BAJAK LAUT DI SELAT MALAKA DAN PERAIRAN PANTAI BARAT SELATAN ACEH ABAD 19


Pendahuluan            
Sebelum kedatangan kapal dagang ‘barat’ pada abad ke-16, di Selat Malaka dan bahkan Samudera Hindia sudah terdeteksi adanya aksi bajak laut. Bahkan pada masa Majapahit dan Samudera Pasai di Selat Malaka aksi bajak laut sudah terjadi di sana. Kedua kerajaan besar tersebut, disebutkan tidak sanggup mengatasi aksi bajak laut yang terjadi di sana pada masa kejayaannya. Namun, setelah Malaka jatuh ke tangan Portugis pada tahun 1511, dan Samudera Pasai menjadi bagian dari Aceh pada tahun 1528, Banda Aceh (Bandar Aceh Darussalam) muncul sebagai pusat keramaian baru dalam sentral pelayaran dan perdagangan nusantara dan internasional sejak awal abad ke-16.[1] Dengan begitu, secara politis keamanan laut di perairan tersebut saat itu juga menjadi tanggung-jawab kesultanan Aceh, termasuk di dalam penanganan keamanan perairannya dari aksi ‘bajak laut’.
Sejak tahun 1519, Portugis telah berupaya merebut bandar Aceh, seperti yang pernah dilakukan Gaspar de Costa di Kuala Krueng Aceh. Akibatnya, Costa ditangkap Sultan Aceh, namun kemudian ditebus melalui perantara Nina Cunapam sehingga syahbandar Portugis di Samudera Pasai itu berhasil dibawa ke Malaka.[2] Tahun 1521, orang-orang Portugis pimpinan Jorge de Brito juga mencoba mengacau di perairan Aceh. Namun dalam perang laut yang hebat itu de Brito tewas, sedangkan  yang lainnya dikejar sampai ke Pedir (Pidie) oleh pasukan Ali Mughayat Syah. Di Pedir, sultan mengendalikan situasi dan mengkonsolidasi kekuatan Aceh, sehingga orang-orang Portugis dan Sultan Ahmad, raja Pedir terpaksa mengundurkan diri ke Samudera Pasai.[3]
Mereka terus dikejar pasukan Aceh pimpinan Ibrahim (adik sultan) ke Samudera Pasai. Sebelum bantuan Aru sekutu Portugis tiba di sana, pasukan Aceh terlebih dahulu menguasai Samudera Pasai. Panglima Ibrahim berhasil merebut benteng Portugis di Samudera Pasai. Peristiwa lepasnya benteng Portugis di sebelah kiri Krueng Pasai kepada Aceh sejak Juni 1521 itu adalah yang pertama kali di nusantara.[4] Sejak saat itu, Aceh berhasil menguasai perairan pantai timur Sumatera di selat Malaka hingga pantai sebelah barat Sumatera. Namun, setelah wafatnya Sultan Iskandar Muda pada tahun 1636, Sultan Iskandar Tsani tampaknya tidak terlalu berambisi secara politis untuk merebut Malaka yang baru jatuh ke tangan Belanda.[5]
Kemudian sultanah (raja-raja perempuan Aceh) naik tahta yang dimulai dengan penobatan Tajul Alam Safiatuddin Syah. Beliau memerintah dari tahun 1641 sampai 1675. ‘Dinasti perempuan’ berakhir pada masa sultanah keempat Sultanah Kamalat Syah tahun 1699. Pada masa itu, kerajaan Aceh masih kaya raya. Namun, kemudian mengalami kemunduran yang disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya konflik internal karena perebutan kekuasaan oleh pihak laki-laki di lingkungan kerajaan ‘Aceh Lhee Sago’.[6] Selain itu, kebakaran perbendaharan kekayaan istana dan masjid raya yang diperkirakan terjadi pada masa pemerintahan sultanah ketiga Inayat Syah telah menguras perbendaharaan kekayaan sehingga kejayaan kesultanan menjadi menurun. Selain itu, politik ‘devide et impera’ terhadap wilayah taklukan Aceh yang sebelumnya setia kepada Sultan Aceh terus dilakukan Belanda, namun kesetiaan wilayah taklukan masih  dipertahankan kepada Aceh.[7]
Sejak saat itu, aksi ‘bajak laut’ di perairan Aceh sering terjadi, terutama di wilayah yang jauh dari pusat kekuasaan Aceh di Bandar Aceh. Aksi-aksi ‘bajak laut’ di perairan Aceh terjadi di wilayah nanggroe dan rantoe, seperti di pantai timur Sumatera maupun pantai barat Sumatera. Akibatnya, kemudian Belanda beralasan bahwa kesultanan Aceh sudah tidak mampu lagi menjaga keamanan perairannya dari aksi-aksi ‘bajak laut’ di wilayah dan taklukannya yang telah merugikan kapal-kapal pedagang asing di wilayah-wilayah perairannya tersebut.
