LAKSAMANA MALAHAYATI, KEDATANGAN HOUTMAN, DAN PEMBEBASAN ISKANDAR MUDA (1599-1607)
PENDAHULUAN
Tulisan tentang Laksamana Malahayati sudah banyak dibuat
oleh sejarawan lokal, nasional, dan juga asing. Kajian ini hanyalah pementasan kembali tentang Malahayati guna menyegarkan memori
kolektif tentang kepahlawanan Malahayati sehingga ditetapkan sebagai
pahlawan nasional Indonesia pada tahun 2017. Dari keempat sosok pahlawan yang baru ditetapkan
sebagai pahlawan nasional yang baru untuk melengkapi 169 pahlawan nasional Indonesia sebelumnya. Baru 12 di antaranya merupakan tokoh perempuan. Salah satu dari empat
Pahlawan Nasional dari tokoh perempuan yang baru ditetapkan itu adalah Laksamana Malahayati dari
Provinsi Aceh. Pengajuan beliau dilakukan oleh Kongres Wanita Indonesia (Kowani)
sejak 1 Juni 2017, hingga pada akhirnya ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional bersama tiga tokoh nasional lainnya di Istana Negara berdasarkan Keputusan
Presiden No.115/TK/Tahun 2017 tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional yang
ditandatangani oleh Presiden Joko Widodo pada tanggal 6 November 2017, atau bertepatan dengan
peringatan Hari Pahlawan ke-72.[1]
Perempuan Indonesia selama ini sering dianggap sebagai makhluk yang lemah terutama di panggung sejarah nasional kita. Ternyata, hal tersebut
tidak sepenuhnya benar, karena ada juga sumber yang menyebutkan bahwa perempuan yang pertama sekali membunuh orang Belanda di 'Indonesia', yaitu ketika masa awal mereka mendatangi
nusantara ini. Hal inilah yang membuat Belanda terpaksa mengkaji ulang hubungannya
dengan Kesultanan Aceh yang sempat merenggang karena peristiwa itu. Dalam
merealisasi rekonsiliasi hubungan tersebut, mereka membawa tiga orang delegasi Aceh ke Belanda.
Jejak historis ini mencatat Aceh sebagai bangsa
Asia Tenggara pertama yang berhasil menapakkan kakinya di Belanda. Bahkan menyisakan fakta
adanya makam utusan Aceh bernama Abdul Hamid yang wafat di Midleburgh tahun 1602. Di Banda Aceh pun
mereka meninggalkan jejak yaitu kerkhof atau kuburan militer yang konon terbesar di Asia Tenggara.[2]
Laksamana
Malahayati adalah anak dari Laksamana Mahmud. Kakeknya bernama Laksamana
Muhammad Said Syah, anak dari Sultan Salahuddin Syah yang memerintah Aceh tahun
1530-1539. Sedangkan buyutnya adalah Sultan Ibrahim Ali Mughayat Syah ‘founding father’ Kesultanan Aceh
Darussalam yang memerintah dari 1513-1530.[3]
Setelah suaminya Laksamana Zainal Abidin gugur
dalam pertempuran mengusir Portugis di Selat Malaka atau tepatnya di Teluk Haru,
Malahayati dipercaya Sultan Alaidin Riayat Syah Saiyidil al Mukammil menjadi
laksamana. Hal itu dilakukan untuk menjaga kestabilan sistem pemerintahan Kesultanan
Aceh Darussalam yang saat itu secara internal sedang bergejolak karena ada di antara anak
sultan yang sedang mengincar posisi yang di sandang ayahnya.
Mengapa Malahayati terlibat pembunuhan Cornelis de Houtman dan memenjarakan adiknya Frederick de Houtman beserta
rombongan orang Belanda di Aceh?. Mengapa kemudian ia membatalkan kesepakatan kerja sama
perdagangan dan penyewaan kapal milik Belanda yang akan digunakan Aceh untuk kontrol
hegemoni ke Johor di Selat Malaka?. Bagaimana perannya dalam merekonsiliasi
hubungan Aceh dengan Belanda setelah menerima misi perdamaian Belanda yang dipimpin Van
Neck dan bagaimana pula Malahayati menjembati diplomasi Aceh ke Belanda saat
sultan mengutus dua anggota delegasi diplomasi ke Belanda, beliau merekomendasikan tambahan seorang utusan yang dikhususkannya untuk mempelajari
kemajuan teknologi maritim Belanda saat itu.
