayah di perairan Hindia
Timur.Mereka menggunakan kedua barisan dayung dengan kapal layar lebar yang
dipersenjatai. Mereka mengenakan jubah merah dan rantai, rencong, kelewang sering diacungkan, dan pelontar batu api. Para
perompak membunuh setiap orang, memenjara untuk ditebus, atau akan dijual
sebagai budak.
Pada
Februari 1831, kapal dagang Amerika Serikat bernama “Friendship” sedang
berlabuh di Kuala Batu. Kapal ini hendak membeli lada untuk sebuah kargo dengan
kapten kapal Charles Moses Endicott. Ia sudah sering pergi-pulang antara Kuala
Batu dan pelabuhan Salem Amerika Serikat. Ia sering memperoleh keuntungan yang
besar. Kapal ini membawa 17 awak kapal dan tiba di Kuala Batu pada tanggal 22
September 1830. Setelah memuat stok lada yang sudah tersedia di sana, kapal
masih harus menunggu panen pada bulan Maret dan Juni tahun 1831, sehingga
mereka menyingkir ke sebuah pulau kecil yang berjarak sejauh dua mil dari Kuala
Batu.[69]Suatu
malam, kapal didatangi sebuah perahu yang menawarkan sebanyak 50-60 karung lada
selundupan kepada Endicott.[70]Beberapa
hari setelah menampung lada selundupan tersebut, kapal ini diminta mendekat ke
Kuala Batu untuk memuat lada hasil panen baru berjumlah ratusan karung. Serangan
bajak laut justru terjadi ketika kapal sedang menerima muatan lada, ketika
Endicott sedang berada di daratan untuk menimbang lada.
Bajak
laut menyamar sebagai membawa lada dengan perahu. Akibat serangan tersebut lima
awak kapal terbunuh dan selebihnya melompat ke laut menyelamatkan diri.Setelah
itu, Endicott beserta awak kapal yang selamat menyingkir ke Meukek. Di sana ada
kapal Amerika Serikat lainnya bernama “James Monroe”yang dinakodai
Porter dan dua buah kapal lainnya, “Governor Endicott” dan “Palmer”.
Berkat bantuan mereka kapal “Friendship”berhasil
dikuasai kembali.[71]Owen
Rutter dalam bukunya “The Pirate of Wind”,
mengatakan bahwa ada beberapa awak kapal tewas dalam serangan itu. Para
pembajak diperkirakan orang Kuala Batu merampok kapal dan membawa semua barang serta
uang tunai senilai 8.000 dolar. Kapten kapal “Friendship”,
Charles Moses Endicott, saat itu berada di darat bersama empat anak buahnya.
Ketika kembali ke kapal, ia menemukan awak kapalnya telah tewas, kargo hilang
dan isi kapal berantakan. Mereka menyingkir dari daerah tersebut dan meminta
bantuan kapal kargo Amerika Serikat lainnya yang berada di sepanjang pesisir
barat selatan Sumatera.[72]
Menurut
versi lain, penyerangan ini ganjil karena bajak laut hanya menyerang kapal “Friendship”. Sedangkan orang-orang Amerika Serikat yang sedang berada di
darat termasuk Endicott tidak diserang. Kapal-kapal Amerika Serikat lainnya di
Meukek juga tidak diserang, mereka bebas datang ke Kuala Batu. Endicott tidak
menjelaskan sikap penguasa setempat dan mengapatidak menemui raja Kuala Batu
untuk melaporkan kejadian tersebut. Sementara bajak laut yang menyerang kapal
itu telah menyingkir ke pelabuhan-pelabuhan lain.
Saat mereka
singgah di “Tallapow”, disebutkan bahwa di Kuala Batu suasana cukup ramai
karena hampir semua penduduk menggunakan pakaian merah, putih dan biru, kemeja
strip, dan pakaian orang Eropa lainnya. Endicott menyebut pakaian tersebut
adalah hasil curian dari kapal mereka termasuk taplak wol dan kabin-kabin.
Kapal dagang
“Friendship” tiba kembali di Amerika Serikat, masyarakat di sana heboh dan
menuntut pembalasan. Presiden Amerika Serikat Andrew Jackson memerintah hukuman
berat terhadap penduduk dan pemimpin Kuala Batu untuk menuntut dan memperbaiki
serta mengembalikan segala properti kapal yang disita atau dirusak. Pemimpin Kuala
Batu Molay Muhammad (Sidi Muhammad) yang oleh Amerika Serikat disebut “Mohamed”
telah menyangkal semua tuduhan mengenai keterlibatannyaatas serangan terhadap
kapal itu.[73]
Angkatan
Laut Amerika Serikat ditugaskan untuk menghukum penjahat Kuala Batu dengan
setimpal. Menurut anggapan orang Amerika Serikat, Sidi Muhammad telah menghina secara
berlebihan dengan memberikan harga yang tinggi atas kepala Kapten M. Endicott,
perwira dan pelaut yang telah lolos dari serangan bajak laut tersebut. Untung
saja saat itu ada kapal dagang lainnya yang berhasil membawanya kembali ke
pelabuhan di Salem, Boston Amerika Serikat.