Munculnya Stigma ‘Bajak Laut’ di Perairan Aceh
Munculnya kepentingan asing, seperti Inggris dan Belanda terhadap wilayah taklukan ‘nangroe’ dan ‘ranto’ mulai marak terjadi sejak abad ke-19. Mereka sama-sama mengincar kekayaan hasil bumi, seperti lada, emas dan lain-lain dari wilayah taklukan kesultanan Aceh sehingga membuat perairan Aceh menjadi daerah rawan konflik, baik yang terjadi di Selat Malaka maupun perairan barat Sumatera, akibat munculnya berbagai tindakan perompakan yang dilakukan ‘bajak laut’. Pada saat bersamaan, di dunia maritim internasional juga muncul permasalahan yang sama. Saat itu, sistem pelayaran dan perdagangan internasional sedang ramai oleh lalu-lintas kapal dagang dari Eropa ke koloni-koloninya dan sebaliknya. Saat itu, di Samudera Hindia juga muncul aksi-aksi ‘bajak laut’,  padahal sebelumnya mulai berkurang.
Sejarah kelompok bajak laut di dunia awalnya muncul dengan nama “Jolly Roger” yang dikenal hingga saat ini. Bajak laut ini, seperti kelompok Barbary Corsair di Afrika Utara yang telah menyerbu kapal-kapal Mediterania tahun 1520-1530. Kemudian muncul bajak laut ‘William Kidd’ dari Madagaskar. Selain itu, juga muncul kelompok bajak laut perempuan bernama Anne Bonny dan Mary Read di Karibia. Namun, setelah tahun 1720, aksi bajak laut mulai berkurang ketika angkatan laut Inggris telah menyebar ke seluruh dunia, termasuk ke Selat Malaka hingga perairan sebelah barat Sumatera.[8]
Pada masa Sultanah Safiatuddin Syah memerintah, ia jarang ‘blusukan’ sebagai kontrol hegemoni ke wilayah-wilayah taklukan. Hal ini menyebabkan penguasa-penguasa di wilayah taklukan, baik ‘nangroe’ dan ‘rantoe’ merasa ‘renggang’ dengan kerajaan Aceh. Di antara mereka ada yang mengadakan ‘kontrak gelap’ dalam perdagangan lada dengan para pelayar dan pedagang asing di wilayahnya, yang tentu saja mengurangi pendapatan wasee/cukai ke pusat kesultanan Aceh.