Pengaruh Laksamana Malahayati tampaknya besar terhadap kebijakan Sultan Saiyidil al Mukammil. Ia berpengaruh dalam membangun
jaringan perdagangan dengan Inggris dan untuk mengimbangi kekuatan Portugis di
Selat Malaka. Peran Malahayati sangat penting dalam rangka menjaga
stabilitas Kesultanan Aceh. Tampak, ketika Sultan Alaidin Riayat Syah dimakzulkan oleh anaknya
sendiri, ia merekomendasikan pengampunan hukuman kepada Dharmawangsa
atau Iskandar Muda. Di mana, saat itu Aceh mulai kewalahan menghadapi Portugis yang telah
menduduki kembali beberapa kawasan Aceh.
Penunjukan
Malahayati sebagai laksamana dimungkinkan pada saat itu, karena sultan
kurang percaya pada laki-laki di internal kesultanan. Malahayati
adalah ‘tangan kanan’ kepercayaan Sultan Alaidin Riayat Syah Saiyidil al Mukammil.
Selain itu, ia memang memiliki kompetensi di bidang kemiliteran khususnya angkatan
laut karena lulusan pendidikan militer di pusat pendidikan militer Aceh Makhad Baital
Makdis yang dilatih oleh 100 orang perwira militer Turki.[4] Ketika
menjabat laksamana, ia pun membangun kekuatan maritim Aceh dan memimpin 1.000
pasukan janda korban perang Portugis dan terus bertambah seiring waktu menjadi
2.000 orang.[5]
Penulis Belanda Marie van Zeggelen dalam Oude Glorie, mengatakan Laksamana
Malahayati-lah yang menancapkan senjata rencong
ke dada Cornelis de Houtman.[6]
Sedangkan penulis Belanda lainnya Marie van Zuchtelen dalam “Vrokelijke Admieral Malahayati” sangat
menyanjung Malahayati. Menurutnya, pasukan inong
balee memiliki 2.000 prajurit perempuan dan ketika belum ada seorang perempuan
pun di dunia ini yang menjadi panglima armada seperti Laksamana Malahayati.[7]
KEDATANGAN HOUTMAN BERSAUDARA DAN PELECEHAN TERHADAP KESULTANAN
Tanggal
21 Juni 1599, armada dagang Belanda De Leew
dan De Leewin yang dinakodai John
Davis memasuki pelabuhan Bandar Aceh Darussalam. Kapal Belanda itu dipimpin dua
bersaudara; Cornelis de Houtman dan Frederick de Houtman. Mereka diterima oleh perwakilan
sultan, syahbandar dan wazir
(menteri). Sultan Alaidin Riayat Syah al Mukammil pun menerima tamu-tamu
Belanda di istana dengan upacara kebesaran dan jamuan makan siang serta dihibur
dengan tari persembahan. Upaya diplomasi itu disambut dengan baik oleh sultan dan
membuahkan kesepakatan berupa ijin mendirikan loji Belanda dan ijin berdagang
di perairan Aceh. Namun, diplomasi itu berujung permusuhan disebabkan hasutan
orang Portugis yang bertugas sebagai penerjemah sultan yang dipicu oleh orang
Belanda sendiri yang membuat onar dan keributan di Pasar Aceh.[8]
Cornelis dan Frederick de Houtman mengkhianati
kepercayaan sultan dan juga manipulasi perdagangan, mengacau, dan menghasut
sehingga timbul ketegangan di kalangan pedagang yang datang dari luar negeri
lainnya di Bandar Aceh. Puncak ketegangan hubungan antara Kesultanan Aceh
Darussalam dengan Belanda terjadi ketika sultan hendak menyewa kapal Belanda
dalam rangka memobilisasi pasukan Aceh yang akan menempati pos di Johor Semenanjung
Malaka.[9]
Sultan mengutus syahbandar menemui Cornelis dan
Frederick de Houtman untuk menyampaikan maksudnya. Mereka pada awalnya menolak,
tapi kemudian berubah pikiran dan setuju menghadap sultan tentang urusan
tersebut. Setelah Cornelis beruding dengan sultan, dicapai kesepakatan bahwa
sewa kapal akan dibayar dengan lada. Setengah dibayar di depan, sedangkan
setengah lagi dibayarkan setelah mobilisasi pasukan ke Johor.[10]
Beberapa
hari menjelang keberangkatan armada Aceh ke Johor, sultan memerintahkan Cut
Limpah menyelenggarakan kanuri rayeuk atau kenduri besar-besaran.
Sultan menjamu para pasukan yang akan diberangkatkan ke Johor. Setelah jamuan,
pasukan dan para pejabat istana serta tamu undangan, lalu sultan memerintah Cut
Limpah beserta beberapa pelayan untuk mengantarkan makanan pada pelaut Belanda
yang ada di kapal-kapal mereka. Pelaut Belanda menyambut gembira kiriman
makanan tersebut dan segera melahapnya sampai habis. Tidak berapa lama kemudian
beberapa pelaut Belanda muntah-muntah bahkan di antaranya ada yang pingsan.