Faktor-faktor
penyebab lainnya, yaitu;Pertama, peristiwa penyerangan dipicu oleh
kekecewaan orang Aceh yang selalu ditipu oleh pedagang Amerika Serikat dalam
perdagangan lada. Hal itu akibat suatu ketika diketahui bahwa berat lada yang
dibeli dari Aceh 3.986 pikul, tetapi ketika dijual kembali oleh pedagang
Amerika Serikat beratnya menjadi 4.583 pikul. Hal itu dilakukan pedagang
Amerika Serikat dengan penipuan pada takaran timbangan, dengan cara menyetel
suatu sekrup yang dapat dibuka di bagian bawah timbangan yang berbohot 56 lbs,
yang diisi 10 atau 15 pon timah, sehingga dalam satu pikul lada, orang Aceh
ditipu sebanyak 30 kati.[74]
Kedua, penyerangan itu akibat adanya provokasi oleh Belanda, karena Amerika Serikat telah berhasil menguasai perdagangan
lada dikawasan pantai barat dan selatan Aceh. Belanda ingin merusak nama baik kerajaan Aceh di duniainternasional
dengan tuduhan bajak
laut dan tidak mampu melindungi kapal-kapal asing yang berlabuh diperairannya.[75]
Respon Sultan
Aceh Alaidin Muhammad Syah (1824-1836) terhadap aksi pembajakan kapal dagang
asing di wilayah perairan Aceh tersebut menyebutkanbahwa perompakanditunggangi kepentingan
politis Belanda.Belanda sengaja mempersenjatai sebuah kapal Aceh yang dirampasnya
di perairan pantai barat selatan Aceh. Kapal itu dinakodai suruhan Belanda
bernama Lahuda Langkap.[76]Saat
merompak kapal dagang Amerika Serikat di Kuala Batu pada tanggal 7 Februari
1831, Lahuda bersama anak buahnya telah dibayar Belanda untuk menyerang
kapaltersebutdenganmenyamar dan menggunakan bendera milik kesultanan Aceh.
Respon
Amerika Serikat terhadap pembajakan kapal dagangnya di Kuala Batu tersebar luas. Berita itu menjadi
transparan ketika kapal
tersebut tiba kembali di pelabuhan Salem Boston pada tanggal 16 Juli 1831. Senator
Nathanian Silsbee, salah seorang pemilik kapal ituadalah senator dari Partai Republik yang merupakan
oposisi pemerintahan
Presiden Andrew Jackson. Ia seorang politikus yang sangat berpengaruh pada masa
itu. Iamenyurati Presiden pada tanggal 20 Juli 1831 dan meminta agar pemerintah
Amerika Serikat menuntut ganti-rugi atas kejahatan yang telah dilakukan
penduduk Kuala Batu terhadap kapal tersebut.Ia menyampaikan petisi yang
ditandatangani seluruh pedagang di Salem Boston kepada pemerintah Amerika
Serikat. Isi petisi tersebutmeminta untuksegera dikirimkan kapal perang ke
perairan Kuala Batuuntuk menuntut ganti-rugi dan tanggungjawab dari penguasa lokal.
Hal tersebut didukung oleh pemilik kapal bernama Robert Stones. Ia bersama Andrew Dunlop sangat akrab dengan Presiden Andrew Jackson. Mereka meminta kepada Panglima Angkatan Laut Amerika
Serikat, Levy Woodbury untuk mendesak presiden mengirimkan kapal perang ke Kuala Batu. Silsbee secara pribadi juga menulissuratkepada Woodbury. Ia menggambarkan besarnya keresahanakibat peristiwa penyerangan
kapal dagang tersebut bagi pedagang-pedagang lada di Salem, Boston.
Pemerintah Amerikasebelum menerima
imbauan Senator Silsbee telah memutuskan mengambil tindakan terhadap penyerangan
kapal Friendship di Kuala Baru. Setelah mengetahui
peristiwa pembajakan
itu melalui suratkabar, Woodbury segera
memerintahkan agar disiapkan segala keperluan untuk menuntut ganti-rugi atas pelanggaran tersebut.
Presiden berjanji akan memutuskan dengan cepat. Dia membicarakan permasalahan
tersebut kepada anggota parlemen pada bulan Desember 1831. Ia mengatakan kepada
Senat dan parlemen bahwa perlawanan terhadap kepentingan Amerika Serikat telah
dikobarkan di lautan Hindia Timur (Indonesia) dengan penyerangan dan penjarahan
terhadap kapal dagang itu ketikasedang melakukan pembelian lada di pelabuhan
Kuala Batu.
Amerika
Serikattelah membukaruang diplomatis, tetapi tidak memungkinkan untuk
dilaksanakan. Presiden Andrew Jackson mengatakan; “para pelaku penyerangan
hanyalah kelompokmasyarakat kecil di dalam lingkup hubungan internasional yang
beradab sehingga sangat tidak mungkin untuk dapat diselesaikan secara diplomatis”.
Selanjutnya ia mengatakan; “Saya segera perintahkan mengirim angkatan laut
untuk menuntut pertanggung-jawaban atas kerusakan serta membayar gantirugi
kepada pemilik”.[77]Presiden
AS dengan yakin mengatakan; “mereka (Kuala
Batu) telah melakukan tindakan penyerangan yang mengerikan, pastilah anggota
pemerintahan yang terorganisasi mampu menjaga hubungan bilateral dengan negara
asing, pertanggung-jawaban dapat dinegosiasikan. Namun, jika mereka hanya kelompok
bajak laut tanpa hukum, angkatan laut Amerika Serikat-lah yang akan mendapatkan
perintah untuk memberikan hukuman”.[78]
D. Jalannya Serangan Angkatan Laut Amerika Serikat
terhadap Kuala Batu
Kapal
angkatan laut Amerika Serikat yang dikirim untuk “memberikan hukuman” terhadap
‘bajak laut’ Kuala Batu adalah kapal Potomac.