Saat itu, wilayah perairan dan taklukan Aceh juga menjadi seperti wilayah ‘tanpa hukum’. Kelompok ‘bajak laut’ memanfaatkan situasi dan kondisi tersebut. Mereka sering mengganggu pelayaran perdagangan dengan tindakan perompakan dan penyerangan di perairan Aceh, baik di selat Malaka maupun di sekitar Samudera Hindia.[9]
Di satu sisi, kesultanan Aceh harus mempertahankan kedaulatannya untuk mengimbangi Portugis, Inggris, dan Belanda. Sedangkan di sisi lain, Aceh juga harus mampu menertibkan kelompok ‘bajak laut’ yang terus bergerilya di wilayah perairannya. Namun, kepentingan kelompok bajak laut dinyatakan juga telah disusupi oleh kepentingan asing, seperti Belanda. Upaya penertiban terhadap ‘penyelewengan’ dan ‘bajak laut’ ini pernah dilakukan langsung oleh Tuanku Ibrahim ke pantai barat pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Syah (1824-1836).[10]
Stigma ‘Bajak Laut Asing’ di Perairan Aceh dalam Folklor
M.Junus Jamil dalam “Seminar Pekan Kebudayaan Aceh II” tanggal 21-25 Agustus 1972 menjelaskan tentang “Sejarah Keberadaan Kerajaan Lamuri”.[11] Dia menyebutkan, kerajaan Jaya didirikan oleh pengungsi kerajaan Indra Jaya yang berpusat di Bandar Paton Bie (Lhok Seudu) yang berpindah ke sebelah Gunong Geurutee untuk menghindari serangan bajak laut Tiongkok. Di tempat itu mereka bercocok tanam palawija, seperti; pala dan lada. Ia juga berkisah, migrasi penduduk kerajaan Jaya juga ada yang berasal dari Lamuri. Pada tahun 1024 Lamuri diserang Raja Rajendra Cola Mandala dari India. Menghadapi serangan itu, Lamuri membuat pertahanan di Mampreh dan penduduknya diungsikan ke Glee Weueng sehingga serangan dapat dipatahkan. Kisah itu disusun dalam ‘Hikayat Prang Raja Kula’.[12] Setelah perang usai, terjadi pepecahan. Akibatnya sebagian wilayah dapat direbut musuh, seperti Indra Jaya menjadi milik bajak laut Tiongkok yang dipimpin Liang Khie dan Laksamana O Nga. Mereka sampai beberapa generasi menguasai Seudu atau Panton Bie (Cantoli). Bajak laut Tiongkok yang telah menduduki kerajaan Indra Jaya menyerang kerajaan Indra Purba yang diperintah Maharaja Indera Sakti. Namun, bersamaan dengan masa itu, kerajaan Lamuri juga dimasuki bajak laut Tiongkok lainnya. Kelompok bajak laut itu dipimpin oleh perempuan bernama Nian Nio Lian Khi.
Mereka juga hendak menguasai Lamuri, namun mendapat perlawanan sehingga terjadi perang. Lamuri terdesak, namun saat itu tiba rombongan Syekh Abdullah Kan-an alias Teungku Lampeuneuen alias Syiah Hudam yang sedang berdakwah Islam ke sana.[13] Maharaja Indra Sakti mengizinkan rombongan ‘dakwah’ itu menetap di Mampreh. Pemimpin rombongan, Syekh Abdullah Kan-an alias Syiah Hudam menawarkan bantuan kepada raja Lamuri untuk menghadapi serangan bajak laut itu. Tawaran tersebut diterima Lamuri sehingga kemudian terjadi perang yang dimenangkan kelompok Syiah Hudam. Pimpinan bajak laut Nian Nio Lian Khi pun berdamai dengan Syiah Hudam, lalu  memutuskan memeluk agama Islam, dan begitu juga dengan pimpinan Lamuri Maharaja Indra Sakti beserta penduduknya juga memeluk Islam.[14]
Stigma ‘Bajak Laut’ dalam Film Rentjong Atjeh