Salah seorang perwira mengira mereka telah diracun. Ia memerintahkan dua orang
pelaut Belanda yang masih sehat untuk melaporkan kejadian tersebut pada
Cornelis dan Frederick de Houtman yang sedang berada di loji.[11]
Setelah informasi diperoleh, Houtman bersaudara sangat
murka, mereka langsung menuju kapal De Leeuw
dan mengutus seorang untuk menyampaikan hal itu kepada syahbandar. Setelah
mengetahui hal itu syahbandar segera menyampaikan pada Laksamana Malahayati. Mendapat
informasi, orang-orang Belanda membuat kekacauan hingga akhirnya Sultan
Saiyidil al Mukammil memerintah Malahayati menyelesaikan permasalahan tersebut.
Malahayati bersama syahbandar pun menuju kapal Belanda. Cornelis de Houtman dan
kawan-kawan menyambut kedatangan mereka dengan kasar. Cornelis menuduh sultan
sengaja meracuni mereka dengan maksud merampas kapal. Tuduhan keji itu membuat
Malahayati sangat marah dan menikam Cornelis dengan rencong di dadanya.
Kekacauan pun terjadi sehingga menelan korban dari keduabelah pihak. Di pihak
Belanda, sebanyak 68 orang tewas dan yang lainnya termasuk Frederick de Houtman
terpaksa menyerah dan ditawan. Mereka pun dipenjara selama dua tahun dan
kapal-kapal mereka juga disita. Selama ditahan, Frederick menyusun sebuah karya
Kamus Melayu-Belanda. Kamus itu merupakan Kamus Melayu-Belanda pertama tertua
di Asia Tenggara.[12]
Konon pelaut-pelaut Belanda muntah dan pusing setelah
menyantap hidangan kesultanan dengan bumbu rempah yang mengandung biji ganja,
ada juga yang mengatakan karena mabuk tuak atau air nira. Di Aceh, bumbu rempah
itu digunakan juru masak untuk memasak kari dan air nira adalah minuman suguhan.
Masyarakat Aceh dahulu terbiasa menggunakan rempah itu untuk menambah selera
makan dan membuat enak tidur dan juga minum-minuman penyegar air nira.
Sebaliknya pelaut-pelaut Belanda karena belum terbiasa menjadi pusing dan
muntah-muntah, bahkan ada yang pingsan karena terlalu banyak mengonsumsinya.[13]
PERANAN MALAHAYATI DALAM HUBUNGAN ACEH DENGAN BELANDA
Setelah peristiwa de Houtman bersaudara, pada tanggal
21 November 1600 datang misi Belanda lainnya ke Kesultanan Aceh. Mereka datang
dengan dua buah kapal dipimpin Paulus van Caerden.[14] Ternyata sebelum memasuki pelabuhan Aceh, mereka melakukan tindakan
yang ceroboh. Mereka menenggelamkan sebuah kapal dagang milik Aceh dan terlebih
dulu memindahkan segala muatan lada dari kapal tersebut ke kapal-kapal mereka
lalu mereka pergi meninggalkan pantai Aceh.
Setelah itu datang rombongan kapal Belanda pimpinan
Laksamana Jacob van Neck. Mereka tidak tahu kelakuan Van Caerden sebelumnya. Ketika
mendarat di ibukota Kesultanan Aceh pada tanggal 31 Juni 1601, mereka
memperkenalkan diri sebagai pedagang Belanda untuk berdagang dan membeli lada. Ketika
mengetahui mereka orang Belanda, Malahayati memerintahkan anak buahnya untuk menahan
mereka. Ia memberitahukan Van Neck dua buah kapal Belanda yang datang
sebelumnya telah menenggelamkan sebuah kapal milik Aceh dan merampas sejumlah
lada. Sebagai ganti rugi atas peristiwa itu, Sultan Aceh memerintahkan untuk
menawan setiap kapal dan orang-orang Belanda yang datang ke Aceh.[15]
Konflik
antara Aceh dan Belanda dirasakan orang-orang Belanda sebagai kerugian yang
sangat besar, terutama terhadap keamanan kapal-kapal dagang Belanda yang
melalui perairan sekitar Aceh, maupun dari hubungan perdagangan Belanda, karena
selat Malaka merupakan jalur lintas internasional yang penting dan selalu
diawasi oleh armada Aceh dan Portugis.
Saat itu, Aceh dan Portugis bermusuhan, tetapi
keduanya memegang peranan yang menentukan di Selat Malaka melebihi peranan
bangsa-bangsa lain. Selain itu, perairan pantai Barat Sumatera juga menjadi
perairan lalu-lintas internasional melalui Selat Sunda, di mana kontrol
hegemoni dilakukan oleh armada-armada Aceh karena itu bermusuhan dengan Aceh
dan Portugis jelas tidak menguntungkan Belanda.
