GUNONGAN DAN PINTO KHOP
Pada masa Sultan Iskandar Muda (1607-1636), di Bandar
Darussalam dibangun sebuah Taman Sari Gunongan Aceh. Gunongan dibangun oleh
Sultan Iskandar Muda untuk memenuhi permintaan permaisurinya yang menggemari
dan senang dengan gunung-gunung seperti yang biasa disaksikan di daerah asalnya
Pahang, salah satu negara bagian di Malaka.
Dulu, Gunongan ini terletak di tengah-tengah sebuah taman
yang sangat indah. Luas taman tersebut kira-kira 1000 depa, di dalamnya
terdapat tanaman bunga-bunga dan buah-buahan beraneka rupa serta sebuah kolam
ikan. Taman itu dinamakan Taman Gairah. Di sekitar taman mengalir sebuah sungai
yang dikenal dengan nama Krueng Daroy. Di sekitar taman ini terdapat sebuah
bangunan yang bernama Pinto Khop.
Pinto Khop, yaitu pintu keluar dari Istana menuju taman yang
melewati Krueng Daroy. Di sekitar Pinto Khop sekarang telah dibangun Taman
Putroe Phang yang dijadikan taman kota, selain Tamansari dan lain-lain.
Pada masa Pemerintahan Ratu Safiatuddin di dekat Gunongan
didirikan sebuah bangunan yang bemama Kandang Gunongan. Kandang Gunongan dipakai
sebagai tempat makam suaminya yang bemama Sultan Iskandar Thani, yang pernah
menjadi sultan sejak tahun 1637 - 1641. Setelah meninggal Sultan Iskandar Thani
kedudukannya digantikan oleh permaisurinya bemama Ratu Safiatuddin. Waktu
dibangun Kandang Gunongan ini sangat indah berukir-ukir dan banyak bagiannya
dilapisi dengan emas yang dirancang oleh tenaga ahli.[1]
Taman Sari dan Gunongan Aceh tersebut sampai sekarang masih
terdapat di Banda Aceh, tepatnya di tepi Krueng Daroy, Kampung Kleng, Kelurahan
Sukaramai, Kecamatan Baiturrahman. Pada masa kebesaran Kerajaan Aceh Bandar
Darussalam mempunyai angkatan perang yang tangguh. Kekuatan yang terpenting
berupa kapal-kapal galley yang dimiliki oleh armada lautnya dan pasukan gajah
yang dimiliki oleh pasukan daratnya. Jumlah kapal yang dimiliki oleh armada
laut pada waktu itu ada 600 kapal dan 100 kapal galley yang ditempatkan di
pelabuhan-pelabuhan besar seperti di bandar atau pelabuhan dekat Kota Bandar
Darussalam, Daya dan Pedir. Seratus kapal yang tersebut terakhir adalah
kapal-kapal yang berukuran besar yang dapat mengangkut 600 hingga 800 orang
penumpang.
Augustin de Beaulieu yang telah menyaksikan sendiri
kapal-kapal galley itu, menyatakan bahwa kapal-kapal itu besarnya tiga kali lebih
besar daripada kapal-kapal yang dibangun di Eropa pada masa itu. Selain besar,
kapal-kapal Galley itu juga mempunyai tempat menembak di haluan depan yang
dilapisi dengan kepingan-kepingan emas murni.[2]
P.J.
Veth, profesor etnologi dan geografi di Universitas Leiden Belanda menulis karya
berjudul “Vrouwen Regeringen in den
Indische Archipel” (Pemerintahan Wanita di Kepulauan Nusantara). Satu hal
yang menarik menurut Veth adanya kekuasaan kaum wanita dalam pemerintahan yang
ternyata pernah berlangsung selama hampir 60 tahun, kekuasaan yang dilaksanakan
oleh empat orang wanita (sultanah) secara berturut-turut dari tahun 1641-1699 M.[3]
Ketika
Sultan Iskandar Muda mangkat pada tahun 1636, menantunya Iskandar Thani (suami
Safiatuddin Syah) dinobatkan menjadi sultan. Namun, pada tahun kelima
kepemimpinannya (1641) baginda mangkat dan belum dikarunia seorang anak.
Selanjutnya, Safiatuddin dinobatkan sebagai sultanah yang memimpin kerajaaan
Aceh (1641-1675).