Stigma ‘bajak laut’ ternyata masih melekat pada wilayah perairan Aceh paling tidak sampai pada masa Hindia Belanda (1940-an). Hal itu tampak dalam visualisasi di film ‘Rentjong Atjeh’.[15] Film ini diproduksi oleh Tahyar Idris yang dikenal sebagai The Teng Chun. Disebutkan, ia adalah seorang produser film Hindia Belanda keturunan Tionghoa. Film ini diproduksi tahun 1940, pada masa pemerintahan Hindia Belanda dan bergenre laga. The Teng Chun juga menyutradarai film ini. Ia juga pemilik perusahaan film ‘Java Industri Film’ (JIF). Dalam menggarap film ini, ia dibantu oleh beberapa saudaranya. Sedangkan untuk soundtrack lagu film dibuat oleh komposer Mas Sardi, di antaranya lagu; ‘Oh Ajah Iboekoe’ (Oh Ayah dan Ibuku) dan ‘Akoe Ta’ Sangka’ (Aku Tak Menyangka).[16]
‘Rentjong Atjeh’ dibintangi oleh Ferry Kock, Dewi Mada, Bissoe, Mohammad Mochtar (WD Mochtar) dan Hadidjah. Pada masa pemutarannya film ini menuai sukses yang besar. Film ini mengisahkan aksi balas dendam suatu kelompok terhadap kekejaman yang telah dilakukan oleh kelompok ‘bajak laut’ di Selat Malaka. Film ini menceritakan tentang bajak laut yang beraksi di perairan Selat Malaka. Bajak laut telah membunuh seluruh awak kapal dan penumpang. Namun, di sebuah kapal ada tiga orang anak yang masih bertahan hidup, yaitu; Maryam (Dewi Mada), Daud (Mohammad Mochtar) dan Rusna (Hadidjah). Dua kakak beradik ini berhasil melarikan diri ke hutan bangka (mangrove). Sedangkan Maryam berhasil ditangkap kelompok bajak laut. Ia dipaksa bertahan hidup dengan kapten bajak laut yang diperankan oleh Bissoe. Lima belas tahun kemudian, Rosna bertemu dengan Prajurit Ali yang diperankan Ferry Kock. Ali jatuh cinta kepada Rosna, sedangkan Daud abang Rosna jatuh cinta pada Maryam yang telah menjadi penari untuk kapten bajak laut. Ali dan Daud akhirnya sepakat untuk menuntut balas apa yang telah dilakukan oleh pemipmpin kelompok bajak laut tersebut.[17]
Rentjong Atjeh’ ditayangkan pada tahun 1940 di Theatre Sampoerna Surabaya. Film ini pernah ada termasuk ‘sound track’ dan posternya. Selain itu, film ini pernah ditayangkan di luar negeri, seperti di British Malaya (Malaysia). Film ini merupakan drama sejarah kebesaran bangsa Melayu yang pertama. Dialognya menggunakan bahasa Melayu. Keberadaan film tersebut, saat ini sudah tidak diketahui lagi. Namun, itu bukan hanya terjadi pada film ini saja, banyak film-film lain Indonesia yang diproduksi sebelum tahun 1950-an sudah banyak yang ‘hilang’.[18]
Stigma ‘Bajak Laut’ di Pantai Barat Selatan Aceh Abad Ke-19
Pada tahun 1778 wilayah pantai barat Aceh, yaitu Barus dikuasai Belanda, namun kemudian berhasil direbut kembali kesultanan Aceh. Akibatnya lalu-lintas  pelayaran perdagangan internasional di pantai barat menjadi ramai kembali. Ketika itu di sana muncul kelompok Sidi Mara yang mendukung kesultanan Aceh. Mereka sering menghalau kapal-kapal Belanda di perairan pantai barat.[19]
Pada tahun 1829, Sidi Mara berhasil mengusir Belanda ke Natal bahkan hingga ke Air Bangis ketika Paderi sedang melakukan perlawanan.[20] Akibatnya selama tiga tahun Belanda tidak tampak aktivitasnya di perairan wilayah tersebut. Pada tahun 1839, benteng pertahanan kelompok Sidi Mara di Barus berhasil direbut Belanda. Namun setelah itu, berhasil direbut kembali oleh Aceh dan juga pos-pos di sekitarnya yang dikausai Belanda juga diserang mereka. Namun setelah mendapat bantuan dari Padang dan Batavia, Belanda berhasil menyerang kembali Barus, Tapus, dan Singkil. Mereka mengklaim ketiga daerah tersebut bukan bagian dari wilayah taklukan Aceh, sehingga daerah tersebut dianggap tidak terikat dengan “Perjanjian Sumatera”.[21] 
Serangan ‘Bajak Laut’ terhadap Kapal Dagang Amerika  di Kuala Batu