Potomac adalah kapal angkatan laut
yang dibangun di yardWashington tahun
1822. Kapal perang ini dilengkapi dengan 42 meriam peluncur, dan 30 penahan
gempuran meriam. Komandanekspedisi dipimpin Komodor John Downes. Ekspedisi
tersebut merupakan pelayaran pertama Potomac
ke luar negeri. Kapal ini berangkat dengan membawa kekuatan gabungan 300
orang pasukan “naviseal/baret biru” bersenjata lengkap dari angkatan
laut dan marinir Amerika Serikat. Kapal itu meninggalkan Sandy Hook, New York,
pada tanggal 28 Agustus 1831, menuju Kuala Batu dan untuk pertama kalinya
militer Amerika Serikat melakukan intervensi resmi terhadap wilayah itu.
Tanggal
9 Agustus 1831, John Downesdiberi instruksi lengkap mengenai segala tindakan
yang harus dilakukandi Kuala Batu, yaitu: (1) Mencari informasi mengenai penyerangan kapal Friendship.Apabila informasi yang
diperoleh sesuai dengan keterangan yang diberikan oleh awakkapal tersebut di
Washington, maka harus dituntut gantirugi dan pembalasan kekerasan yang
dilakukan oleh orang-orang Kuala Batu terhadap kapal itu; (2) Apabila tuntutan
itu tidak dipenuhi, maka pelaku penyerangan harus ditangkap dan dibawa ke
Amerika Serikat untuk diadili sebagai bajak laut; (3) Sebaliknya, apabila
informasi yang diperoleh di Kuala Batu berbeda dengan keterangan kapten kapal,
maka Amerika Serikat hanya meminta ganti-rugi serta menghukum mati pelaku
penyerangnya.
Pada tanggal 29 Agustus 1831, Potomac berangkat dari New York ke Kuala Batu dengan kekuatan 260 marinir. Sebelum sampai di Kuala
Batu John Downes melakukan penyimpangan terhadap instruksi panglima
angkatan laut Amerika Serikat yang diterimanya. Ia
terpengaruh oleh cerita yang didengar dari kapten kapal Friendshipyaitu; Endicott dan orang-orang Inggris yang dijumpainya
di Tanjung Harapan saat pelayaran ke Kuala Batu itu, yaitu; mengenai tidak
mungkin akan mendapatkan ganti-rugi dari penguasa lokal Kuala Batu.
Tanggal
5 Februari 1832, Potomac tiba di
perairan Kuala Batu dengan berlabuh pada jarak 5 mil dari tepi pantai. Mereka
mengatur strategi pendaratan untuk mengetahui situasi Kuala Batu dan kemampuan
pertahanannya. Namun, Downes lebih mendengarnasihat dari seorang penduduk Pulau
Kayu bernama Po Adam. Ia sudah bersahabat baik dengan para pedagang lada dari
Amerika Serikat. Dia menyarankan kepada Amerika Serikat untuk berurusan dengan
Molay (Sidi) Muhammad. Menurutnya, pemimpin Kuala Batu tidak perlu lagi dinegosiasikan,
kecuali dengan tindakan kekerasan.
Downes
kemudian mengutus Letnan Marinir Shubrick pada dinihari 6 Februari 1832 untuk mengintai
keadaan di darat. Penduduk Kuala Batu tidak terkecoh oleh penyamaran yang
dilakukan Shubrick. Mereka berkelompok di pantai untuk menghadapi sesuatu
kemungkinan terburuk. Ia melaporkan bahwa Kuala Batu memiliki beberapa benteng
pertahanan. Selanjutnya Downes memerintahkan untuk mendaratkan kekuatan seluruh
pasukan Potomac dan juga mengepung kuta-kuta (benteng-benteng) yang berada di sekitar pantai Kuala Batu untuk
menangkap pemimpin-pemimpinnya.
Penduduk
Kuala Batu saat penyerangan itu sekitar 2.000 orang; 500 di antaranya adalah
prajurit tempur dari beberapa benteng di Kuala Batu. Pasukan Kuala Batu telah
siaga untuk berjuang dan mempertahankan benteng-benteng pertahanan mereka,
yaitu;
-
Benteng pertama, atau benteng yang
paling depan di pinggir laut. Benteng ini dipimpin oleh raja bernama Moley
Mahomed atau Sidi Muhammad.[79]
Letak benteng itu sebelah barat laut Kuala Batu,atau dengan jarak 60 ela dari permukaan laut.
-
Benteng kedua, terletak sekitar 5.000 ela dari benteng pertama. Benteng kedua
dipimpin oleh Teungku Di Lama yang juga benteng Teuku Di Lama.
-
Benteng ketiga terletak di dekat muara
Kuala Batu. Benteng ini dipimpin Keuchik Dorahman.
-
Benteng keempat terletak persis di depan
kota pelabuhan. Benteng ini hanya berjarak 30 ela dari garis pantai. Benteng ini dipimpin oleh raja yang paling
berpengaruh saat itu bernama Cek Abdullah.Benteng-benteng tersebut membelakangi
hutan rawa, sehingga pasukan Amerika Serikat mengira bahwa orang-orang Kuala
Batu tidak akan lolos kalau dikepung.
Meski
pasukan Amerika Serikat mengatakan mereka adalah para pedagang lada, panglima
utama Kuala Batu Sidi Muhammad sama sekali tidak mempercayainya. Pihak Kuala
Batu rupanya sudah bertekad akan menghadapi setiap tuntutan dan kemungkinan
terburuk dari Amerika Serikat tersebut.[80]
Tanpa membuang waktu Sidi Muhammad memerintahkan meriam-meriam Kuala Batu
ditembakkan ke arah perahu-perahu milik pasukan Amerika Serikat yang sedang
mendarat. Sementara dari atas Potomac,
mereka terus menggempur benteng-benteng sehingga dalam tempo singkat suasana
berubah menjadi perang total.