Menjelang
penobatannya timbul pertentangan di kalangan pembesar di Aceh. Hal ini
disebabkan Sultan Iskandar Thani tidak memiliki putra dan pertentangan
kelayakan seorang perempuan menjadi pemimpin dalam pandangan Islam. Setelah
melalui musyawarah dan ikut campurnya ulama terkemuka yaitu Teungku Abdurrauf
As Singkili (Syiah Kuala) yang menyarankan pemisahan antara masalah agama
dengan pemerintahan. Akhirnya Safiatuddin Syah dinobatkan menjadi Sultanah perempuan pertama.
Sultanah
Safiatuddin memerintah selama sekitar hampir 35 tahun (1641-1675). Pemerintahan
yang begitu lama tentulah dengan segala kebijaksanaan dan kemampuan yang
dimiliki seorang wanita Aceh-Bugis. Sebaliknya selama pemerintahnya sultanah terus
menerus dirongrong oleh para tokoh kalangan istana yang tetap tidak setuju akan
kepemimpinan seorang wanita.
Namun,
kenyataannya setelah Sultanah Safiatuddin mangkat kepemimpinan jatuh lagi ke
tangan wanita yaitu Sultanah Nurul Alam Naqiatuddin Syah (1675-1678). Pada masa
kepemimpinan pemerintahan Sultanah Safiatuddin kehidupan kerajaan yang paling
menonjol terlihat pada kemajuan di bidang ekonomi.
Pada
masa pemerintahan Sultanah Nurul Alam Naqiatuddin Syah terjadi perubahan di
bidang struktur administrasi pemerintahan yaitu di luar daerah yang langsung
diperintah oleh Sultanah, daerah Aceh Besar dibagi dalam daerah besar yaitu tiga
bagian daerah besar yang sedikit banyaknya menyerupai segi tiga di sekeliling
daerah yang langsung diperintah oleh Sultanah dan karenanya dinamakan Sagoe
(Aceh Sagoe).
Sehubungan
dengan jumlah mesjid-mesjid yang terdapat di daerah tersebut, maka
bagian-bagian itu dinamakan Sago XXII, XXV dan XXVI para kepalanya dikenal
dengan nama Panglima Tiga Sago. Pada awalnya pengangkatan para Panglima Tiga
Sago itu bukan dimaksudkan supaya mereka melakukan pemerintahan sendiri-sendiri
terhadap sesuatu negeri, tetapi lebih banyak untuk melakukan tugas pengawasan
perintah-perintah pemerintah pusat yang disampaikan kepada para Uleebalang telah dijalankan sebagaimana
mestinya. Selain itu, para Kepala Sagi dapat bertindak sebagai panglima pada
masa terjadi peperangan seperti diartikan degan perkataan panglima itu.[4]
Kepemimpinan
Sultanah Nurul Alam Naqiatuddin Syah hanya berlangsung sekitar tiga tahun
karena mangkat dan digantikan oleh Ratu Inayat Zakiatuddin Syah (1678-1688).
Selama kepemimpinan para Sultanah ini kerajaan Aceh mulai memudar kharismanya
disebabkan pergolakan politik pro dan kontra terhadap kepemimpinan wanita.
Terakhir Sultanah Kamalat Zainatuddin
Syah bertahta pada tahun 1688-1699. Pro
dan kontra terhadap kepemimpinan wanita akhirnya melengserkan Sultanah
Kamalayat Syah. Kepemimpinan beralih kembali kepada pria dengan diangkatnya Badrul Alam Syarif Hasyim
Jamaluddin menjadi Sultan.
Saat
itu pemerintahan dipimpin oleh Sultan Badrul Alam Syarif Hasyim Jamaluddin
(1699-1702) yang juga anggota adalah seorang perutusan Mekah. Setelah tiga
tahun memerintah, baginda disuruh turun dari tahtanya oleh rakyat. Setelah
peristiwa tersebut empat sultan keturunan Arab lainnya diangkat sebagai Sultan
Aceh hingga tahun 1726, yaitu :
1.
Sultan
Perkasa Alam Syarif Lamtui Ibnu Syarif Ibrahim (1702-1703), keponakan Sultanah
Kamalat Syah. Pada bulan Juni 1703 baginda didepak dari tahta oleh Jamalul Alam
Badrul Munir.
2.
Sultan
Jamalul Alam Badrul Munir putra Sultan Badrul Alam Syarif Hasyim Jamaluddin.
Pada bulan Agustus 1703 Jamalul Alam Badrul Munir baru mendapatkan pengakuan
sebagai Sultan sehingga berkuasa mulai 1703-1726. Di bawah pemerintahannya daerah Batubara (kini di Provinsi Sumatra
Utara) memisahkan diri dan baginda dipaksa lari oleh pemberontakan umum pada tahun 1726.