Pada 7 Februari 1831 terjadi perompakan terhadap kapal dagang Amerika Friendship di Kuala Batu.[22] Kerajaan Aceh mengatakan serangan itu dilakukan oleh kelompok Lahuda Langkap yang difasilitasi Belanda. Namun, setelah peristiwa itu, kapal Dolphijn milik Belanda juga dirompak ‘bajak laut’ di Meukek. Namun Belanda tidak mau berseteru dengan Inggris, dan juga menghindari kemungkinan pecahnya perang dengan Aceh sehingga tidak berani mengambil tindakan atas serangan ‘bajak laut’ tersebut.[23]
Pada tahun 1860, kapal dagang Amerika telah mengangkut lada ke Boston dengan nilai seharga 17.000.000.- dolar. Separuhnya merupakan lada dari wilayah Aceh. Biaya pelayaran dan perdagangan yang murah serta kapal cepat milik Amerika sehingga mampu bersaing dengan Inggris dan Belanda dalam perdagangan di sana. Permasalahan ini merupakan hal lain bagi Inggris dan Belanda yang juga sama-sama sudah mengincar Aceh. Akibatnya Sultan Muhammad Syah (1823-1838) berada di bawah ‘tekanan’ Belanda dan Inggris, dan di sisi lain juga berusaha mengkaji hubungan perdagangan dengan Amerika di Aceh.[24]
Pembajakan kapal dagang Amerika milik Silsbee, Pickman, dan Stone tersebut diduga terjadi karena pelanggaran undang-undang perdagangan kepada Inggris atau Belanda. Sebelumnya telah dibuat perjanjian perdagangan yang ditandatangani Sultan Aceh dengan perwakilan Inggris pada tahun 1819. Perjanjian itu sebenarnya dibuat untuk menyingkirkan pelayar dan pedagang Amerika dari Aceh.[25] Ada ketidakjelasan pelaku pembajakan terhadap kapal-kapal dagang Amerika, antara yang dilakukan ‘bajak laut murni’ dengan ‘orang tak dikenal’. Hal ini merupakan permainan politik semata, karena perebutan pengaruh pelayaran dan perdagangan internasional lada di wilayah perairan pantai barat Aceh.
Bajak laut di perairan ini disebut ‘barat’ sebagai ‘Viking of the East’ karena tidak ada satu pun pelayaran dan kapal dagang yang aman dari ancaman perompakan di sana. Kekuatan ‘bajak laut’ tersebut karena posisi pantai yang strategis untuk bersembunyi dan berlindung di banyak tempat, seperti teluk dan muara sungai. Kelompok bajak laut hanya menampakkan diri ketika akan merompak secara berkelompok hingga 50 perahu dengan kecepatan tinggi. Mereka mengejar kapal dagang yang berlayar lambat karena muatan lada dan rempah yang penuh dari berbagai wilayah di perairan Samudera Hindia. Menurut mereka, ukuran perahu ‘bajak laut’ di perairan Aceh termasuk kecil, namun lajunya sangat cepat dan gesit. Perahu terdiri atas dua barisan dayung dengan layar lebar dan dilengkapi persenjataan. Ketika melakukan aksinya, mereka mengenakan ‘jubah merah’, ‘rantee’ (rantai), ‘rincong’ (‘keris’), dan ‘rudus’ (kelewang) yang diacungkan serta menggunakan pelontar batu api. Para ‘bajak laut’ Aceh dapat membunuh siapa saja, menyandera untuk ditebus, atau dijual sebagai budak.[26]
Pada bulan Februari 1831, kapal dagang Amerika Friendship berlabuh di Kuala Batu untuk mengisi kargo lada. Kapal ini saat itu membawa 17 awak kapal dan tiba di Kuala Batu 22 September 1830, dengan kapten kapal dikepalai oleh Charles Moses Endicott. Ia sudah sering pergi-pulang antara Kuala Batu dan pelabuhan Salem dengan memperoleh keuntungan yang besar. Setelah ia memuat stok lada yang sudah tersedia, kapal masih harus menunggu panen berikutnya pada Maret dan Juni tahun 1831, sehingga mereka menyingkir ke sebuah pulau kecil yang berjarak sejauh dua mil dari sana. Namun, serangan ‘bajak laut’ kemudian terjadi ketika kapal sedang memuat lada dan Endicott ketika itu sedang berada di daratan untuk menimbang lada.[27]