Akhirnya
Sidi Muhammad dan pemimpin benteng lainnya gugur dalam penyerangan itu. Namun
perlawanan masih terus dilakukan oleh pasukan Kuala Batu yang masih tersisa di
dalam benteng. Kendati pasukan marinir telah menguasai benteng-benteng
tersebut. Ketika pasukan tambahan mendarat, sisa-sisa pejuang Kuala Batu
berhasil mengundurkan diri dan masuk ke hutan rawa di sekitar tempat itu.
Pasukan marinir Amerika Serikat mengatakan, bahwa orang-orang Kuala Batu telah berhasil
menghindari sergapan melalui terowongan rahasia (saluran-saluran atau sungai-sungai
buatan).[81]
Setelah
itu Amerika Serikat membakar kota Kuala Batu dan merampas harta yang dilakukan oleh
pasukan marinir. Tidak hanya berhenti di situ saja, setelah benteng-benteng
atau kuta-kuta yang terbuat dari kayu dan tanah gundukan
dengan luas sekitar 25x25 meter² dihancurkan oleh 42 buah meriam pelontar dan
30 buah anti meriam. Kerugian 2 (dua) orang pasukan dan 11 orang lainnya
luka-luka di pihak marinir Amerika Serikat.[82]Downes kemudian memerintahkan untuk menembaki Kuala Batu dengan meriam-meriam dari atas
kapal Potomac. Akibatnya Kuala Batu hancur serta lebih
dari 300 orang penduduk Kuala Batu terbunuh.[83]
E. Dampak Serangan Amerika Serikat terhadap
Kuala Batu
Dampak
serangan terhadap Kuala Batu yang dilakukan pasukan Downes dengan kapal
perang Potomac.Mereka mendapat kecaman dari sebagian politikus di Amerika Serikat, diantaranya George Bencroft yang pada
waktu penembakan Kuala Batu berada di atas kapal Potomac. Kemudian sebagiansurat kabar di Amerika Serikat di Washington seperti Nile’s Weekly Register juga mengecam
tindakan tersebut.
Pada tanggal 23 Juli 1832 seorang
anggota parlemen Amerika Serikat, Henry A.S. Dearborn dari Partai Republik dari Massachusetts yang beroposisi
mengajukan mosi yang meminta agar Presiden Andrew Jackson menyampaikan kepada Kongres
mengenai instruksi
kepada Downes untuk
menggempur Kuala Batu. Laporan tentang peristiwa tersebut dan mosi itu pun diterima Sidang. Pada hari itu Presiden
Jackson memenuhi permintaan kongres, tetapi iaminta agar hal tersebut tidak dipublikasikan sebelum laporan lebih
lanjut diterima.Akibat penyerangan Kuala Batu tersebut, Downes
dikritikdengan keras di Amerika Serikat, terutama pers dan publik karena
tindakannya dianggap keterlaluan. Namun, presiden Jackson tetap menyetujui
seluruh tindakan tersebut dan mengatakan bahwa; “untuk memberikan hukuman
seperti itu, akan menghalangi mereka dan orang lain untuk melakukan agresi yang
sama seperti ini”. “Hal ini tetap perlu dilakukan dan efeknya berupa
penghargaan untuk bendera kami, dan keamanan tambahan bagi perdagangan kami”.
Pada sidang Sabtu tanggal 24 Juli 1832,
permintaan Presiden Amerika Serikat itu diperdebatkan. Anggota Dearborn berpendapat bahwa hal
tersebut harus dipublikasikankarena apabila ditutup-tutupi
dapat menjadi
sorotan negatif dari publik.Sebaliknya, Ketua Komisi Urusan Angkatan Laut, Michael Hoffman dari
Partai Demokrat New York menentang pendapat Dearborn dengan suatu amandemen, bahwa peristiwa tersebut dapat
dipublikasikan, tetapi harus menunggu laporan lebih lanjut.
Dalam
amanat tahunannya, Presiden Jackson sudah tidak menyinggung sama sekali
peristiwa penggempuran Kuala Batu dengan kapal perang Potomac yang dipimpin Downes. Hal ini menunjukkan bahwa peristiwa penyerangan
Kuala Batu dan pembantaian penduduknya oleh marinir Amerika Serikat telah ditutup.[84]
Dampak
serangan Amerika terhadap Kuala Batu dilukiskan dalam berbagai versi. Baik
ekonomi, politis bahkan karya sastra. Berkenaan dengan keberhasilan serangan
kapal angkatan laut Potomac terhadap Kuala Batu. Di mana kapal itu
melanjutkan tur resminya mengelilingi dunia dan menjadi kapal angkatan laut
Amerika Serikat pertama yang mendapatkan penghargaan dari raja dan ratu Sandwich Island (Hawaii) sehingga
kembali ke Boston pada Juni 1834.[85]
Selain
itu, penyerangan Kuala Batu juga telah menjadi seting cerita sebuah novel di
Amerika Serikat tahun 1901 yang dibuat Munroe Kirk. Novel sejarah itu berjudul
“A Son of Satsuma” merupakan
pembauran antara fiksi dan fakta dengan protagonis utama Bob Whiting yang
menemukan dirinya terdampar di Kuala Batu, Sumatera ketika kapalnya Friendship ditawan oleh bajak laut lokal.
Di sana, ia bertemu dengan seseorang yang “bermata abu-abu” dan ia mengamati
kehidupan di ladang lada Sumatera. Terakhir ia diselamatkan oleh Potomac sebagai “campur tangan” Paman
Sam di dunia internasional. Novel diakhiri Whiting dengan sepak terjangnya di
Jepang menyamar sebagai Kato dan kemudian bergabung dengan United States Naval Academy.[86]
Serangan
terhadap Kuala Batu “Qualla Batto”
juga dirayakan di Amerika Serikat di Korps Marinir, tetapi lebih sedikit
disebutkan daripada di tempat lain. Sebagai tindakan pertama militer Amerika di
Asia, eksploitasi Downes “barangkali tidak terkenal dan dirayakan dalam sejarah
militer AS” seperti yang sebelumnya oleh angkatan laut yang dipimpin Stephen
Decatur melawan bajak laut di pantai Barbary Tripoli di Libya. Diperkirakan telahterjadi
gubahan pembukaan himne marinir Amerika Serikat pada lirik bait, “dari
lorong-lorong Montezuma”, untuk bait; ”dari tepi Qualla Batto”.