REKONSILIASI HUBUNGAN ACEH-BELANDA
Pada waktu itu Kesultanan Aceh dengan bandar-bandar
dagangnya telah tumbuh menjadi pusat perdagangan di Asia Barat dan Sumatera
bagian Barat. Di pelabuhan-pelabuhan Aceh tidak hanya lada sebagai hasil produksi
Sumatera bagian Barat dan Semenanjung Malaya yang digudangkan, tetapi juga berbagai
hasil dari daerah-daerah lain di nusantara seperti rempah-rempah dari Maluku
dan barang-barang dari Filipina dan Cina. Bermusuhan dengan Aceh jelas sangat
merugikan Belanda, apabila melihat kepentingannya di Timur nusantara.
Atas pertimbangan tersebut diadakan upaya diplomatik
oleh pimpinan Belanda Pangeran Maurits dengan Kesultanan Aceh. Mereka mengirim
surat yang indah yang ditulis dalam bahasa Spanyol. Pada waktu itu bahasa
Spanyol menjadi salah satu bahasa internasional. Pangeran Maurits
mempersembahkan surat itu kepada Sultan Aceh yang disampaikan delegasi khusus
dipimpin Gerard de Roy dan Laurens Bicker. Selain itu, juga dipersembahkan
beberapa hadiah kepada Sultan Aceh yang dibawa dengan empat buah kapal, yaitu:
Zealandia, Middleburg, Laughe Brache dan de Sonne.[16] Kapal-kapal itu berangkat dari Zealandia pada tanggal 23 Januari 1601.[17]
Dalam perjalanannya ekspedisi ini menyempatkan singgah
di pulau Anjonan, salah satu pulau di Kepulauan Camaro, tidak jauh dari pantai
Timur Afrika. Persinggahan ini adalah untuk memperoleh surat rekomendasi dari
penguasa lokal untuk Sultan Aceh. Mereka sudah berhubungan baik dengan Sultan
Aceh. Rekomendasi ini dibutuhkan agar ekspedisi ini tidak mengalami kesulitan
untuk mengadakan negoisasi dengan Sultan Aceh. Delegasi ini pun berhasil
memperoleh surat rekomendasi yang ditulis dalam bahasa Arab sehingga mereka pun
tiba di pelabuhan Aceh tanggal 23 Agustus 1601.[18]
Delegasi
ini akhirnya mendapat sambutan baik sultan. Laurens Bicker menyerahkan surat
disertai pemberian berharga dari Pangeran Maurits de Nassau kepada Sultan
Alaidin Riayat Syah al Mukammil. Sultan menerimanya dan menyuruh juru bahasa untuk
membaca dan menerjemahkan isinya berupa permintaan agar hubungan antara Belanda
dan Aceh dapat dipulihkan kembali dengan melupakan segala yang tidak baik yang
telah terjadi sebelumnya. Mereka juga meminta pada sultan agar tidak
mendengarkan hasutan dari pihak lain yang dapat memecah-belah hubungan antara
Belanda dan Aceh.[19]
Sultan pun meminta Malahayati menjawab surat sekaligus
menanggapi permintaan yang terdapat dalam surat tersebut. Melalui juru bahasa
sebenarnya bangsa Aceh adalah bangsa yang cinta perdamaian. Namun apabila kondisi
terpaksa Aceh juga tidak menolak
pertempuran. Laksamana Malahayati menceritakan kepada Laurens Bicker dan
rombongan tentang sifat buruk Houtman bersaudara. Selanjutnya Malahayati juga menyebut
bagaimana Van Caerden yang merampas muatan lada dari kapal dagang Aceh dan kemudian
menenggelamkannya. Setelah mendegarkan penuturan Laksamana Malahayati, Bicker
menyatakan rasa kecewa dan menyesali perbuatan van Caerden dan berjanji
memenuhi tuntutan sultan Aceh untuk ganti rugi kapal yang dirompak van Caerden
sebanyak 50.000 gulden. Janji Bicker benar-benar
direalisasi dan uang sejumlah itu dibayarkan kepada pemilik kapal Aceh serta
para pedagang yang menjadi korban.[20]
Berkat dukungan Malahayati, Sultan Aceh memberi izin
kepada Belanda untuk berdagang di Aceh dan bersedia membebaskan Frederick de
Houtman.[21] Sultan pun akan mengirimkan delegasi balasan ke negeri Belanda untuk
bertemu Pangeran Maurits dan majelis wakil rakyat Belanda.[22]
Sultan Alaidin Riayat Syah memutuskan untuk mengirim
Abdul Hamid dan Mir Hasan ke Belanda. Namun Malahayati mengusulkan agar Sri
Muhammad, seorang perwira armada laut di bawah pimpinan Malahayati juga
diikutsertakan agar dapat mempelajari sistem kemaritiman di negeri Belanda.