Kelompok ‘bajak laut’ menyusup di antara orang yang membawa lada dengan perahu ke kapal. Akibat serangan bajak laut itu, lima orang awak kapal dagang Amerika terbunuh dan yang lainnya berhasil melompat ke laut untuk menyelamatkan diri.[28] Akibat peristiwa itu, angkatan laut Amerika membombardir empat benteng pertahanan di Kuala Batu pada 6 Februari 1832, dan 300 penduduk Kuala Batu tewas dan sebagian meloloskan diri ke pedalaman di sekitar Kuala Batee dan Lama Inong.[29]
Serangan ‘Bajak Laut’ terhadap Kapal Dagang Amerika di Meukek
Pada 28 Agustus 1838, kapal dagang Amerika ‘Eclipse’ diserang oleh 24 orang ‘bajak laut tak dikenal’ di Meukek.[30] Serangan itu telah menewaskan kapten kapal Charles T.Wilkens. Awalnya Wilkens menyetujui permintaan kelompok ‘bajak laut’ itu untuk naik ke atas kapal, namun terlebih dulu senjata mereka di sita. Kemudian dikembalikan setelah diminta kembali oleh kelompok tersebut dan hal itu dipenuhi oleh Wilken.[31]
Beberapa saat kemudian ia ditusuk dan dibunuh oleh kelompok pembajak. Awak kapal lainnya juga diserang dan ditikam kelompok ‘bajak laut’ tersebut, tetapi mereka berhasil menyelamatkan diri dengan terjun ke laut. Sedangkan kapten kedua kapal ketika itu sedang berada di daratan Meukek untuk menimbang lada. Setelah peristiwa itu, awak kapal tersebut berhasil membawa kembali kapal ‘Eclipse’ ke Salem Boston, Amerika. Kelompok ‘bajak laut’ berhasil menjarah isi kapal tersebut sehingga menderita kerugian 26.000.- dolar, 4 peti opium, 2 peti pakaian, 2 buah jam emas, teropong dan sebagainya.[32]
Raja Meukek telah memberikan bantuan kepada awak kapal Amerika, ketika menerima laporan telah terjadi serangan kelompok perompak. Namun, tindakan penyerangan ‘bajak laut’ segera dibalas tanpa menunggu perintah presiden Amerika Serikat. Komodor Reid kapten kapal perang Amerika Serikat ‘Columbia’ yang sedang mendekati Srilanka terus melaju ke Aceh. Ketika tiba di Meukek, kota itu langsung dibombardir dengan kekuatan 30 perwira dan 300 pasukan marinir. Beberapa jam serangan dan gempuran meriam, kota Meukek terbakar dan jatuh beberapa korban. Selain itu, kapal dagang berbendera Perancis ‘van Yseghem’ juga pernah dirompak oleh ‘bajak laut’ di perairan Meukek.[33] Akibatnya, Perancis juga mengutus kapal perangnya bernama ‘La Dordogne’ untuk melakukan serangan balasan terhadap ‘bajak laut’ Meukek pada tahun 1839.[34] Hal itu dimaksudkan mereka untuk menghukum ‘bajak laut’ yang bersembunyi di sana.
Penutup
Beberapa faktor penyebab maraknya aksi ‘bajak laut’ di perairan Aceh pada masa lalu, antara lain; melemahnya kontrol hegemoni pusat kerajaan Aceh di Bandar Aceh terhadap wilayah taklukan dan kekecewaan kelompok tertentu di Aceh yang sering ditipu dalam perdagangan lada oleh para pedagang asing, seperti memanipulasi berat lada yang dijual penduduk.
Stigma ‘bajak laut’ di perairan Aceh merupakan provokasi Belanda karena Amerika dan bangsa Eropa lainnya ternyata telah menguasai sebagian perdagangan lada di pantai barat Sumatera pada abad ke-19. Kesultanan Aceh mengklaim, tindakan ‘bajak laut’ di perairannya ditunggangi Belanda yang mendanai dan mempersenjatai kapal Aceh yang telah dirampas mereka dan mempergunakan bendera kerajaan Aceh di dalam setiap aksinya.