Setelah
penyerangan Amerika terhadap Kuala Batu sepertinya tidak menyurutkan langkah
para pedagang Amerika Serikat untuk terus berdagang di sana. Tujuh tahun
setelah itu, pada 28 Agustus 1838, kapal dagang Amerika Serikat “Eclipse” juga diserang oleh kelompok
orang di Meukek yang menewaskan kapten kapal Charles T.Wilkens. Peristiwa
penyerangan hampir sama dengan penyerangan terahadap kapal Friendship. Pembajakan yang terjadi di Meukek dilakukan oleh 24
orang Aceh, yang awalnya meminta izin untuk bertemu. Saat itu, Wilkens sedang
didera demam di dalam kabin. Namun ketika mereka sudah berada di dek, kapten
kapal telah meminta mereka untuk menyerahkan senjatanya sebelum naik ke kapal.
Hal ini awalnya disetujui tanpa ada perlawanan. Namun, ketika kapten muncul di
dek untuk menerima mereka, mereka memohon agar senjata dikembalikan sebagai
tanda persahabatan dan itikad baik. Wilkens menyetujui permintaan ini dan
senjata orang Aceh dikembalikan, beberapa menit kemudian, ia ditusuk dan
dibunuh. Kedua awak kapal lainnya juga ditikam, tetapi berhasil menyelamatkan
diri dengan melompat ke laut. Sedangkan kapten kedua sedang berada di darat
untuk menimbang lada, namun mereka berhasil kembali membawa Eclipse ke Salem, Boston Amerika
Serikat.
Para “bajak
laut” Meukek telah menjarah kapal tersebut sehingga Amerika menderita kerugian
26.000.,dolar, empat peti opium, dua peti pakaian, dua buah jam emas, teropong,
dan sebagainya.[87]
Raja setempat memberikan bantuan kepada mereka ketika menerima laporan
penyerangan. Untuk membalas tindakan penyerangan tersebut, tidak perlu menunggu
perintah presiden Amerika Serikat, karena Komodor Reid dengan kapal perang Columbia langsung menerima kabar ini
ketika sudah mendekati Colombo, Srilanka. Dia langsung berlayar kembali ke
Aceh. Tiba di Meukek, mereka juga
langsung membombardir kota ini dengan kekuatan 30 perwira, dan 300 pasukan
marinir. Dalam beberapa jam serangan dengan gempuran meriam, Meukek terbakar
dan jatuh korban beberapa penduduk meninggal dunia, dan lainnya berhasil
melarikan diri dan bersembunyi di hutan-hutan di sekitarnya.
Dampak
dari cara Amerika Serikat “main hakim sendiri” menyelesaikan sengketa maut
antara pembeli dan penjual lada pada masa itu, ternyata diikuti oleh negara
barat lainnya, seperti Perancis yang juga melakukan penyerangan militer
terhadap Meukek pada tahun 1839. Mereka menyerang Meukek dengan dalih menghukum
pembajak laut atau perompakan “piracy”.
Cara-cara kekerasan melalui militerisme tetap digunakan oleh para petualang
dalam melancarkan aksinya untuk memperoleh keuntungan perdagangan yang besar
dengan tindakan dan cara-cara kolonialisme.
KESIMPULAN
Serangan
Amerika Serikat terhadap Kuala Batu disebut oleh Amerika Serikat sebagai
penghukuman terhadap penyerangan atas kapal dagangnya Friendship. Tindakan main hakim sendiri Amerika Serikat telah
menjangkau jauh hingga ke pantai barat selatan Aceh untuk melindungi
kepentingan politik ekonomi mereka. Serangan Amerika Serikat terhadap Kuala Batu akibatpersaingan politik dalam perdagangan lada, dan provokasi Belanda
terhadap kerajaan Aceh. Di mana
sejak tahun 1789, Aceh sudah menjalin hubungan dagang dengan Amerika Serikat
dan kapal-kapal mereka datang untuk memuat lada,dan kemudianmengangkutnya ke
pelabuhan Salem, Boston Amerika Serikat, dan juga Eropa, Cina yang memuat
sekitar 42.000 pikul atau kira-kira 3.000 ton.
Ketika harga lada di pasaran internasional mulai merosot tahun 1829, jumlah kapal Amerika Serikat yang datang ke Kuala Batu juga menurun. Kapal-kapalAmerika
Serikat yang datang ketikadepresi
ekonomi dunia itu,antara lain kapal Friendship milik Silsbee, Pickman, dan Stone di bawah pimpinan
nakoda Charles Moore Endicot. Endicott seorang mualim yang sering membawa
kapal dagang ke Aceh. Tanggal
7 Februari 1831 kapal
berlabuh di pelabuhan Kuala Batu, Aceh Barat Daya. Namun, ketika Endicot dan anak buahnya berada di daratan untuk
menimbang lada, di
perairan kapal awak
kapal mereka dibajak
oleh sekelompok penduduk Kuala Batu. Setelah kapal dapat direbut kembali, dicatat kerugian sebesar U$ 50.000 dolar
dan tigaorang anak buah kapal terbunuhdalam serangan
tersebut.