Sultan mengabulkan permohonan Malahayati sehingga ketiga diplomat itupun
berangkat bersama-sama dengan Laurens
Bicker menuju Belanda. Delegasi Aceh tiba di negeri Belanda tanggal 20
Juli 1602.[23] Ketiga
utusan ini merupakan duta pertama dari sebuah kesultanan (kerajaan) di Asia
yang mengunjungi negeri Belanda yang saat itu sedang berperang merebut
kemerdekaan melawan Spanyol.
Belanda menerima utusan Aceh dengan suatu upacara
kenegaraan. Dalam upacara itu hadir tamu-tamu terhormat dari beberapa negara
Eropa yang menyaksikan pengakuan Kesultanan Aceh Darussalam. Negeri yang baru
saja lahir di bawah pimpinan Pangeran Maurits sebagai pendiri dinasti oranye
itu menjadi terangkat derajatnya di kalangan negara-negara Eropa saat itu. Selama
bersama Pangeran Maurits, kepada delegasi Aceh dipertunjukkan hasil-hasil
perang melawan Spanyol serta lokasi yang menjadi medan pertempuran. Delegasi
Aceh juga berkesempatan meninjau kota-kota dan kampung-kampung di Belanda. Namun
satu utusan Aceh, Abdul Hamid yang berumur 71 tahun meninggal di kota Midleburg
dan dimakamkan di tempat itu.[24] Delegasi
ini pulang ke Aceh dengan kapal dagang Belanda di bawah pimpinan Steven Van der
Heegen tanggal 18 Desember 1603, setelah lebih kurang 16 bulan berada di sana.[25]
Belanda
kemudian diizinkan membuka kantornya di ibukota Kesultanan Aceh Darussalam. Ketika
delegasi Belanda pulang kembali ke negerinya, mereka membawa surat rekomendasi
dari Sultan Aceh kepada Sultan Akbar di Cambay (Gujarat), Kalikut, Benggala dan
Sailon.[26] Akibatnya Belanda mendapat fasilitas dagang di bandar-bandar besar di
India. Pemberian surat rekomendasi itu menunjukkan bahwa hubungan antara Aceh
dan kerajaan-kerajaan tersebut sangat erat.
MENJEMBATANI HUBUNGAN ACEH DAN INGGRIS
Pada
tanggal 6 Juni 1602 James Lancaster, seorang perwira dari angkatan laut
Inggris, tiba di pelabuhan Aceh bersama rombongannya. Ia membawa sepucuk surat
dari Ratu Elizabeth I (1558-1603) yang dipersembahkan kepada Sultan Aceh,
Al-Mukammil.[27]
Setibanya di Aceh, sebelum bertemu dengan sultan, ia terlebih dahulu mengadakan
pembicaraan atau perundingan pendahuluan dengan Laksamana Malahayati.
Pembicaraan itu dilakukan dengan bahasa Arab dan Lancaster dapat mengerti
bahasa itu karena membawa penerjemah seorang Yahudi dari Inggris. Dalam
perundingan itu utusan Inggris tersebut mengemukakan perihal pentingnya
hubungan perdagangan antara Inggris dengan Aceh. Lancaster minta kepada Laksamana
Malahayati agar tetap memusuhi Portugis dan berbaik hati pada orang-orang
Inggris dan tetap membantu utusan-utusan Inggris ke Aceh.
Setelah perundingan selesai, Laksamana Malahayati minta
agar semua keinginan tersebut dibuat secara tertulis atas nama Ratu Inggris untuk
disampaikan kepada sultan. Setelah surat permohonan itu selesai dibuat, James
Lancaster baru diperkenankan oleh Malahayati menghadap sultan. Didampingi oleh
Laksamana Malahayati, sultan bersedia berunding dengan Lancaster sebagai wakil
Ratu Inggris. Hasil negosiasi antara sultan dengan James Lancaster membuahkan
sebuah surat pernyataan yang dikeluarkan oleh sultan yang isinya mengizinkan
kapal dagang Inggris memasuki pelabuhan-pelabuhan Aceh. Orang-orang Aceh harus
bersikap baik kepada anak buah kapal Inggris yang berlabuh dan memberikan
bantuan seperlunya.[28]
Keuntungan
kesultanan Aceh mengadakan perjanjian dan hubungan baik dengan Inggris karena
Portugis yang menguasai Malaka sedang bermusuhan dengan Inggris. Karena itu, apabila
Portugis berniat menyerang Aceh maka Inggris sesuai dengan hasil kesepakatan
bersedia membantu Aceh memerangi Portugis. Di samping itu, bangsa Inggris
selama ini belum pernah bertindak negatif dalam aksi perdagangannya di
pelabuhan-pelabuhan Aceh. Karena itu, sultan atas saran dan masukan dari Laksamana
Malahayati bersedia mengadakan hubungan baik dengan Inggris. Sultan hanya
memberi izin kepada Inggris untuk membuka kantor dagang, namun tidak untuk membangun
benteng yang menurut Inggris untuk menjamin barang dagangannya di pelabuhan
Aceh. Sultan menjamin, apabila pihak Inggris khawatir akan keselamatan barang
dagangannya maka sultan akan memerintahkan militer Aceh untuk mengawal kantor
tersebut. Sultan al Mukammil menyadari betapa bahayanya apabila telah berdiri
benteng asing yang berada dalam wilayah kekuasaannya. Prinsip ini tidak hanya
dipegang oleh Sultan al Mukammil, tetapi hampir semua sultan yang memerintah
Aceh.