Romantika perairan Aceh terus mengikuti dinamika politik, ekonomi, sosial dan budaya yang mempengaruhi orang Aceh di sepanjang masa. Saat ini, perairan wilayah pantai timur Aceh yang terkoneksi langsung dengan pelayaran nasional dan internasional di Selat Malaka merupakan jalur yang masih marak dengan aksi ‘bajak laut’ dan berbagai bisnis ilegal, seperti mobilisasi orang dari dan ke luar negeri secara ilegal, trafficking, illegal fishing, black market dan jalur narkoba internasional. Sedangkan di pantai barat, pesisir barat selatan Aceh kini cenderung sepi dari aksi ‘bajak laut’, apalagi setelah berakhirnya era lalu-lintas KPM berakhir tahun 1950-an dan juga era legal loging tahun 1980-1990-an.


[1]Banyak sumber sejarah yang menyebut demikian, di antaranya M.Said, Aceh Sepanjang Abad, (Medan: Waspada) 1981. Sumber lain, baik lokal maupun asing menyorot kedudukan kesultanan Aceh pada masa Sultan Ali Mughayat Syah, Alaudin al Kahhar, dan al Mukammal hingga Iskandar Muda sangat banyak meninggalkan kisah tentang keperkasaan dan kemajuan Aceh sehingga Johor, Pahang, dan Malaka pernah dikuasai Aceh sebelum mereka berserikat dengan penjajah Portugis, Belanda dan Inggris. Hal itu menunjukkan kehebatan Aceh sebagai salah satu kerajaan maritim yang kuat di barat nusantara pada abad 16 hingga 17.
[2]M.Said, Aceh Sepanjang Abad, (Medan: Waspada) 1981, hlm.158-172
[3] Ibid.
[4] Ibid
[5] Ibid.
[6] Ibid.
[7] Ibid.
[8] http//asal-usul.sofhaljamil.com.2 010/03/asal-mula-bendera-bajak-laut-jolly.html?m=1, diakses tanggal 2 Januari 2015
[9] Op.Cit.hlm.498-499
[10]Ibid.
[11]http;//atjehpost.co/m/read/118/Putroe-Neng-Antara-fakta-dan-legenda, diakses 02 Februari 2015
[12] Ibid.
[13] Ibid
[14] Ibid,
[16] Ibid.
[17] Ibid.
[18] Ibid.
[19]E.B. Kielstra, Sumatra’s Westkust van 1825-1832, BKI III, hlm.285 dan 315. Lihat juga  M. Said, Aceh Sepanjang Abad, (Medan; Waspada) 1981, hlm.498.
[20]Belanda menginvasi Padang yang dilaksanakan KNIL (Koninklijk Nederlandsch-Indiesch Leger) yang dipimpin Jan Jacob Roeps dan Andreas Victor Michiels pada tahun 1831.
[21]Belanda menyerang Barus dari orang Aceh dengan kekuatan 700 prajurit yang dipimpin oleh Letnan Bishscoff. Bendera Aceh berhasil direbut Belanda di benteng tersebut, namun orang Aceh berhasil merebut kembali. Bishscoff sendiri mendapat tetakan 11 luka sabetan pedang di kepalanya.  Orang Aceh meninggalkan senjata dan amunisinya dan segera mundur ke Tapus dan Singkil. Orang Aceh di Singkil dipimpin oleh Muhammad Arief dan terus dikejar Belanda hingga Singkil dikuasainya sejak tahun 1840.
[22]“Kuala Batu” adalah nama ‘kota pelabuhan’ pada masa lalu yang terletak di muara sungai Krueng Batee Kecamatan Kuala Batee Kabupaten Aceh Barat Daya Provinsi Aceh. Lokasinya berada di antara Gampong Pulau Kayu, tepatnya muara sungai Krueng Susoh dan Gampong Lama Tuha. Saat ini juga menjadi nama bandar udara di Kabupaten Aceh Barat Daya.
[23] H.M. Said, Op.Cit.
[24] Ibid.
[25] Ibid.
[26]Op.cit, hlm.470-533
[27] Ibid.
[28] Ibid.
[29] Ibid.
[30]Ibid, hlm.530.
[31] Ibid.
[32] Ibid.
[33] Ibid, hlm. 531
[34] Ibid.

Komentar

Postingan Populer