Penyebabserangan
menurut pihak Kuala Batu, dipicu oleh kekecewaan penduduknya yang sering ditipu
oleh pembeli lada dari Amerika Serikat. Hal itu diketahui ketika berat lada
yang dibeli di Aceh 3.986 pikul, tetapi ketika dijual kembali oleh pedagang
Amerika Serikat beratnya menjadi 4.583 pikulakibatpemalsuan takaran timbangan.
Selain
itu, ada upaya provokasi Belanda, karena Amerika Serikat berhasil menguasai
perdagangan lada di kawasan pesisir barat selatan Aceh. Mereka bermaksud
merusak citra kerajaan Aceh di mata internasional karena merajalelanya bajak
laut akibat ketidakmampuan kesultanan Aceh melindungi kapal-kapal internasional
yang berlabuh di perairannya. Pihak kerajaan Aceh membantah hal tersebut, dan
menyebutBelandasengaja
mempersenjatai kapal Aceh yang telah dirampasnya. Ketika merompak kapal Friendship milik Amerika Serikat di
Kuala Batu 7 Februari 1831, Belanda telah mengupah Lahuda Langkap untuk
melakukan aksi pembajakan kapal dagang milik Amerika Serikat dengan menggunakan
bendera kerajaan Aceh.
Penyerangan
kapal Frienshiptersiar luas di Amerika Serikat dan
semakin jelas ketika kapal itu telah kembali di Salem,Boston, Amerika Serikat pada tanggal 16 Juli 1831.Pemerintah Amerika Serikat melalui Panglima Angkatan Lautmengeluarkan surat
perintah kepada kapten kapal Potomactertanggal 9 Agustus 1831, untuk
menyerangKuala Batu. Kapal perang bertolak ke
perairan pantai barat selatan Aceh pada tanggal 29 Agustus 1831 dari New York dengankekuatan 260 orang pasukan marinir.
Di Kuala Batu, pemimpin dan penduduk
sudah menduga akan adanya serangan Amerika Serikat tersebut.Masyarakat bersiaga
menghadapiserangan
tersebut. Ketika
kapal-kapal dayung Amerika Serikat merapat ke daratan langsung diserbu pasukan
Kuala Batu. Pasukan marinir Amerika Serikat yang lebih kuat dan hebat dnegan persenjataan
modern sehingga sulit dibendungoleh pasukan Kuala Batu. Pasukan Amerika Serikat
berhasil mencapai daratan Kuala Batu dan membunuh 300 orang yang berada di benteng, termasuk perempuan dan anak-anak. Mereka juga merampas harta benda
milik penduduk Kuala Batu sebagai pampasan perang.
Setelah
serangan berlangsung,Downesmemerintahuntuk membombardir kota Kuala Batu dengan meriam-meriam dari kapal Potomac sehingga kota ini hancur dan
rata dengan tanah.Dampak
terhadap serangan tersebut, pasukan marinir AmerikaSerikat mendapat kecaman termasuk di
negerinya sendiri. Namun, presiden Amerika Serikat Andrew Jackson tetap tidak mau membahasnya dalam pidato
penutup tahun. Peristiwa
penyerangan Kuala
Batu dengan kapal Potomacyang dipimpin Downes sudah ditutup-tutupi
di Amerika Serikat. Dampak
lain dari gaya Amerika Serikat “main hakim” dalam menyelesaikan “sengketa”
antara pembeli dan penjual lada di Kuala Batu, dengan cara menggiring
‘pemahaman masyarakat dunia’ sebagai penyerangankepada kelompok bajak laut atau
perompak “piracy” yang legal dengan tindakan
kekerasan.
Serangan
Amerika Serikat di Kuala Batu meninggalkan jejak-jejak bersejarah, yaitu; pertempuran
antara lokal dengan negara ‘super power’, jejak sejarah perdagangan dunia, dan melahirkan
berbagai cerita fiksi baik yang dirangkai dalam tulisan maupun lisan rakyat;
baik di Amerika Serikat maupun di Kuala Batu. Dari peristiwa serangan Amerika
Serikat terhadap Kuala Batu, di Aceh Barat Daya pada tanggal 6 Februari 1832,
disarankan beberapa hal:
1.
Perlu
pengkajian, penggalian, dan melestarikan nilai-nilai
historis yang berdimensi hubungan perdagangan internasional
tersebut dalam penguatan
jatidiri kita sebagai bangsa yang maritim besar,
karena di dalamnya mengandung nilai-nilai historis dan nilai-nilai edukatif
yang membanggakan dari sistem perdagangan internasional di masa lalu.
2.
Puing-puing
kota Kuala Batu sebagai jejak bersejarah sudah tidak terbantahkan, namun berbagai
tindakan vandalisme terhadap peninggalan bersejarah di kawasan ini telah
terjadi sejak lama
sehingga telah merubah bentuktinggalan Kuala Batu di Kabupaten Aceh Barat Daya. Apalagi toponim nama Melayu ‘Kuala Batu’ yang di dunia internasional disebut “Qualla Batto” telah
berubah menjadi nama
lokal “Kuala Batee”.
Kuala Batu hanya dikenal sebagai pelabuhan udara kecil yang terdapat di Aceh Barat Daya.
3.
Relokasiterhadap
meriam-meriam yang
sudah dipindahkandari benteng-benteng yang terdapat di Kuala Batuperlu
dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Aceh
Barat Daya terkait kepentingan historis,
edukatif, dan rekreatifdi masa kini dan akan datang.
4.
Perlu
penataan kembali kawasan Kuala Batu menjadi kawasan maritim bersejarah yang dilengkapi dengan
sarana edukatif
historis, rekreatif
dan pengembangan ekonomi berbasis kemaritiman di Kabupaten Aceh Barat Daya
mengingat daerah ini sangat potensial untuk mendapatkan kembali kejayaannya;
seperti yang pernah terjadi saat sistem perdagangan
internasional pada masa lalu sebelum dihancurleburkan Amerika Serikat pada tanggal 6 Februari 1832.