Beberapa saat berada di Aceh, James Lancaster pun meninggalkan
Aceh. Keberangkatannya terpaksa diatur Laksamana Malahayati karena saat itu juga
datang 10 armada Portugis yang bermaksud membeli lada di Bandar Aceh.[29] Agar tidak diketahui Portugis, armada Inggris diberangkatkan pada malam
hari untuk menjaga keselamatannya. Kapal-kapal Portugis pun terpaksa ditahan di
pelabuhan selama 10 hari. Selama belum ada ijin sultan, kapal-kapal Portugis
belum dapat muatan lada. Kedatangan bangsa Belanda dan Inggris tidak
menyenangkan pihak Portugis, yang ketika itu sedang menguasai Malaka serta
berniat merebut Pulau Weh yang terletak di pantai Aceh untuk mendirikan sebuah
benteng di sana dan hal ini tentu saja sangat ditentang sultan dan Laksamana Malahayati.
KONTROL HEGEMONI, KUDETA SULTAN, HINGGA PEMBEBASAN ISKANDAR MUDA
Sultan Alaiddin Riayat Syah al Mukammil memiliki enam
orang anak. Empat di antaranya laki-laki dan dua perempuan. Di antara anak
laki-laki ada yang bernama Husin yang menjadi wakil sultan di Pidie dan Sultan
Muda yang tinggal bersamanya di Bandar Aceh. Pada awalnya Sultan Muda adalah perwakilan
sultan di Pidie, namun karena dinilai kurang cakap ditarik ke istana untuk mendampingi
sultan. Anak lainnya Sultan Husin, sebelumnya ditugaskan di Pasai lalu dimutasi
ke Pidie, sedangkan Sultan Muda yang sebelumnya di sana dipindahkan ke istana.
Sejak berada di istana, ia sangat berambisi menjadi
sultan lalu ia menciptakan intrik dengan dukungan Portugis. Ia berhasil
menggulingkan orang tuanya dan langsung memproklamasikan diri sebagai sultan
dengan gelar Sultan Ali Riayat Syah pada bulan April 1604.[30] Ketika kudeta terjadi, Laksamana Malahayati sedang ditugaskan oleh
Sultan al Mukammil ke Johor untuk kontrol hegemoni dalam rangka mengamankan
wilayah itu dari serangan Portugis.
Ternyata rencana penyerangan Portugis ke Johor
hanyalah tipuan yang diciptakan Sultan Muda merebut kekuasaan dari orang tuanya
agar tanpa perlawanan dari pasukan yang dipimpin Laksamana Malahayati. Malahayati
mendapat surat perintah penarikan kembali armada perang dari Johor, karena
setelah menunggu selama tiga hari tidak ada tanda-tanda adanya penyerangan dari
Portugis. Ia tidak menduga akan terjadi kudeta di istana selama ditugaskan ke
Johor. Ketika Malahayati berada di Johor, Sultan al Mukammil dipaksa oleh
anaknya Sultan Muda untuk menandatangani surat pengunduran diri serta menunjuk
Sultan Muda sebagai penggantinya. Kekuatan Sultan Al Mukammil telah dilumpuhkan
oleh pasukan yang mendukung Sultan Muda. Akhirnya, Sultan al Mukammil terpaksa
menandatangani surat pengunduran diri dan resmilah Sultan Muda menjadi Sultan Aceh
yang baru dengan gelar Sultan Ali Riayat Syah. Hal itu tidak saja ditentang
saudaranya Husin dan saudara lainnya dan juga oleh gerakan-gerakan kaum muda
yang dipimpin keponakannya sendiri, Dharmawangsa yang kemudian dikenal dengan Iskandar
Muda.