3.
Sultan
Johar Alam Amaddin Syah (1726) mangkat setelah 20 hari menjadi sultan.
4.
Sultan
Syamsul Alam (Wan di Tebing) kemenakan Jamalul Alam Badrul Munir, beberapa
minggu setelah dinobatkan diturunkan kembali pada akhir Desember 1726.
Pada
bulan Juni 1727 dengan suara bulat ketiga Panglima Sagi memilih Maharaja lela
Melayu menjadi Sultan dengan gelar Sultan Alaiddin Ahmad Syah (1727-1735) putra
Abdurrahim Maharaja Lela Bin Zainal Abidin (Teungku di Lhong) bin Daeng Mansur
juga yang bergelar Teungku Chik Di Reubee mertua Sultan Iskandar Muda.Dengan
demikian pemerintahan di Aceh kembali dipangku oleh sultan berdarah
Aceh-Bugis.
Masa
pemerintahan Sultan Alaiddin Ahmad Syah (1727-1735) hingga Sultan Alaiddin
Johan Syah (1735-1760) selalu dihadapkan pada pertentangan yang dilancarkan
oleh Sultan Jamalul Alam Badrul Munir
yang ingin berkuasa kembali. Namun, kedua Sultan yang hidup pada masa yang
berbeda memiliki visi yang sama dalam menjalankan roda pemerintahan diantaranya
mereka dapat membuka hubungan perdagangan dengan Inggris dan Perancis tanpa
memberi izin kepada mereka membangun benteng.[5]
Sultan Alaiddin Johan Syah (Pocut Uek) digantikan oleh
Sultan Alaiddin Mahmud Syah (1760-1781).
Salah satu keberhasilannya adalah kenegerian Barus kembali kepangkuan Aceh pada
tahun 1778 yang sebelumnya diduduki oleh Belanda. Sultan Alaiddin Mahmudsyah
berturut-turut digantikan oleh Sultan
Alaiddin Muhammad Syah (1781-1795), Sultan Alaiddin Alam Syah (1795-1824),
Sultan Muhammad Syah pada 1824-1836, masa-masa ini adalah semakin gencarnya
infiltrasi barat (Inggris) ke Pulau Sumatera. Sultan Muhammad Syah diganti oleh
Sultan Alaiddin Ibrahim Mansyur Syah (1836-1870). Pada masa pemerintahan beliau
satu persatu daerah kekuasaan Aceh di luar Pulau Sumatra jatuh ke tangan
Belanda di antaranya Barus dan Nias.
Sultan Alaiddin
Ibrahim Mansyur Syah digantikan oleh Sultan Alaiddin Mahmud Syah (1870-1874).
Pada tahun 1873 pecah perang Belanda di Aceh yang dimulai dengan agresi militer
Belanda I yang menjadi awal perang yang memunculkan keheroikan masyarakat Aceh.
Agresi Belanda terhadap Aceh menjadi awal kesengsaraan hingga pupusnya Kesultanan
Aceh. Akibat perang yang memakan waktu lebih dari 40 tahun menghancurkan Aceh dalam
bentuk fisik berupa lambang-lambang kerajaan seperti istana (Dalam), mesjid raya. Namun juga berakhir
dengan pengasingan sultan yaitu Sultan
Alaiddin Mahmud Daud Syah pada tahun 1903.
[1]Muhammad
Ibrahim. Sejarah Daerah Propinsi Daerah Istimewa Aceh, (Jakarta: Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional, Proyek
IDSN, 1991), hlm. 81.
[2]
Denys Lombard, Kerajaan Aceh Masa
Iskandar Muda.., hlm. 202.
[3]
Rusdi Sufi dalam Ismail Sofyan (ed.), Wanita
Utama Nusantara Dalam Lintasan Sejarah, (Jakarta : Jayakarta Agung Offset,
1994), hlm. 42.
[4]Tentang
federasi pemerintahan di Kerajaan Aceh ini dapat dibaca dalam Van Langen, K.F.H
“De Inrichting van het Atjehsche
Staatsbestuur Onder Het Sultanaat” BKI 37,1888. dan buku Mohammad Said, Atjeh Sepandjang Abad Jilid I,
[5] Ibid.,
Lihat juga Mohammad Said, Atjeh Sepandjang Abad, Medan: Pengarang
sendiri.
Komentar
Posting Komentar