5.
Perlu
dilakukan pemetaan dan
penataan kembali ‘kawasan
maritim Kuala Batu’yang bersejarah dengan disinkronkan melalui pembangunan
pelabuhan Surien yang segera dilaksanakan oleh pemerintah Indonesia di Lama
Tuha, yaitu masih di lingkup kawasan Kuala Batu di Kabupaten Aceh Barat Daya
sehingga penguatan ekonomi kemaritiman di sana dapat kembali terwujud seperti
yang pernah terjadi di sana dari abad ke-18 hingga awal abad ke-19, meski pun
komoditasnya bukan lagi lada, tetapi sawit, biji besi dan lain-lain.
DAFTAR KEPUSTAKAAN
[1]Reid, Anthony, Asia
Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680,
(Jakarta: Yayasan Obor, 1992), hlm.9
[2] Reid, dalam Mohammad
Iskandar, Nusantara Dalam Kurun Niaga Sebelum Abad ke-19, dalam Naska,
Tradisi Lisan, dan Sejarah,( Jakarta: Jurnal Ilmu Pengetahuan Budaya Vol.7
Nomor 2, Oktober 2005), hlm.180.
[3]Ibid.
[4]Ibid, lihat juga Meilink Rulofsz, M.A.P, Asian Trade and European Influence in the Indonesian Archipelago
between 1500 and about 1630. 1962, hlm.172.
[5] Mohammad Iskandar, Nusantara Dalam Era Niaga Sebelum Abad ke-19,
dalam Naskah, Tradisi Lisan dan Sejarah,
Jakarta: Jurnal Ilmu Pengetahuan UI, hlm.183-184.
[6] H. Mohammad Said, Aceh
Sepanjang Abad, (Medan: Harian Waspada), hlm.337.
[7]Ibid.
[8]Ibid.
[9] Zakaria Ahmad, Negeri dan Rakyat Aceh Barat Daya dalam
Lintasan Sejarah menuju Daerah Otonom, (Blangpidie: Pemerintah Kabupaten
Aceh Barat Daya, 2007), hlm.3
[10]Finberg dan Skipp, dalam
Taufik Abdullah (ed), Sejarah Lokal di
Indonesia, Cet.5. (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2005)., hlm.15
[11] Taufik Abdullah, Sejarah Lokal di Indonesia, Cet. Ketiga
(Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1990), hlm.6.
[12] Louis Gottschalk, Mengerti Sejarah, Terjemahan Nugroho
Nutosusanto, (Jakarta: UI Press, 1969), hlm.32
[13] Sartono Kartodirdjo, Pendekatan Ilmu Sosial Dalam Metodologi
Sejarah, (Jakarta: PT Gramedia, 1992), Hlm.10.
[14] Sartono Kartodirdjo,
“Modernisme dalam Perspektif Historis”, dalam Buletin Fakultas Sastra dan Kebudayaan UGM. No.5, (Yogyakarta:
Fakultas Sastra, 1997), hlm.134.
[15]Zakaria Ahmad,2007, Negeri dan Rakyat Aceh Barat Daya dalam
Lintasan Sejarah Menuju Daerah Otonom, Blangpidie: Pemda ABDYA, hlm.83.
Lihat juga BPS, Aceh Barat Daya Dalam
Angka, Tahun 2005, kerjasama BPS dan Bappeda Aceh Barat Daya, hlm.3.
[17]Aceh Barat Daya Dalam Angka
Tahun 2005, hlm.3
[19]Ibid.
[20] Ibid.
[21]Ibid.
[22] Masyarakat Aceh Barat Daya juga
mempercayai pada awalnya juga telah ada
orang yang di Aceh umumnya disebut Mantee. Mereka sering dijumpai mugee tembakau yang melewati perjalanan
menelusuri sekitar Taman Nasional Gunung Lauser hingga akhir tahun 1970-an.Orang
Mantee bila bertemu orang asing langsung menghindar dan bersembunyi.
[23]Ibid.
[24] Hal ini masih kontroversi
karena berdasarkan penggalian arkeologis di Ceruk Mendale Aceh Tengah
menyimpulkan bahwa orang Gayo sudah ada sejak 3500 tahun SM.
[25]
Tentang penetrasi Belanda di Sumatera Barat dan konflik dengan penguasa Aceh di
sana dapat dilihat dalam M. Said, Aceh Sepanjang Abad, (Medan :
Percetakan Waspada, 1961), hlm. 384-400.
[26]
Tentang kedatangan atau perpindahan penduduk atau orang Aceh ke pantai barat
selatan, sehingga pernah menimbulkan konflik dan peperangan mengenai perebutan
wilayah dan permukiman dengan orang Aneuk Jamee yang datang dari Sumatera Barat
ke pantai Barat pada awal abad ke-18, lihat Hikajat Potjut Muhammad,
edisi G.W.J Drewes, Martinus Nijhoff, The
Hague, 1979, hlm. 116.
[27]Lihat
R. Hoesein Djajadiningrat “Critisch Overzicht van de in Maleische werken
vervette Gegevens over de Geschiedenis van het Soetanaat van Atjeh”, BKI,
1911, hlm. 263.
[28]John
Anderson, Acheen and The Port on The
North and East Coust of Sumatra, hlm. 159.
[29]
Sultan Ibrahim dua kali memerintah di Kerajaan Aceh Darussalam, pertama hingga
tahun 1836 dan periode kedua hingga tahun 1870.