Sultan Ali Riayat Syah mencoba mengatasi keadaan
dengan jalan menyerang saudaranya Husin di Pidie dan menangkap Iskandar Muda
dan menjebloskannya ke dalam penjara. Masa pemerintahan Ali Riayat Syah adalah
masa yang penuh kekacauan yang disebabkan intrik-intrik politik maupun bencana
alam, seperti kemarau panjang yang mengakibatkan rakyat mengalami kelaparan. Menjawab
persoalan kelaparan tersebut Sultan Ali Riayat Syah mengundang pembesar
kepercayaannya dan penasehat kesultanan ke istana. Setelah bermusyawarah,
akhirnya semua menyepakati untuk mencari dan membeli bahan makanan dari
negeri-negeri lain di nusantara.
Penasehat mengusulkan Laksamana Malahayati memimpin utusan
untuk mencari bantuan bahan makanan dimaksud. Laksamana Malahayati berangkat
bersama sejumlah kapal menuju Asahan dan diteruskan ke Palembang, Jambi,
Banten, Cirebon dan terakhir ke Siam. Dua minggu kemudian, lima di antara kapal
yang dipimpin Malahayati kembali ke Bandar Aceh membawa beras dan bahan makanan
lainnya yang kesemuanya dibagi-bagikan kepada rakyat secara gratis. Sedangkan orang
kaya dan bangsawan diharuskan membayar dengan harga pasaran. Sekali pun
persoalan kelaparan dapat diatasi, namun konflik internal tetap terjadi karena ketidakpuasan
rakyat atas kudeta oleh Sultan Ali Riayat Syah. Ketidakcakapan Sultan Ali
Riayat Syah memimpin Aceh membuat ancaman Portugis terus berlanjut.
Kondisi kurang kondusif di lingkungan Kesultanan Aceh
membuka peluang bagi daerah-daerah taklukan untuk memisahkan diri dan bertindak
sendiri-sendiri sebagai negara merdeka. Sementara itu, Portugis melihat situasi
di pusat Kesultanan Aceh itu sebagai suatu kesempatan untuk menyerang Aceh
sehingga dalam bulan Juni 1606 armada Portugis di bawah pimpinan Alfonso de
Castro yang sedang dalam perjalanan dari Goa ke Malaka mencoba menyerang Aceh
dan mampu merebut sebuah benteng Kesultanan Aceh yang lokasinya berada di
pantai.
Iskandar Muda yang ketika itu masih dalam penjara
memohon grasi pada sultan untuk dilepaskan. Permohonannya dikuatkan oleh alasan
yang direkomendasikan Laksamana Malahayati yang menyebutkan bahwa Iskandar Muda
sanggup memimpin pasukan Aceh untuk melawan Portugis. Akhirnya, Sultan Ali
Riayat Syah pun mengabulkan permintaan Malahayati tersebut. Saat Iskandar Muda dilepaskan
dari penjara, ia bersama Laksamana Malahayati segera mengatur strategi dalam
mengerahkan pasukannya. Gudang Portugis yang sempat dibangun di Kilometer 10
Bandar Aceh Darussalam berhasil dikepung dan persenjataan mereka pun berhasil dirampas
sehingga Portugis terusir kembali dari pantai Aceh. Berkat bantuan Laksamana Malahayati
juga, Iskandar Muda berhasil menurunkan Sultan Ali Riayat Syah dari tahta Kesultanan
Aceh. Sultan Iskandar Muda adalah tokoh yang cakap dan mendapat persetujuan
dari orang-orang besar dan juga mendapat rekomendasi dari para alim ulama. Akhirnya,
Iskandar Muda pun diangkat menjadi sultan di Kesultanan Aceh Darussalam dengan
gelar Sultan Iskandar Muda Perkasa Alam pada tahun 1607.[31]
Setelah itu peranan Malahayati nyaris tidak terpantau
lagi dalam kegemilangan sejarah Aceh pada abad ke-17. Namun kisahnya akan terus
dikenang oleh memori kolektif orang Aceh sehingga penetapannya sebagai Pahlawan
Nasional Indonesia pada 10 November 2017 perlu dirayakan. Meski pun Malahayati
telah sangat lama dimakamkan di Krueng Raya, Kecamatan Mesjid Raya Kabupaten
Aceh Besar, namun peranannya pada awal abad ke-17 telah mengharumkan Aceh mata
internasional.
Penutup
Laksamana Malahayati merupakan sosok perempuan yang
gagah di medan pertempuran, dan tangkas menggunakan senjata serta penguasaan
strategi maritim istimewa. Ia pandai berdiplomasi dan memiliki wawasan jauh ke
depan. Dengan kebijakan dan kecakapannya ia menyelesaikan intrik internal di
Kesultanan Aceh. Ia sangat loyal pada sultan dan keluarganya maupun kepada
pasukan yang dipimpinnya.
Sultan
al Mukammil sangat bergantung pada Laksamana Malahayati. Hampir semua keputusan atau kebijakan yang
ditetapkan sultan, telah terlebih dahulu dimusyawarahkan dengan Malahayati.
Bahkan, banyak hal-hal yang tidak menjadi pertimbangan sultan pada awalnya,
namun atas usul atau saran Malahayati disetujui oleh sultan, seperti usulan
mengikut-sertakan Sri Muhammad dalam delegasi Aceh ke Belanda menjumpai
Pangeran Maurit serta usulan untuk menerima utusan Ratu Inggris karena alasan
Malahayati bahwa bangsa ini dapat memberi keuntungan bagi Kesultanan Aceh dalam
upaya memerangi Portugis yang sedang bermusuhan dengan Aceh dan mengincar
wilayah-wilayah Aceh. Ia juga yang memperkuat permohonan pembebasan Iskandar
Muda kepada Raja Muda agar segera dilepaskan dari penjara agar dapat melawan
Portugis yang mulai meunyerang dan menguasai Aceh ketika itu. Setelah Raja Muda
alias Sultan Ali Riayat Syah dimakzulkan, Sultan Iskandar Muda pun naik tahta
yang membawa Aceh ke pucak kejayaan hingga tahun 1626.
Kehebatan Kesultanan Aceh awal abad ke-17 melahirkan
tokoh perempuan yang hebat tidak hanya sebatas legenda tetapi juga fakta. Hal
ini memberikan catatan historis pada kita bahwa Aceh pada masa lalu memberikan
peluang dalam menempatkan perempuan setara dengan laki-laki. Catatan ini membuktikan
bahwa kemampuan seorang perempuan untuk menjadi pemimpin dan bahkan pemimpin tertinggi
militer sekelas laksamana. Akhirnya, Laksamana Malahayati pun diangkat sebagai
Pahlawan Nasional Indonesia yang merupakan perempuan Indonesia ke-13 yang dinobatkan
sebagai Pahlawan Nasional pada di tahun 2017.
[2]Informasi ini diperoleh dari
Ridwan Aswad, Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh dan lihat juga di https://bandaacehkotamadani./pemakaman-kerkhof-peutjoet/. diunggah 31 Agustus 2012
diakses 1 Oktober 2017.
[3]Rusdi Sufi, “Laksamana Keumalahayati” dalam Ismail
Sofyan, Wanita Utama Nusantara, (Jakarta:Jayakarta Agung Offset, 1999)
hlm. 32.
[4]A.
Hasjmy, dkk. (ed.), 50 Tahun Aceh
Membangun (Banda Aceh: MUI, 1995), hlm. 9
[6]A.Hasjmy,
“Peranan Wanita Aceh Dalam
Pemerintahan dan Peperangan”, Makalah pada Forum Yayasan Pecinta Sejarah di Jakarta, Sabtu, 6
Februari 1988, hlm. 12.
[8]H. Mohammad Said, Acedh Sepanjang Abad jilid I, cetakan
keempat, (Medan : Waspada), hlm.186-196
[9]Ibid.
[10]Ibid.
[11]Ibid.
[13]Mengenai makanan atau minuman
suguhan Kesultanan Aceh lihat juga ibid, hlm.180.
[14]Rusdi
Sufi, Op.Cit. hlm. 35.
[15]Zakaria Ahmad, Sekitar Keradajaan Atjeh Dalam tahun 1520-1675, (Medan
: Monora, 1972), hlm. 56.
[16]Tuanku
Abdul Jalil, “Sejarah Singkat Laksamana Keumalahayati” Makalah, pada seminar Sejarah Masuk dan
Berkembangnya Islam di Aceh dan Nuasantara pada tanggal 25-30 September 1980 di
Aceh Timur, hlm. 3.
[18]Rusdi Sufi (ed.), Biografi Pejuang-Pejuang Aceh, (Banda Aceh:
Dinas Kebudayaan Provinsi NAD, 2002), hlm. 29 ; lihat juga Zakaria Ahmad, Op.Cit, hlm. 58.
[20] Zakaria
Ahmad, Ibid. hlm. 58, dan Rusdi Sufi,
Ibid. hlm. 35.
[21] Denys Lombard, Denys Lombard. 1991. Kerajaan Aceh Zaman Sultan
Iskandar Muda (1607-1636). Alih aksara Winarsih Arifin. (Jakarta: Balai
Pustaka, 1991), hlm. 30-31.
[22] Rusdi
Sufi, (ed) Op.Cit, hlm.
35.
[23] Zakaria
Ahmad, Op.Cit. hlm. 58.
[24]Rusdi
Sufi (ed.), Op.Cit, hlm. 31.
[25]Zakaria
Ahmad, Op.Cit, hlm. 59
[27]Rusdi
Sufi, Loc.Cit. hlm.37.
[28]Zakaria Ahmad, Op.Cit, hlm. 60-61.
Komentar
Posting Komentar