[30] Zakaria Ahmad, (ed), Negeri dan
Rakyat Aceh Barat Daya Dalam
Lintasan Sejarah Menuju Daerah Otonom, Blangpidie : Pemda Aceh Barat Daya, 2007,
hlm.124. Mesjid (Meuseujid) dan
Madrasah (Meunasah) adalah sistem
pendidikan agama dan adat yang sudah ada sejak dulu.
[32]Wawancara dengan Mahmudin
tanggal 24 Februari 2012, di Blangpidie.
[33]Ibid, hlm.125, dalam istilah Aceh disebut Dayah, sedangkan dalam istilah Aneuk
Jamee disebut Dokyah.
[35]Zakaria Ahmad, (ed), Negeri dan
Rakyat Aceh Barat Daya Dalam
Lintasan Sejarah Menuju Daerah Otonom, Blangpidie : Pemda Aceh Barat Daya, 2007,
hlm.164
[36]Wawancara dengan Mahmudin di
Blangpidie, tanggal 25 Maret 2012.
[37]Ibid.
[38]Wawancara dengan Imuem Mukim
Mahmudin di Susoh tanggal 24 Februari 2012, dan lihat juga Op.cit., hlm.128
[39] Aceh Barat Daya Dalam Angka,
2003, dan op.cit,hlm.173
[40]Ibid.
[41]Aceh Barat Daya Dalam Angka
Tahun 2003, dan Op.Cit. hlm.
[43]Wawancara dengan Imuem Mukim
Mahmudin, di Susoh tanggal 24 Februari
2012.
[44]Ibid.
[45]Ibid.
[46]Ibid.
[47]Ibid
[48]Ibid.
[49]Ibid
[50]Ibid
[51] Nield Mulder, Kepribadian Jawa dan Pembangunan Nasional
(Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1986), hlm.38.
[52] Wawancara dengan Mahmudin di
Susoh tanggal 22 Februari 2012.
[54]Jean
Gelman Taylor, dalam Henk Schulte Nordholt, et.all
(ed.) Aceh: Narasi Foto, 1873-1930’, Perspektif
Baru Penulisan Sejarah Indonesia, Jakarta: KITLV, 2008, hlm.336
[55]Ibid,
[56]Husein Djayaningrat, dalam Ibid.
[57]Ibid.
[58]Lee Kang
Hing,The Sultanate of Aceh: Relations
with the British 1760-1824. Kuala Lumpur:Oxford University Press, dalam ibid, hlm.336.
[59]
K.F.H. van Langen, Op.cit., hlm. 210.
[60]Ibid.
[61]Ibid.
[63]Ibid
[65]John Anderson, Op.cit., hlm. 51. Canning mencatat bahwa
tidak semua pelabuhan kecil itu ikut membangkang. Singkil misalnya mengirim
wase kepada sultan berupa kapur barus dan kemenyan, senilai $3000 setahun.
Kepatuhan itu juga dilakukan oleh Barus, Tapaktuan dan Ligan. Namun mungkin ini
relatif.
[66]Tarling,
Nicholas, 1957, “Sumatra and The Archipelago”, dalam British Policy in the Malay Peninsula and Archipelago, 1824-1871,
JIMBRAS, hlm.1, mencatat bahwa suasana di Aceh pada tahun 1851 sedang kusut.
Tuanku Ibrahim ingin menggantikan menantunya Sultan Ali Iskandar Syah. Ketika
ia jadi pemangku. Namun keterangan ini tidak jelas karena Tarling tidak
menyebutkan sumber.
[67] Pelabuhan-pelabuhan yang
dikunjungi antara lain; Meulaboh, Tapaktuan, Teurumon, dan Singkil. Ada pula
pelabuhan yang didatangi langsung seperti Rigaih, Meukek, Labuhan Haji, Kuala
Batu, Susoh, Asahan, Said, M., Aceh
Sepanjang Abad, Medan; Waspada,
hlm.509
[68] M.Nur El Ibrahim, Selayang Pandang Langkah Diplomasi Kerajaan
Aceh, Jakarta: Grasindo, hlm.30.
[70] James Duncan Philip, Salem and the Indies; Story of the Great
Commercial Era of the City ,1884.
[71] Said, Op.Cit, hlm426.
[72]Dalam
versi lain disebutkan Pada
7 Februari 1831 kapal tersebut berlabuh di pelabuhan Kuala Batu, Aceh Barat
Daya. Ketika M. Endicot dan anak huahnya berada di
daratan, tiba-tiba kapal tersebut dibajak oleh sekelompok penduduk Kuala Batu.
Akan tetapi, dapat dirampas kembali oleh kapal-kapal Amerika Serikat
lainnya yang kebetulan
saat itu berada di perairan Kuala Batu. Namun mereka menderita kerugian sebesar US $ 50.000 dan tiga
anak buah kapal terbunuh.
[73] Peristiwa serangan atas kapal
itu kemudian menimbulkan sejumlah tanda tanya. Pasalnya, selama setengah abad
menjalin hubungan dagang di antara Kuala Batu dengan pedagang Amerika Serikat
belum pernah terjadi perompakan seperti itu di sana.
[74] M.Nur El Ibrahim, Op.cit.
[75]ibid
[76]ibid
[77]Jeremiah N
Reynolds, 1835, “Voyage of the United States FrigatePotomac”, New York: Harper and Brothers, 1835.
[78]ibid
[79] Putnam, Op.Cit, hlm.102
[81] Nicholas Tarling, ibid.
[83]Ibid
[84] M.Nur El Ibrahim, Op.cit.
[86] Kirk Munroe, A Son of Satsuma; or with Perry in Japan, dalam
the United Stated Attack on Kuala Batu,
dalam Sejarah Melayu, www.sabrizain@malaya.org.uk, diakses 18 Maret 2012.
[87] Said, Op.cit, hlm.429.
x
Komentar
Posting Komentar